I Am Protagonis?

I Am Protagonis?
bab 16


__ADS_3

mungkin kata maaf tak bisa menggantikan kecewamu dan terima kasih tak ada artinya untukmu..


suasana baru akan dirasakan iris dengan hati yang bimbang antara sedih dan bahagia well ia tidak akan tahu kehidupan apalagi yang akan ia jalani,ia hanya berharap untuk tidak menyesali keputusannya.


maaf ku telah mengecewakanmu


bukan maksudku memberimu harapan palsu


hanya saja aku harus memilih


keputusan ini semakin sulit


saat aku mengetahui semuanya


saat aku tak merasa nyaman


hanya kata maaf dan terima kasih


bukan untuk mengecek


tapi itulah ketulusan hati


jika kita memiliki jalan yang sama

__ADS_1


maka kita akan bertemu dan bersama


namun jika tidak jadikan semua ini kenangan.


"kenapa? kamu sudah kangen sama dia? tidak masalah jika dia memang mencintaimu kalian pasti akan bertemu lagi"melihat sang adik sedih ia juga merasa sedih namun keputusan ini bukan hanya ia yang ambil tapi melainkan kedua orang tuanya.


ia pun teringat percakapan ia dengan cavan sebelum ia pergi"jangan temui iris"


"what? hehe maksud kakak? kenapa?"tanya cavan datar dan berusaha menekan emosinya.


"jangan temui iris sebelum kamu sukses dan berdiri dengan kakimu sendiri tanpa bantuan ayahku dan jika suatu saat nanti kau ataupun iris sudah menemukan cinta yang baru jangan ganggu satu sama lain"sambil menepuk pundak cavan,Steven tersenyum melihat ekspresi cavan 'nggak segampang itu kau mendapatkannya meski aku sudah tahu siapa dirimu tapi aku juga tahu apa yang sudah terjadi'.


"baik tepati kata-katamu kak"


"ya aku akan menepatinya"dengan senyum terparti dibibir Steven membuat siapapun akan jatuh hati.


diruangan yang penuh dengan buku seorang pemuda berusaha untuk menenangkan hatinya namun air mata mengalir tiada henti suara pilu seakan menyayat hati.


cklek.


dua orang pemuda membuka ruangan itu dengan paksa dan melihat apa yang terjadi"beginilah kalau kutub Utara baru jatuh cinta,patah hatinya sakit banget".


"mau bagaimana lagi namanya juga cinta"jawab pemuda disebelahnya sambil membawa nampak berisi makan dan minuman.

__ADS_1


"mau sampai kapan lo gila hah?! bukannya kak stev sudah bilang kalau kau ingin mendapatkan iris bukan begini caranya bodoh"kata pemuda itu membuat pemuda yang sedang menangis terdiam menunduk dan mencerna apa yang ia dengar.


tatapan sang pemuda berlangsung membaik"kalian tahu kalau iris adalah cinta pertamaku yang memberi aku warna tapi kenapa!!? kenapa kita harus berpisah?"


"Cavan Ryder Rhys!! bukan begini caranya bodoh kalau kau ingin mendapatkan iris maka bertindaklah sesuai semestinya dasar kutub Utara IQnya aja 165 tapi EQnya 0 kuadrat,untung lo punya sahabat yang nggak bego-bego amat jadi bisa menyelamatkan hidupmu"seolah tidak ada takutnya abhi berucap kasar ke sang sahabat.


cavan yang mendengar kata kasar dari abhi merenungi lalu menyadari bahwa tindakannya salah,otaknya kembali ke cavan kulkas tatapanya yang semakin datar membuat sang sahabat meringis menggosok tangannya.


"bagus sekali abhi kau sudah membangunkan kulkas bahkan sekarang semakin dingin dengan dua pintu"ejek haidar yang mengeluh dalam hati tentang sang sahabat.


abhi hanya tertawa sumbang saat haidar mengatakan sesuatu"hehe haruskah aku menyesalinya? tentu saja tidak lebih baik seperti ini dari pada seperti zombie yang keluar kamar selama berhari-hari".


cklek.


pintu kembali terbuka tampaklah seorang gadis cantik dengan senyuman manis namun tak bisa meluluhkan tiga pangeran"cavan aku bawa makanan kesukaan? kamu harus makan kan sudah aku bilang kalau perempuan itu tidak baik untukmu dia hanya j***** yang tak memiliki perasaan"


brukk.


mendengar kata bella ya,orang yang baru datang adalah bella sosok yang sudah membuat iris memilih untuk pergi"haidar bawa adikmu pergi".


haidar masih sayang dengan sang adik,ia pun menyeret bella untuk keluar meski harus menggendonya seperti karung.


akhirnya iris memilih untuk pergi,lalu bagaimana dengan hidup mereka setelah berpisah?

__ADS_1


terima kasih sudah membaca.


jangan lupa untuk like, vote and koment.


__ADS_2