Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Dosa


__ADS_3

Salat Qianzy sampai terbata-bata karena kakinya masih sakit. Namun, Qianzy tetap melakukan dengan segenap hati. Sebab, salay akan batal jika dilakukan tidak khusu'. 


Selepas salat, rupanya Ustadzah Fitri sudah menantinya di sampingnya. Sedari mengayunkan rotan panjang sebagai senjatanya ketika mengajar ngaji. 


"Salat dzuhurnya mana?" tanya Ustadzah Fitri dengan ketus. 


"Em, kan sudah lewat waktunya. Apakah aku harus melakukannya juga?" tanya Qianzy dengan wajah tanpa dosanya.


"Hafalin surah Al-kafirun dan tulis surah dalam huruf latin sebanyak 1 buku! Sekarang juga!" tegas Ustadzah Fitri. "Hapalan kamu bisa setor seminggu kemudian!" imbuhnya. 


"Ta-tapi aku, ustadzah aku--"


"Setelah itu kamu menemui Ustad Husain. Sejak tadi dia mencarimu. Tapi, kamu harus menyelesaikan hukuman dari saya terlebih dahulu. Paham?"


Qianzy tak mampu melawan. Ia hanya bisa mengangguk. Kemudian, segera melepas mukenanya dan mengambil buku beserta pensilnya. Qianzy masih belum banyak menghafal surah pendek karena masih belajar ilmu dasar agama. Maka dari itu, ia harus mencontek lewat Al-Qur'an terjemah terlebih dahulu. 


"Apa-apaan ini? Artinya orang kafir-kafiran?" 


"Hufh, asem, dasar ustadzah killer! Nyebelin!" umpatnya. 


Surat Al Kafirun merupakan surat ke 109 di dalam Alquran yang terdiri dari 7 ayat. Surat yang masuk golongan surat Makkiyah karena turun di Mekah ini memiliki banyak keistimewaan. Lalu, tahukah kamu tentang keistimewaan surat Al Kafirun?


Surat yang berisi tentang toleransi  keimanan dan peribadahan ini diturunkan saat Nabi Muhammad SAW diiming-imingi kekayaan melimpah oleh kaum kafir.


Kekayaan tersebut diberikan bertujuan agar Nabi Muhammad SAW mau menyembah berhala. Nabi Muhammad SAW pun lantas menolaknya secara halus. Surat Al Kafirun adalah salah satu surat yang paling sering dibaca oleh Nabi ketika melaksanakan salat dua rakaat setelah tawaf. 


Keistimewaan lainnya yang dimiliki surat Al Kafirun ini yaitu sebagai surat yang ditakuti iblis. Hal tersebut juga tercantum dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang artinya sebagai berikut:


"Tidak ada dalam Alquran yang lebih menakutkan bagi iblis daripada Qul Ya Ayyuhal-Kafirun, sebab ia adalah tauhid dan pembebas dari kemusyrikan."


Qianzy tidak habis ide meski dirinya belum paham tentang huruf hijaiyah. Ia terus saja mencoba menghafalkan ayat tersebut melalui suara yang ia unduh melalui internet. Hanya dengan seperti itu, dirinya bisa menghafal sekaligus menyalin ayat tersebut ke buku sesuai perintah Ustadzah Fitri. 


"Hih, kenapa nggak hafal mulu, sih? Ngeselin banget, dah!" keluhnya. 


"Kalau ngapalin lagunya Boyband Korea bisa lancar banget, kenapa yang ini susahnya minta ampun?" lanjutnya memukul kepalanya sendiri.


Datanglah hikmah. Dia bersedia membantu Qianzy agar cepat menghafal surah tersebut dengan lancar. Metode penghafalan yang diajari Hikmah adalah, menulis sebanyak-banyaknya dulu, kemudian akan hafal dengan sendirinya. Kemudian membaca latinnya dengan benar. Lalu, pasti bisa menghafalkan, cara yang Hikmah berikan lebih mudah karena memang Qianzy belum fasih membaca Al-Qur'an. Sebab, Qianzy baru belajar iqra' jilid 1.


"Aku pakai caranya Hikmah saja kali, ya? Aku baca latinnya dulu saja!" Qianzy  gembira, seperti mendapat sebuah cahaya dalam kegelapan. 

__ADS_1


****


Sudah hampir maghrib, Qianzy masih belum juga menghadap Ustadzah Fitri. Ia sengaja naik ke atas genting agar bisa menghafal dengan baik ditemani angin sore yang sepoi-sepoi.


"Andai aja, aku bisa bebas keluar. Pasti aku bisa jalan-jalan dengan Mas Abid keliling kota ini," gumamnya.


"Tapi, bagaimana kalau aku ha--" 


Belum sempat Qianzy bergumam, duduknya oleng karena banyak semut di atas gentingnya. Akibatnya, ia terjatuh karena terjengkang ke bawah. Beruntung atau memang takdir, Husain dan beberapa santri lainnya sedang berjalan melewati rumah Abid tersebut. 


"Woy, tolong!" teriak Qianzy. 


Dengan sigap, Husain menangkap tubuh Qianzy. Posisi Qianzy sekarang ada dalam gendongan Husain. Mereka saling menatap, terasa seperti alunan lagu mengiringi pandangan mereka. 


Deg! 


Deg! 


Deg! 


Jantung Qianzy berdebar, napasnya mulai berat. Memang Qianzy ini memiliki rasa terhadap Husain, hanya saja belum menyadarinya. 


"Ustadz, belum mahram," bisik Malik yang berdiri di sampingnya. 


