
Di siang hari, Qianzy siap belajar bersama dengan Husain. Itu kali pertama baginya belajar langsung dengan Husain tentang agama. Ditemani dengan Hikmah, Qianzy terlihat sedikit semangat dalam belajar.
"Ustad Husain!"
"Woy, Ustadz Husain!" teriaknya.
"Astaghfirullah hal'adzim, dia ini memang tidak memiliki unggah-ungguh! Dasar bodoh!" umpat Anjani mengikuti kegiatan baru Qianzy.
Dengan nafas terengah-engah, Qianzy dan Hikmah berjalan mendekati Ustadz Husain yang sudah menunggunya di mushola kecil itu.
"Assalamu'alaikum, biasakan kalau bertemu dengan orang lain itu ya salah dong, Qian," tegur Husain.
"Wa'alaikumsallam, huh huh huh, bentar. Aku … tak nafas dulu," ucap Qianzy mengangkat telapak tangannya.
"Ada apa? Cepat katakan, kita sudah terlambat salat dzuhur," Husain tiba-tiba saja bersikap dingin kepada Qianzy. "Belajar selesai salat saja," lanjutnya dengan tatap mata wajah datar.
Qianzy merasa kesal karena dicueki oleh Husain. Hikmah pun mengajak Qianzy ke aulia santri putri. Di sana, semua santri menatap Qianzy dengan tatapan aneh. Membuatnya sedikit kesal karena terus diperhatikan tanpa ia melakukan sesuatu yang salah.
"Iya terima kasih aku memang cantik. Tapi tolong, berhenti menatapku, aku merasa enak jadinya," celetuk Qianzy menyombongkan diri.
"Ataghfirullah hal'adzim, kamu terlalu percaya diri banget, sih?" ujar salah satu santri.
"Biasalah!" seru Qianzy dengan santai.
Salat dzuhur segara dimulai, Qianzy menempati saf yang sudah di sediakan oleh sahabatnya. Sementara Anjani masih merasa kesal dengan Qianzy yang kian hari semakin dekat dengan Husain maupun Ustadzah Rani yang sangat berpengaruh di pesantren. Selalu merasa semuanya mendadak berubah setelah Qianzy datang.
Usai salat dzuhur, seperti biasa para santri akan mengikuti madrasah yang sudah di jadwalkan. Untuk seusia Qianzy dan juga Hikmah, mereka sedang mendengarkan ceramah dari Ustadzah lainnya. Kemudian, datanglah ustadzah Fitri, menemani Ustadzah Rani yang memanggil Qianzy saat itu.
"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu sebentar Ustadzah," salam Ustadzah Fitri.
"Wa'alikumsallam warahmatullahi baraokatuh, silahkan Ustadzah Fitri, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ustadzah Rani.
"Saya hanya mau menyampaikan pesan dari Kyai Abid, kalau mbak Qianzy harus ikut Ustadz Husain keluar hari ini," kata Ustadzah Fitri dengan lemah lembut.
Tentu saja ucapan Ustadzah Fitri membuat semua santri dan juga ustadzah lainnya terkejut. Belum ada sejarahnya seorang Ustadz atau santri putra lain yang memiliki keperluan dengan seorang Ustadzah ataupun santri putri secara pribadi. Kecuali jika mereka memang ada hubungan sesuatu dengan izin Kyai dan Ustadz senior lainnya.
"Ada apa ini? Kenapa Ustadz Husain memanggil dan mengajak Mbak Qian keluar?"
"Aku juga tidak tahu,"
__ADS_1
"Ada hubungan apa diantara mereka,"
"Apakah mereka adalah calon?"
"Ya Allah, aku belum siap patah hati …."
Banyak dari mereka yang berargumen sendiri. Mereka lebih terkejut ketika Qianzy menolaknya. "Malas! Aku nggak mau ketemu dengannya!" tolak Qianzy.
"Ustadzah lihat sendiri, 'kan? Jadi heboh, makanya aku akan menolak. Suruh dia datang ke rumah saja lah!" lanjutnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Astaghfirullah, dia menolak?"
"Dih, sok cantik banget sih, kamu. Ustadz Husain juga pasti tidak hanya mengajakmu. Dah sana pergi, ganggu ceramah Ustadzah lain aja deh!" kesal Anjani dengan tatapan merendahkan.
Dengan tatapan datar, Qianzy akhirnya pergi menemui Husain yang sudah menunggunya di mobil. Sampai di sana, Qianzy terus saja menengok dan mencari seseorang. Sebab, Hikmah tidak bisa ikut menemaninya menemui Husain.
"Biasakan ucap salam terlebih dahulu, kalau bertemu dengan orang lain?" tegur Husain.
