Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Pertemuan Dengan Ustadz Husain


__ADS_3

Mereka berempat akhirnya ketiduran karena kekenyangan. Saat subuh tiba, Abid sampai datang ke pos tempat mereka tidur dan langsung menjewer adiknya yang saat itu tidur bersama tiga pria tanpa jarak.


"Aduh, woy bisa-bisanya lu jewer gue. Mau gue kep … Eh, Mas Abid. Halo semuanya, rame ih, ada apa?" Qianzy merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Pulang, mandi dan segera sembahyang. Tiap pagi, kamu akan melakukan sembahyang untuk leluhur, bukan? Segera pulang!" tegas Abid.


"Iya, bye bye semuanya!"


"Woy, Bro! Dimakan jajannya," imbuh Qianzy meninggalkan ketiga teman barunya.


Qianzy meninggalkan Romli, Rudi dan Muslih di sana. Ketiga santri itu sangat penurut, mereka batu melakukan kesalahan saat bersama Qianzy. 


"Beruntung, ustadz yang mengadili kesalahan belum pulang. Jika beliau sudah pulang, di jamin kalian bertiga tidak akan pernah lolos dari hukumannya," Kyai Abid memperingati ketiga santri itu untuk tidak berbuat kesalahan untuk kedua kalinya, meski memang tugas mereka sudah selesai berkeliling saat berjaga.


Perbedaan antara dupa dan tasbih memang sangat jelas. Meski Qianzy bukanlah Buddhis yang baik, namun ia tak pernah melupakan mendoakan leluhurnya. 


Sementara sang kakak, memakai peci, sarung dan tasbih yang tak pernah lepas dari tangannya. Seorang Kyai muda berusia 30 tahun, masih lajang dan kincolong. Mau daftar, bisa antri. Masih segel, no minus, mulus oke.


"Pagi, Kak." sapa Qianzy kala Abid pulang dari masjid.


"Kamu mau kemana?" tanya Abid.


"Mas, Mas Abid kalau kau lawak, nanti aja.  Udah cantik-cantik kayak gini, pakai baju olahraga, Mas. Masa iya mau ke mall, ya nggak mungkinlah! Aku mau jogging, Mas mau titip apa, nanti aku belikan dah!" 


Abid tersenyum manis. Ia hanya ingin adiknya cepat pulang. Dengan rayuan maut Qianzy, akhirnya Abid hanya pesan bubur ayam kesukaannya di depan gang. Dengan senang hati Qianzy akan membelikannya.


"Assalamualaikum, Masku yang ganteng," salam Qianzy.


"Alaikum, hati-hati di jalan, cepat pulang!" 


Abid dan Qianzy adalah sama-sama orang yang bisa dengan mudahnya bergaul dengan siapapun. Bisa dilihat, meskipun mereka belum pernah bertemu sama sekali, di pertemuan pertama dan di hari kedua mereka bisa akrab seperti kakak beradik yang sudah lama tinggal bersama.


Tak terasa, Qianzy sudah berputar tiga kali di daerah pesantren. Segera ia pergi ke depan untuk membelikan kakaknya bubur ayam yang dipesannya. 

__ADS_1


Sesampainya di sana, Qianzy sudah terlambat. Hanya tinggal satu porsi dan itu saja sudah dipesan oleh seseorang. 


"Waduh, maaf. Cuma tinggal satu bubur ayamnya. Bagaimana kalau besok ke sini lagi aja, Mbak," ucap penjual bubur tersebut.


"Yah, kan pengennya sekarang, Bang. Ini aja juga buat Mas aku. Ini juga pertama kalinya aku akan membelikan sesuatu untuknya. Ya udah deh, permisi," lenguh Qianzy kecewa. 


Ia duduk termenung di bawah pohon besar dimana penjual bubur itu mangkal. Dengan tatapan wajah kecewa, ia berusaha untuk bersabar. 


"Assalamualaikum. Maaf, ini untuk kamu saja. Kebetulan, saya tadi pesan dua," ucap seorang pria memberikan pesanan buburnya kepadanya.


"Serius? Buat aku?" Qianzy langsung beranjak dengan semangat.


"Kamu bilang untuk Mas kamu, 'kan? Maaf, saya tidak bermaksud menguping tadi. Tapi saya mendengar bahwa kamu memang ingin membelikan ini untuk Mas kamu," pria itu. menyodorkan kembali bubur ayam tersebut.


Qianzy menerima bubur ayam itu dengan bahagia. Saat dirinya hendak menggantikan bubur ayam itu dengan uang, pria itu pergi begitu saja.


"Eh, tunggu! Siapa namamu!" tanya Qianzy berteriak.


