I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
chapter 01


__ADS_3

Matahari timbul malu-malu di ufuk Timur, menebarkan pesona keseluruh langit pagi. Burung-burung pun turut serta berkicau dan udara sejuk pagi menusuk hingga ke dalam tulang.


Disana berdiri seorang pria tampan bak duplikat dewa yunani, Zayn Orlando, Artis ternama sekaligus pewaris utama Lucero international Grup.


Mungkin wajah serta kekayaan bisa menjamin dia bahagia. Tapi, kenyataanya tidak! Sorot mata yang menatap lepas pemandangan Danau di depan mata itu menyiratkan seribu rasa sakit.


"Kau sudah bangun, sayang?" Ucap Jesicca muncul dari balik pintu untuk mendekati Zayn yang saat ini sedang berdiri di atas balkon Villa mewah ini.


Zayn menoleh kearah sumber suara, lalu tersenyum sekilas dan menatap pepohonan Asri yang tersusun rapi di tepi danau "Aku hanya menikmati hari-hari terakhirku".


Jesicca tergelak, memikirikan bahwa Zayn begitu menyukai tempat ini. Bahkan gadis cantik itu ingat saat Zayn berkata jika dia berada di tempat seperti ini, bagaikan ia menemukan kehidupanya lagi "Kita pasti akan kembali kesini, sayang".


"Menurutmu apa itu kematian" Tanya Zayn dengan senyumanya.


Jesicca menyenderkan kepalanya pada tiang daun pintu, untuk mencerna kalimat Zayn. Bukan suatu yang Aneh, Jesicca sedikit paham tentang bagaimana Zayn menemukan inspirasi untuk lagu-lagunya


"kau kenapa?" Tanya Jesicca bingung.


"Hanya ingin tahu"


"Kau ingin membuat lagu sedih lagi?"


"Bisa jadi"


"Jangan bahas kematian, itu mengerikan"


Zayn menoleh kesamping menatap gadisnya "Kenapa mengerikan?"


"Ya mengerikan, itu artinya kau akan berhenti untuk melakukan apa pun"


"Apa kau takut mati?" Tanya Zayn lagi


"Jelas"


"Kenapa?"


"Owh..." Jesicca bergindik ngeri "Aku takan kuat menghadapinya"


"Bukankah kehidupan membunuh kita setiap hari dengan segala situasi, kita masih bertahan. Lantas apa yang membuat kematian begitu menakutkan?"


Jessica mulai curiga, lalu berjalan mendekati Zayn, benar saja bau alkohol menyengat menyerbak dari tubuh pria itu.


"Hmmm... baumu, kau minum?!" Jesicca mendekat dan menarik tubuh Zayn untuk menghadapnya.


"Sudah ku katakan jangan minum, kau sedang tidak sehat, sayang!" Jessica berkata dengan wajah kesal yang di buat-buat.


"Aku tidak takut mati"


"Kau bicara apa, Zayn?!" Sekarang Jesicca benar-benar kesal dengan tingkah Zayn pagi ini.


Ada apa?


Kenapa?!


Padahal tadi malam semua baik-baik saja. Bahkan Zayn sempat berkata akan menikahinya secepatnya.


"Aku serius, aku siap mati sekarang"


"Hentikan ucapanmu?!" Jesicca menatap nyalang pada manik bola mata Zayn. Pertanda ia benar-benar membenci pria itu pagi ini.


"Kenapa?" Zayn berkata dengan lirih, matanya menyiratkan bahwa ia begitu terluka.


"Ada apa?" Jesicca mulai khawatir lalu ia mengusap rahang kokoh Zayn yang di tubuhi bulu-bulu halus.


"Tentang apa?" Bukanya menjawab Zayn malah lanjut bertanya.


"Kau kenapa?!" Jesicca begitu khawatir, tak biasanya pria itu seperti ini.

__ADS_1


"Aku hanya ingin semua berakhir"


"Apa?!"


"Bukankah kau menginginkan kematianku?"


"Apa maksudmu!!!"


Zayn tersenyum samar lalu menangkup kedua pipi jesicca dengan tatapan datarnya. Tapi yang membuat Jesicca begitu terkejut adalah sebuah pistol di tangan pria tampan itu.


"Apa ini, Zayn?!" Tanya Jesicca dengan nada gusar, seketika gadis itu gemetar.


"Tenang, Aku takan menyakitimu" ucap Zayn pelan masih dengan senyum samar. Dan menjauhkan pistol itu dari wajah Jesicca.


"Mungkin yang akan menggunakan ini adalah dirimu" Zayn menilik pistol itu dan tersenyum menatap gadis cantik di depannya. Seperti ia sedang mengatakan obrolan ringan tentang sebuah pertunjukan seni.


"Zayn, jauhkan itu. Ka... kau sedang mabuk"


"Aku tidak mabuk"


"Kau mabuk!!!" Bentak Jesicca mencoba menyadarkan


Mengabaikan terikan Jesicca, Zayn menatap kedepan lalu menarik penutup pistol "Mau ku ajarkan?"


"Zayn, aku tidak main-main aku takut"


Zayn tergelak menikmati akting gadisnya "Kau takkan takut"


"Aku takut!"


Zayn meluruskan lenganya kedepan, mencari arah bidikan yang tepat untuk pistolnya, dahan pohon besar itu menjadi target pria tampan itu.


Door!!!


Dan seketika sebuah bunyi nyari menggema ke udara, hingga beberapa burung terbang kesegala arah.


"Bagaimana?" Zayn tergelak pelan dan mengigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan rasa kecewa "Bagaimana kau bisa merencakan sesuatu yang kejam untuk membunuhku? Saat melakukan hal seperti ini saja kau ketakutan?"


