Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Dari Bubur Ayam


__ADS_3

"Nama saya Husain. Abdullah itu artinya hamba Allah," jelas Husain.


"Hamba Allah? Em, anak Tuhan?" tanya Qianzy. 


"Iya," jawab Husain dengan tenang. 


Qianzy membuat Husain kaku. Tak biasanya ia duduk berdua dengan Abid, disertai oleh seorang gadis didepannya. Membuat Husain semakin tak nyaman di sana. 


Saat Husain hendak beranjak, Qianzy malah membuka ucapan, "Mas, aku boleh tinggal di sini terus, 'kan? Harta warisan yang ditinggalkan oleh Mami dan Papi barusan di ambil balik sama keluarganya. Aku tidak mungkin kembali ke rumah itu," 


Ucapan Qianzy membuat Husain terpaksa harus duduk kembali. Banyak sekali yang Qianzy katakan kepada Abid tentang keluarga besar dari orang tua angkatnya yang tak pernah menyukainya. 


"Oh, iya. Soal warisan itu, apa aku berdosa jika masih memiliki barang yang sudah dibalik nama oleh, Mami, Mas?" lanjut Qianzy. 


"Dalam agamamu, memang tidak pernah menjelaskan tentang hak waris?" tanya Abid balik. 


"Belum tau aku. Tapi bisalah, Mas Abid atau Ustad Husain ini jelasin ke aku, tentang hak waris itu. Terserah mau anak kandung apa anak angkat gitu," 


"Saya?" sahut Husain terkejut. 


Qianzy mengangguk senang.


Meskipun anak angkat atau anak adopsi bukan sebagai ahli waris, namun anak angkat atau anak adopsi berhak atas bagian harta warisan orang tua angkatnya dengan mendapatkan bagian atas dasar wasiat wajibah sebagaimana pasal 209 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam yang besarnya tidak lebih dari (satu per tiga) dari seluruh harta peninggalan orang tua angkatnya.


"Jadi kalau Mami dan Papi aku udah kasih aku warisan itu … Em, warisan itu tetap menjadi milik aku, gitu? Tapi aku nggak dosa, 'kan?" tanya Qianzy.


"Ya menurut syariat Islam begitu. Tapi kan kamu bukan orang Islam. Sebaiknya kamu pergi ke pengadilan!" tegas Husain.


Raut wajah Qianzy langsung berubah total. Berubah menjadi lebih datar dari sebelumnya. Qianzy kesal, ia memutuskan pergi dari hadapan Husain dan kakaknya. Namun, sebelum Qianzy pergi, ia mengatai dulu Husain dengan sebutan, "******!" dengan mengacungkan jari tengahnya. 


"Qian, nggak boleh gitu, Dek. Ayo minta maaf," tegur Abid. 


"Males, cowok rese kek dia mending suruh jauh-jauh aja dariku!" teriak Qianzy menutup pintu dengan keras. 

__ADS_1


BLANK! 


Begitu suara pintu yang dibanting oleh Qianzy. 


"Maaf ya, Mas. Bukan maksud saya untuk_" 


"Sudahlah, aku yang seharusnya minta maaf atas kelakuan adikku, Qianzy. Dia memang seperti itu mungkin, aku juga belum mengenalnya lebih dalam," sela Abid merasa tidak enak dengan Husain.


Namun, diam-diam Husain menoleh ke arah pintu yang baru saja dibanting oleh Qianzy. Kemudian tersenyum tipis, seolah senyum itu memang sengaja ia sembunyikan. 


"Sudah hampir siang, sebaiknya kita segera berangkat. Kamu tunggu saja di mobil, aku akan pamit dulu dengan Qianzy," ujar Abid kepada Husain. 


Husain dan Abid memiliki hubungan yang erat. Meski usianya terpaut empat tahun, tetap saja tak membuat mereka canggung dalam komunikasi. Sudah sejak kecil mereka bersama, tumbuh bersama dalam lingkungan pesantren. 


Namun, Husain masih memiliki keluarga. Kedua orang tuanya adalah orang terpandang juga. Putra tunggal dari pasangan yang menjunjung tinggi akan agama dan adab yang baik. Terutama sangat Umi yang memiliki darah biru, yang entah dari keraton mana. 


"Dih, siapa sih tuh cowok. Sok banget, mentang-mentang tadi traktir gue bubur. Bubur doang, woy! Elah, belagu amat tuh cowok!" umpat Qianzy merebahkan dirinya ke kasur. 