"Abdullah? Nama yang unik. Tapi lumayanlah, duitku nggak berkurang," gumam Qianzy senang.


Bergegas Qianzy menuju jalan pulang. Saat hendak masuk gerbang pesantren, ia mendapat telpon dari Mbak Lia. Mbak Lia mengabarkan bahwasanya keluarga besar keluarga Zuan ingin Qianzy menyerahkan harta yang diwariskan oleh kedua orang tua angkatnya.


"Mbak Li, tolong katakan kepada mereka. Kalau perlu Mbak Li rekam ini_" suara Qianzy menjadi lemah.


"Selamat pagi, nama saya Qianzy Tabitha. Umur saya 19 tahun, anak angkat dari Tuan dan Nyonya Zuan. Dengan ini, saya selaku pemegang ahli waris dari harta keluarga Zuan, merelakan harta titipan ini kepada keluarga besar Zuan. Saya … mengatakan ini, dengan keadaan sadar sesadar-sadarnya. Sekian, terima kasih."


Air mata Qianzy membasahi pipinya. Keluarga besar Zuan telah membuangnya. Bahkan harta warisan saja dipertanyakan. Qianzy merasa sedih dengan semua itu.


"Kenapa aku harus menangis? Aku masih memiliki satu keluarga di sini. Untuk apa aku bersedih tentang hal yang memang seharusnya bukanlah milikku," gumam Qianzy mengelap air matanya.


"Masih ada Mas Abid yang akan menerima aku apa adanya. Bahkan di saat aku tidak memiliki apapun, Mas Abid pasti akan menyayangiku," lanjutnya dengan berusaha tersenyum.


Berjalan dengan perlahan, notif demi notif dari bank dan juga perusahaan telah masuk. Dimana semua akses yang bukan atas nama Qianzy telah dibekukan. 

__ADS_1


Kenyamanan dan kehangatan keluarga tidak bisa digantikan dengan apa pun. Bahkan sampai ada pepatah 'Harta yang paling berharga adalah keluarga' karena keluarga selalu ada sejak kita lahir hingga akhir hayat.


"Jika aku bisa ikhlas dalam berupaya untuk kebahagiaan, Tuhan akan memudahkan dan menunjukkan jalanku,"gumam Qianzy.


Sesampainya di depan rumah, Qianzy melihat seorang pria yang memberikan buburnya ada didepan rumah juga tengah duduk bersama kakaknya.


"Itu, 'kan …," gumam Qianzy. "Pria tadi yang kasih aku bubur ini. Kenapa dia ada bersama, Mas Abid, ya?" lanjutnya.


Meski Qianzy tidak memakai jilbab, tapi dia tetap menutup rambutnya menggunakan topi jaket olahraganya.


"Assalamualaikum," salam Qianzy. 


"Alaikum. Qian, kamu sudah pulang? Sini, duduk dulu sama Mas," jawab Abid.


"Mas Abid jawab hanya Alaikum. Apakah dia bukan orang Islam?" gumam pria itu.


Pria itu ikut berdiri menyambut kedatangan Qianzy. Lalu, Abid memperkenalkan Qianzy dengan pria yang duduk disebelahnya itu.


"Qianzy, perkenalkan ini ustadz Husain.  Namanya, Mahmud Husein Zahidi. Tapi semua santri disini memanggil beliau dengan sebutan, ustadz Husain," ucap Abid memperkenalkan pria itu kepada adiknya.


"Dan ustadz Husain, dia salah adikku yang aku ceritakan tadi. Namanya Qianzy Tabitha. Dia rencana akan tinggal di sini untuk beberapa waktu. Bukan begitu, Qianzy?" lanjut Abid.


"Ralat! Aku akan tinggal di sini selamanya, sampai tua!" sela Qianzy. 


Abid kembali dibuat tertawa oleh celoteh Qianzy. Sementara Husain, ia masih sibuk dengan tasbih digital dihatinya. Husain benar-benar menjaga pandangannya.


"Set dah! Nih laki gak mau natap gue! Lihat saja, aku akan mengerjainya!" batin Qianzy dengan tatapan psikopat.


"Loh, Mas Abid nggak salah kenalin aku ke dia?  Bukannya tadi Mas ini bilang kalau namanya itu Abdullah. Kenapa sekarang jadi Husain? Mana pakai embel-embel ustadz pula!" protes Qianzy.


"Terus, mana yang benar?" lanjutnya dengan menyeringai.


Abid memandang Husain. Sementara Husain hanya mengedipkan mata kepada Abid, seolah tak ingin Abid menanggapi ucapan Adiknya.

__ADS_1


__ADS_2