"Oh, assallmu'alaikum," salam Qianzy terlambat.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Husain. "Kamu cari siapa?" tanyanya.
"Bukankah ini bukan yang pertama kali kita hanya berdua? Lagian kita juga nggak ngapa-ngapain, 'kan? Kenapa harus mikirin orang lain, jika di hadapan Allah saja kita tidak melakukan sesuatu hal yang buruk?" jawab Husain dengan dinginnya.
Tanpa mempedulikan omongan Qianzy, Husain memacu mobilnya. Mereka keluar dari pesantren menuju kantor pos sesuai yang mereka ingin tuju. Sesampainya di sana, Husain hanya mengkode Qianzy untuk segera turun. Saat itu, Qianzy hendak mengirim sebuah paket ke Jakarta untuk Mbak Lia dan juga sang Bibi yang selalu ada untuknya.
"Dari mana Ustadz tau kalau aku mau kirim barang?" tanya Qianzy sebelum turun.
Husain masih diam. Segera meminta Qianzy turun dengan bahasa matanya. "Cih, Ustadz punya mulut, setidaknya gunakan untuk bicara!" cetus Qianzy turun dari mobil.
"Bisu kagak, sok yes banget, sih. Ustadz pikir, Ustadz ini ganteng apa?" umpatnya.
"Tapi emang ganteng, sih."
Setelah beberapa menit, Qianzy baru saja kembali. "Assalamu'alaikum, Ustadz!" salam Qianzy dengan suara mantap.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Jangan teriak dong Qian, saya kaget!" ungkap Husain sembari mengusap dadanya sendiri.
"Ya maaf, sengaja. Nggak usah lebay juga kali!" ketus Qianzy memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Sengaja?" Husain sampai heran dengan sikap Qianzy yang selalu berubah-ubah.
"Ya ilah, biasa aja kali. Nggak ada riwayat jantungan, 'kan? Masih muda, masih sehat, gitu asal kesal. Nggak teriak yang keras juga, sok kaget!" cibir Qianzy, memalingkan pasangannya.
"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Husain, harus sabar menangani gadis seperti Qianzy.
Selama di perjalanan, mereka sama sekali tidak mengobrol. Qianzy malah sibuk dengan ponselnya sendiri dan Husain fokus menyetir.
Saat di lampu merah, tak sengaja mereka melihat ada sepasang kekasih yang sangat lengket. Qianzy menduga jika sepasang kekasih itu masih pacaran, belum menikah. Sangat terlihat jika mereka sedang pacaran.
"Ustad," panggil Qianzy.
"Dalem," jawab Husain dengan anda halus.
"Uwu, lembut banget ya Allah …." celetuk Qianzy gemas, sampai rasa gemasnya ingin menoel dagu Husain, tapi ia tahan diri.
"Jadi nanya tidak!" sulut Husain.
"Jadi," jawab Qianzy murung. "Mereka sepertinya sedang pacaran, tapi yang cewek pakai hijab, boleh kah begitu?" tanya Qianzy.
"Berhijab itu wajib hukumnya, tapi pacaran haram jika seperti itu. Mau tanya apa lagi?" jelas Husain sedikit sinis.
"Dih, gitu amat jawabnya. Ya sudah, kasih pengertian pacaran dalam islam ngapa? Siapa tau aku jadi paham apa itu pacaran, karena selama hidup aku … aku pernah pacaran, sih--" kata Qianzy menghela nafas panjang.
"Jatuh cinta kepada lawan jenis adalah fitrah manusia yang diberikan Allah kepada hambanya. Begitu juga dengan perasaan ingin memiliki seseorang, " jelas Husain.
Atas nama cinta, orang-orang menjalin hubungan dan mengikatnya dalam ikatan pacaran sebelum meningkatkan hubungan mereka ke dalam ikatan yang lebih serius, yakni pernikahan.
"Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh muhrimnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh muhrimnya." (H. R. Muslim)
"Oh, salah jika hanya menyebut para remaja saja yang berbuat demikian, karena orang dewasa pun juga banyak yang melakukannya," sela Qianzy sok tahu.
"Sedihnya, budaya pacaran itu bahkan sudah menancapkan akarnya pada anak-anak belia yang masih duduk di bangku sekolah dasar berseragam merah dan putih. Mereka bahkan lebih parah dari orang dewasa," sambung Husain juga mengamati dua remaja itu.
"Eits, tunggu dulu. Hadis riwayat juga mengatakan kalau bepergian harus ditemani oleh mahramnya, lantas kita ini apa?" tanya Qianzy yang baru saja membaca lewat internet.
"Betul juga, berarti kita harus segera kembali ke pesantren!" jawab Husain bijak.
Mampukah Qianzy istiqomah salam berhijrah?
__ADS_1