"Kamu kenapa bisa di atas genting itu? Jika jatuh bagaimana? Apa yang bisa saya jelaskan kepada, Kyai? Bisa-bisanya jatuh, kalau saya tidak ada di bawah menangkapmu, bagaimana?" terlihat dari sorot mata Husain sangat khawatir Qianzy. 


"Em, aku hanya sedang menghafal dan ngadem di atas sana. Aku dihukum oleh Ustadzah Fitri," jelas Qianzy. 


"Kok bisa? Hapalan apa? Kamu kan baru belajar alif, ba, ta. Lagian sih kamu bandel!" Husain rupanya sedang kesal karena Qianzy tidak hadir siang tadi untuk belajar.


Malik sudah terlambat untuk ke masjid. Ia meminta izin untuk pergi lebih dulu ke masjid. Husain hanya mengangguk dan membalas salam dari Malik tanpa menolehnya.


Malik ini adalah santri yang paling dekat dengan Husain, ia paham betul dengan sikap Husain itu. Dalam pikirannya, ia yakin jika hubungan keduanya lebih dari sekedar guru ngaji dan muridnya saja. 


"Aku … aku ketiduran sampai ashar. Maaf," ucap Qianzy menunduk malu. "Aku siap menerima hukuman apapun, tapi tolong tunggu sampai aku menyelesaikan hukuman yang diberikan Ustadzah Fitri, ya," sambungnya. 


"Hukuman apa saja yang kamu terima dari Ustadzah Fitri?" tanya ustad Rizky masih ketus. 


"Menghafal surah Al-Kafirun dan menulisnya dalam satu buku." jawab Qianzy menunjukkan hukumannya. 

__ADS_1


Qianzy meminta Husain untuk menyimak hafalannya. Awalnya Husain menolak dengan keras karena sebentar lagi sudah memasuki waktu berdoa. Tetap saja, bersama dengan Melodi membuatnya selalu dekat dengan dosa.


 


"Mau, ya? Bentar saja, calon suamiku …." celetuk Qianzy dengan mengedipkan kedua matanya. 


"Kita belum menikah, mengapa kamu memanggil Saya seperti itu, Qian? Jika ada yang mendengar dan salah paham, bagaimana?" tegus Husain. 


"Ustadz juga kan udah melamarku. Salah apa diriku?" Qianzy merajuk. 


"Iya, tapi kan hanya kita yang tahu. Bahkan sem--" ucapan Husain terhenti kala melihat raut wajah Qianzy muram. 


"Ya, maaf," jawab Qianzy menundukkan kepalanya. "Simak, ya? Bentar saja, kok," desaknya lagi. 


Memang Husain tak pernah bisa berkata tidak kepada Qianzy. Ia menyanggupi apa kemauan gadis berusia 19 tahun itu dengan terpaksa. Mereka mencari tempat duduk yang ramai santri putra-putri, agar tidak menimbulkan fitnah. Meski sedang duduk bersama saja sudah membuat orang salah paham kepada mereka.  (Padahal setelah maghriban pula! Berduaan dosa!) 


Selesai menghafal, Qianzy melihat Husain sedang memejamkan matanya. Ternyata, Husain sampai tertidur ketika menyimak gadis yang ia sukai sedang menghapal. 


"Shodakallahul'adzim …." 


"Ustad a--" 


"Eh, kok merem. Apakah dia tidur? Beneran dia tidur, dong?" bisik Qianzy di samping wajah Husain. "Dia bahkan tidur sambil tidur,"


"Uh, masyaAllah gantengnya. Tidur saja seganteng ini. Kasihan sekali mendapatkan murid menyusahkan seperti aku, maaf ya, ustadz." 


"Eh, dia bakal lebih kasihan jika menikah dengan Anjani. Orang jahat seperti Anjani, tidak pantas untuknya, 


"Tapi, aku lebih parah dari Anjani, apa aku pantas? Lantas, apa yang dia sukai dariku?" Qianzy terus menatap wajah Husain dengan seksama. 


Bila ditabuh bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh. Bunyinya "dugg duggg dug"


Tanda bahwa waktunya untuk memulai seruan panggilan untuk umat islam di dunia. Husain terbangun dari tidurnya. Ketika ia membuka matanya, yang dilihat adalah wajah Qianzy yang terlihat berseri. Sangat dekat sekali, sampai-sampai, hanya mata, hidung dan bibir saja yang Husain lihat. 


Pandangan matanya turun ke bibir mungil Qianzy. Mata Husain. telah ternodai sebelum berbuka. Mata indah Qianzy juga membuat jantungnya berdegup kencang, seolah hendak lepas dari porosnya. "Astaghfirullah hal-adzim, kenapa dengan aku ini? Semakin hari, aku semakin menyayanginya," batin Husain sangat tersiksa jika duduk berdua dengan Qianzy. 


"Ustadz! Assalamu'alaikum!" teriak seseorang dari kejauhan. 


Husain belum menoleh, malah Qianzy yang menoleh. Tanpa sengaja bibir Husain menyerempet pipi mulusnya Qianzy. Qianzy langsung menoleh dan meminta maaf karena sudah melakukan hal tak terpuji. 

__ADS_1


"Saya … sa-saya yang seharusnya minta maaf. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum!" pipi Husain merona, merah mereka.


Di dalam hatinya, dia terus beristighfar tiada henti. Memohon ampun karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukannya. Padahal itu unsur tidak kesengajaan yang dilakukan oleh Qianzy. 


__ADS_2