Qianzy masih merasa kesal. Sebab, selama ia hidup, baru saat itu ada seorang laki-laki yang bersikap cuek kepadanya. "Hih, pengen gue pites. Coba aja ngga ada Mas Abid di sana tadi." kesalnya. 


Saat ia kesal, suara ketukan pintu saja membuatnya semakin emosi. Tak tau siapa yang datang, Qianzy bersiap ingin memberikan pukulan kepada siapapun yang mengganggunya ketika sedang meluapkan amarahnya. 


"Woy, lah! Siapa sih yang be__" kepalan tangan itu di tahan oleh Abid. 


"Qian, kamu sedang marah?" tanya Abid dengan lembut. 


Perlahan, Qianzy menurunkan pandangannya. Lalu, menurunkan tangan yang sebelumnya telah siap memukul kakaknya itu. 


"Maaf," ucap Qianzy lirih. 


"Qian, apa ini? Kamu marah? Kamu marah karena apa?" Abid sangat lembut memperlakukan adiknya. Baginya, Qianzy sendiri memiliki watak yang keras kepala. Jadi, dengan kelembutan lah yang akan meluluhkan hati adiknya itu. 


Abid mengajak Qianzy untuk duduk sebentar di atas ranjang. Abid mencoba bicara dengan tenang dan menanyakan apa yang membuat adiknya itu emosi. Tak lupa Abid juga membela rambut lurus adiknya. 

__ADS_1


"Katakan, kenapa kamu marah, dan apa yang membuatmu marah?" tanya Abid. 


"Aku paling benci di intimidasi


Setiap orang memiliki sifat pemarah, bagaimana tingkat amarah tersebut dan apakah orang tersebut bisa mengendalikan amarahnya. Marah bisa menjadi sangat berbahaya jika seseorang tidak dapat mengendalikan amarah. Sebab, setan akan menguasai hati yang menjadikan diri sendiri terhasut dan masuk ke dalam godaan setan. 


"Qianzy, Mas tanya ini. Kok, ndak di jawab?" tanya Abid lagi. 


"Aku tersinggung dengan ucapan cowok tadi," ungkap Qianzy dengan ketus. 


Abid tersenyum. Kemudian mengusap rambut adiknya kembali seraya memberikan doa untuknya. Allahummaghfirli dzambii, wa adzhib ghaizha qalbii, wa ajirnii minasy syaithaan. Mendengar doa tersebut, Qianzy mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya. 


"Doa apa itu?" tanya Qianzy. 


"Hanya doa meredamkan amarah. Itu berlaku untuk siapapun. Mas pergi dulu, ya. Mas harus menghadiri acara di kampung sebrang," ucap Abid dengan lembut. 


"Aku boleh ikut, nggak?" tanya Qianzy semangat, dengan mata berbinar-binar. 


Abis terdiam. Qianzy baru saja marah dengan Husain. Bagaimana jadinya jika mereka bertemu lagi. Dengan pelan, Abid menjelaskan bahwa Husain akan ikut serta dalam menghadiri acara itu. 


"Apa? Kenapa dia juga ikut, sih, Mas?" protes Qianzy. 


"Ya memang dia harus ikut. Dia akan mengisi tausiyah. Kenapa kamu protes?" jawab Abid. 


"Tausiyah itu apa?" tanya Qianzy. 


Tausiyah adalah istilah yang digunakan di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia , mengacu pada siaran dakwah yang dilakukan secara informal. Tausiyah dibedakan dari khutbah biasa yang lebih bernada serius, atau Tabligh Akbar yang bisa dihadiri oleh para peserta.


"Tapi, ini acara nikahan.  Jadi kalau memang kamu mau ikut, ya ayo! Cuma, Mas boleh minta kamu pakai hijab, nggak? Mas nggak maksa, tapi__"


"Aku akan pakai hijab. Bentar, mau mandi dulu. Tungguin, nggak lama, kok. Mas tunggu di mobil aja nggak papa," sahut Qianzy tak ingin membuat kakaknya kecewa. 


"Tapi, Mas nggak maksa, Qi. Kalau kamu mau pakai celana dan kain di lampir di kepala aja, nggak papa," imbuh Abid. 

__ADS_1


"Aku adalah adik seorang ahli agama. Latar belakangku saat ini, juga akan mendapat sorotan dari beberapa kalangan. Aku akan berusaha yang terbaik, Mas. Aku tidak merasa terpaksa, kok," jelas Qianzy dengan hati tenang. 


Abid senang jika perlahan Qianzy mau menutup aurat dengan benar. Meski Abid juga tak ingin memaksa kehendak adiknya untuk mengikuti keyakinan dirinya. 


__ADS_2