
"Kenapa hatiku sakit sekali saat kamu bentak aku gini, Ustadz?" kata Qianzy menggenggam terus tangannya dan meletakkan di bagian depan tubuhnya.
"Maafkan saya, maaf jika perkataan saya membuatmu sakit hati," sesal Husain, semua itu ia katakan karena merasa kesal saja.
"Bukan sakit hati, sih. Kek mana ye, hatiku ini kek ... retak gitu, kretek, kretek gitu suaranya. Sakit tapi nggak tau sakitnya gimana?" jelas Qianzy dengan polos. Ia tak tahu jika dirinya sudah mulai ada rasa dengan Husain.
Mereka saling diam, kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Husain sengaja mengajak Qianzy ke jalan yang berbeda, karena takut ada santri lain yang lihat dan menimbulkan fitnah di antara keduanya. Sampailah mereka ke kamar Husain. Saat itu, Husain masih berpikir bagaimana cara membawa Qianzy kembali ke rumahnya.
"Saya akan mengantarmu sampai ke aula santri putri, kamu ikuti saya!" perintahnya.
"Oughey!" jawaban Qianzy sungguh sangat membagongkan.
Mereka berjalan-jalan sebentar di lapangan pesantren sambil bercengkrama. Ustadzah Rani tak sengaja melihat mereka. Membuatnya heran dengan Husain dan Qianzy yang sering kali tepergok olehnya jalan berdua saja.
"Setahu aku, Ustadz Husain ini tipe lelaki yang jarang sekali suka mengobrol dengan perempuan yang bukan mahram,"
"Jangankan ke perempuan lain, dengan Anjani yang katanya sudah dijodohkan dengannya saja, jarang sekali terlihat bersama. Ada apa, ya?" gumam Ustadzah Rani heran.
Bahkan ustadzah Rani saja yang mencuri kedekatan antara Qianzy dan Husain. Semua orang tahu, jika Qianzy dan Husain baru mengenal, memang. Namun, dalam diri mereka ada suatu ikatan spesial tersendiri.
"Ustadz, kamu pernah nggak, sih? Hidup, tapi bagai tak hidup. Lalu, menangis tanpa mengeluarkan air mata. Pernah merasa begitu nggak?" tanya Qianzy.
"Kehidupan ini tak hanya terdiri dari dua sisi. Hitam dan putih, terang dan gelap. Bagi sebagian orang, meyakini kehidupan punya lebih banyak sisi," celetuk Husain dengan suara lembutnya.
"Hidup itu seperti teka-teki, setiap kali kamu berusaha keras untuk memecahkannya, itu malah akan menambah menjadi lebih rumit … Jadi, alangkah baiknya jika kita jalani saja dulu." tukas Husain.
__ADS_1
Husain juga menceritakan tentang kesabaran yang dimiliki Rasulullah kepada Qianzy. Sebelumnya, Qianzy sama sekali tidak tahu dengan kisah Rasul maupun Nabi. Namun, dengan sabar Husain menceritakannya kepada gadis yang disukainya itu.
KISAH KESABARAN NABI MUHAMMAD SAW.
Dikisahkan, setiap kali Nabi Muhammad SAW melintas di depan rumah seorang wanita tua, Nabi selalu diludahi oleh wanita tua itu.
Suatu hari, saat Nabi Muhammad SAW melewati rumah wanita tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Merasa penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya itu merasa heran, mengapa ia menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.
Setelah itu Nabi Muhammad SAW mendapatkan jawaban bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang jatuh sakit. Bukannya bergembira, justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Nabi mau menjenguknya.
Ketika wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, ia pun menangis di dalam hatinya, "Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku."
Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, wanita tua itu lantas bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?"
Nabi Muhammad SAW menjawab, "Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya."
Lalu, dengan penuh kesadaran, ia berkata, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu." Lantas wanita tua itu mengikrarkan dua kalimat syahadat, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."
Kisah itu mengingatkan Qianzy dengan apa yang ia alami dengan kakaknya. Bedanya, Anjani sudah tahu apapun tentang kakaknya. Tapi, dengan jahatnya ia ingin menghancurkan reputasi kakaknya di depan semua orang karena kehadiran dirinya di pesantren yang dianggap Anjani merusak hubungan perjodohannya dengan Husain.
"Tapi Ustadz,"
"Aku bukan seorang Nabi, hanya manusia bisa yang baru saja menjadi seorang muslimah. Aku nggak bisa sebaik Nabi itu,"
"Bagaimana cara biar aku bisa ikhlas ketika ada seseorang menghina dan memfitnah keluarganya padahal orang itu awalnya akrab banget, gitu?" Qianzy kembali teringat akan tuduhan Anjani padanya.
__ADS_1
Dalam kehidupan sehari-hari khususnya di lingkungan masyarakat, tidak sedikit orang yang selalu membicarakan keburukan orang lain. Padahal sudah jelas dalam ajaran islam perilaku seperti itu tidak dianjurkan.
"Tak perlu banyak yang kamu lakukan untuk siapa sahabat kamu itu. Kamu cukup, sabar, mendoakan kebaikannya dan terima dengan ikhlas," tutur Husain.
"Cuma fitnah, 'kan? Bukan kebenarannya?" lanjut Husain bertanya.
"Ini bukan masalah fitnah, tapi tuduhan ini membuatku sakit hati, Ustadz. Mas Abid tidak ada maksud menentang perjodohanmu dengan Anjani. Tapi, kau saja jatuh cinta padaku, jadi ... tuduhan Anjani itu, salah, 'kan?" Qianzy menggerutu dalam hati.
"Haduh, aku pusing!" seru Qianzy tiba-tiba.
"Ada apa? Kamu sakit?" tanya Husain.
"Haha tidak, aku biasa saja. Dah sana, Ustadz pulang saja. Besok pagi insyaAllah aku datang belajar. Sana pergi, buruan!" usir Qianzy.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," dengan kebingungan, Husain pun pergi meninggalkan Qianzy di depan rumahnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Hati-hati dan mimpi indah ye...."
------
Kisah Rasulullah dan tuturan kata Husain terus saja terngiang di ingatan Qianzy. Ia telah menemukan seseorang yang mampu membuatnya berhijrah dan tetep bisa istiqomah.
"Memang tidak salah semua santri mengidolakannya. Dia aja orangnya lembut dan ramah gitu," gumam Qianzy.
"Aku harus kejar dia! Iyah, dia jatuh cinta padaku, makanya aku harus kejar dia. Biar ilmu agamaku juga makin nambah dan bisa membanggakan Mas Abid!" serunya dalam hati.
__ADS_1
Qianzy masuk kedalam rumah dengan mengendap-endap seperti maling sana. Ia tidak ingin kakaknya sampai tahu, bahwa dirinya diantar pulang oleh Husain.
Sayang, rupanya Abid sudah menunggunya di sofa dengan tatapan mencurigai. Abid mempertanyakan mengapa Qianzy bisa diantara oleh Husain sampai di depan rumah di waktu yang sudah larut. Adapun dimalam mau siang hari, saat Qianzy keluar, pasti selalu berakhir bersama dengan Husain.