Mata Jesicca terbelalak, menyadari bahwa satu fakta tentang dirinya telah terkuak "Zayn kau..."


"Ya... aku tahu semuanya"


Jesicca mendekat dan menyentuh lengan Zayn yang langsung di tepis pelan oleh pria itu "Zayn aku bisa jelas__"


"Aku memang butuh penjelasanmu, tapi aku lebih butuh kejujuranmu tentang hubungan kita?!"


"Kita__" bahkan Jesicca ragu untuk menjawab


"Aku sudah tahu jawabanya, Ini" Zayn meraih tangan Jesicca, meletakan pistol hitam itu disana.


"Lakukan"


Jesicca menggeleng dengan setetez air mata yang membasahi pipi "Zayn, aku... aku tak bisa"


"Kau harus!"


"Aku tak__"


"Tembak!" Ujar Zayn dengan amarah terlihat jelas pada matanya.


Jesicca memohon "Zayn maafkan__"


"Aku bilang tembak!!!" Bentak Zayn.


Lantas bentakan itu membuat Jesicca menarik pelatuk pistol itu, dan hening. tak terjadi apa-apa pada tubuh Zayn, sebab pistol itu tak lagi memiliki tjmah panas.


Zayn tergelak miris menertawai hidupnya "bahkan pistol ini menghianati pemiliknya" sindir Zayn, sebab pistol itu ia temukan didalam koper wanita ini.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" Tanya Zayn.


"Zayn, ini bukan mauku... aku di paksa" Jesicca masih mencari alasan untuk membuat semuanya aman.


"Di paksa? Oleh ayahmu?!"


"Ku mohon maafkan keluargaku" tangis Jesicca pecah saat membicarakan itu.


"Di awal Caty hampir membunuh Keyra. lalu Andreas juga hampir membunuh Adikku dan sekarang dia mengirimu untuk membalaskan dendam?!"


"Aku tak bermaksud?"


"Kau memberikanku pil ini?" Zayn mengeluarkan sebuah botol dari saku celananya "Kau tahu pil ini perlahan bisa merusak syaraf otakku?!"


Jesicca terdiam, ia bagai maling yang sudah tertangkap basah.


"Diam berarti iya... lalu kau anggap apa hari-hari kita sebelum ini?!" Bentak Zayn cukup frustasi, kenapa hidupnya tak bisa berjalan mulus sebagaimana semestinya! Kenapa semua ini harus ia alami?!


Jesicca menarik napas "Aku membencimu! Aku benar-benar membencimu hingga sosok tentang dirimu melekat di kepalaku!" Jesicca berkata dengan amarah yang menggebu


"Karena kau, aku kehilangan kedua kakakku!!!" Jesicca benar-benar menumpahkan seluruh emosinya, hingga tubuh kecil itu kini bergetar.


"Akan ada balasan atas setiap perbuatan. Jika mereka tak melakukan hal buruk maka dia takan menerima hal buruk" jelas Zayn, jika saja Caty tak mengganggu Keyra semua ini tak akan pernah terjadi.


"Jika dengan membunuhku bisa membuatmu tenang, kenapa tak kau lakukan itu dari awal?"


"Aku tak bisa" jelas Jesicca dengan nada frustasi


"Kenapa?" Tanya Zayn yang tak mengerti akan jalan fikiran gadis ini, gadis itu hanya bisa menunduk. Tak berani melihat kearah Zayn.


"Ada peluru di pistol ini, tekan pelatuk ini dengan seluruh dendamu terhadapku. Tenang kali ini ia takan menghianatimu"


"Hentikan Zayn" Jesicca histeris.


"Kenapa? Bukankah dengan kematianku seluruh dendammu akan terbayarkan? Maka lakukan"


Dengan amarah yang menyerbak dalam dada, Jesicca merampas pistol itu lalu mengarahkanya pada Zayn. Ia cukup muak dengan situasi pagi ini.


Mendapati tindakn Jesicca membuat Zayn tersenyum miris lalu mundur kebelakang. Merentangkan tangan seolah bersiap dengan kematianya


Jesicca menggeleng hingga akhirnya menjatuhkan pistol itu kebawah lalu tubuhnya jatuh terjerembak kelantai. Gadis itu menangis menjelaskan konflik dalam dada.


"Pergilah!" Ucap Zayn akhirnya.


"Sejauh mungkin"


"Dimana aku takan bisa menemukanmu"


"Katakan pada ayahmu, jika aku melihatnya masih mendekati keluargaku. Akan ku pastikan! Bukan hanya dia yang akan menerima akibatnya" Zayn melangkah untuk meninggalkan Jesicca yang menangis meratapi sesuatu yang ia tak mengerti, Tapi langkah Zayn terhenti.


"Kurasa tak perlu penjelasan untuk hubungan kita, aku sadar bencimu takan bisa berubah untuk rasa yang suci" Zayn berkata pelan sembari menahan sesuatu yang hampir mengalir di pipinya.


Lalu ia melangkah, meninggalkan sesuatu yang kira bisa membuatnya bahagia. Tapi, kini kembali ia tersakiti oleh permainan Takdir.


TBC


siapa yang gak ingat dengan Caty dan Andreas, atau tidak kenal dengan keduanya mohon untuk kunjungi Story pertama Ay **REMEMBER ME


caranya:


klik foto ay dan masuk di bagian Karya ets tapi sebelum itu follow dulu ya sayang 😘😘**


enjoy untuk karya ay ini ya


jangan nunggu banyak chapter dong.. ay usahin up cepet tapi temenin ya 😘😘😘


jan lupa like, komen yang lucu dan bantu VOTEnya sygku 😘 supaya Babang Zayn bisa naik ke permukaan.

__ADS_1


NB: Foto cast akan ay up jika ini udh lolos ya syg 😘😘😘


__ADS_2