
Udara pagi ini di kuasai oleh suara mesin pesawat yang baru saja mendarat. Zayn baru saja tiba di New York setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan dari Barcelona, Spain.
Zayn memasang kaca mata hitam untuk menghadang sinar matahari yang sedari tadi menampakkan wajahnya, saat kakinya akan melangkah untuk menuruni tangga pesawat ini.
Suara Chelsea, asisten pribadinya menghentikan langkahnya, lalu pria tampan itu menoleh untuk mencari keberadaan gadis cantik itu.
Chelsea mengenakan blazer broken white, dipadukan dengan rok berwarna senada. Rambut hitam panjangnya disanggul sedemikian rupa membentuk bulatan seperti rumah keong. "Tuan, sepertinya ada yang sedang mengikuti anda" ucap gadis itu dengan memberikan sebuah tab berukuran 7 inci.
Zayn menatap layar dengan membaca artikel paling hangat pagi ini. Pria tampan itu berdecih dan tersenyum meremeh. Memang terlalu banyak orang mencari makan atas dirinya. Contohnya ini, bahkan kehidupan pribadinya yang telah ia tutup rapat-rapat bisa terkuak oleh para paparazi gila ini.
"Untuk berita ini biarkan saja, dan cari tahu siapa dia. Aku tak ingin dia menjadi masalah untukku di kemudian hari." Zayn menyerahkan tab itu lalu berjalan melewati beberapa orang yang telah menunggunya di bawah tangga.
Zayn memang telah mengumumkan jika ia akan mundur dari dunia Entertaiment, Tapi Come on bambang, hidup tak semudah membalikkan telapak tangan.
Zayn memang harus melanjutkan tahtanya sebagai penerus Lucero International. Tapi, ia cukup mengerti untuk menyelesaikan pekerjaannya dan memberikan yang terbaik untuk semua orang yang mencintainya.
"Maaf Tuan, lewat sini," ucap salah seorang bodyguard bertubuh tegap memberikan jalan.
Zayn terus melangkah, sampai intruksi bodyguard tegap itu menghentikan langkahnya. Seperti biasa, saat ada artikel baru yang mencuat tentang dirinya, maka tak lama dari itu, ia akan menjadi buronan wartawan yang haus akan klarifikasi.
Begitu mata indah itu melihat kerumunan orang-orang dari kejauhan, lelaki dengan rahang kokoh, mata tajam dengan wajah yang membuat para pengukir patung bahagia itu langsung berbalik arah mengikuti arahan salah satu bodyguard-nya yang lain.
"Chelsea, apa saja jadwalku siang ini?" tanya Zayn pada gadis yang sedari tadi berjalan mengikuti langkahnya dengan sepatu stileto berhak 7 sentimeter.
"Siang ini anda ada pertemuan dengan Mr. Thomas dari Syconis Music dan setelah itu anda akan bertemu dengan Mrs. Deborah ketua__"
"Batalkan semua" ucap Zayn tanpa menoleh dan terus melangkah cepat.
"Tapi Tuan, anda bisa saja membatalkan pertemuan dengan ketua majalah forbis Tapi, Mr. Thomas pasti akan marah jika__"
"Kau sedang berkerja padaku atau dia?" Zayn berkata dengan nada datar membuat Chelsea hanya mendegus pasrah.
Mungkin, memang jati diri orang ber-uang yang bisa melakukan apa pun semaunya. Dan berakhir dengan bawahan seperti Chelsea yang akan menerima semprotan kemurkaan dari berbagai pihak.
"Anda ingin ke mansion Tuan Kenzo?" Tanya supir ketika Zyan telah masuk ke dalam mobil.
"Nanti saja, aku ingin bertemu anak-anakku dulu" mendengar ucapan Zayn, lantas membuat supir itu mengangguk paham lalu menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Setelah berjalan menerobos jalan kota, mobil hitam itu memasuki jalan kecil yang bersisian dengan pohon rindang dan terlihat begitu asri. Zayn menurunkan kaca jendela hingga sinar matahari dan udara segar menerpa wajah tampannya.
"Sudah lama ya, Tuan," ucap pria paruh baya yang menatap lewat spion dalam.
Zayn hanya tersenyum hambar seraya meratapi diri, sebegitu sibukkah dirinya hingga sudah terlalu lama ia tak mengujungi tempat ini, hingga akhirnya mata hitam legam itu menangkap seorang anak perempuan di samping pohon menatapi The Cathedral Church of St. John the Divine di depan sana.
"Siapa dia?" gumam Zayn sampai suara pintu dibuka membuyarkan fikiranya karena mobil mewah itu telah berhenti tepat di depan sebuah Gereja. "Kau kenal siapa dia?" Tanya pria tampan itu sesaat setelah ia keluar dari dalam mobil seraya menujuk arah seorang gadis yang masih menatap bangunan di sebelah Gereja ini.
"Entahlah Tuan, mungkin anak panti yang sedang bermain."
Zayn mengangguk paham lalu berjalan menuju bangunan di sebelah Gereja, disana juga ada dua orang suster yang telah menunggunya dengan seuntas senyuman.
"Apa kabar, Zayn?" ucap seorang suster yang terlihat sudah memasuki masa senja. Dia mengenakan kerudung putih yang menutupi keseluruhan rambutnya. Sebuah kalung berliontin salib menjuntai sampai ke perut.
"Seperti yang kau lihat, Sister Patricia" Lelaki berkulit putih yang di balut pakaian formal itu hanya bisa memberikan senyum terbaiknya.
"kau terlalu sibuk" Ucap wanita yang satunya lagi dan memeluk Zayn. Dia juga berkerudung putih seperti Suster Patricia. "lihat! kau terlihat semakin kurus saja!" lantas tatapan tajam Karen di balas senyum manis oleh Zayn.
"Dan kau terlihat semakin cantik, Sister Karen" Lalu jawaban Zayn membuat kedua wanita paruh baya itu tertawa, mungkin hanya disini Zayn merasakan rasa keluarga yang seutuhnya. karena setelah hidupnya di hancurkan oleh permainan takdir hanya di sini ia merasakan kasih sayang tanpa melihat derajatnya.
Zayn menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk melihat gadis kecil di samping pohon besar di ujung jalan itu.
"Sister Karen" Seru Zayn menghentikan langkah kedua suster itu.
"Kau tahu siapa dia?" Zayn kembali menujuk arah gadis kecil itu.
"Siapa?" Suster Patricia memakai kaca matanya, karena usia telah memakan nikmat penglihatan wanita itu.
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia bukan anak panti," sahut Suster Karen menatap Suster Patricia untuk mencari pembenaran.
Suster Patricia masih harus memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. "Kurasa juga begitu. Ia terlihat sangat asing" Suster Patrcia berjalan ke depan untuk mendekati gadis kecil itu.
"iya, dia terlihat seperti anak asia" Karen turut memberi tanggapan atas ucapan Patricia.
Zayn turut berjalan mengikuti kedua wanita ini. Tapi, sedetik kemudian ia mempercepat langkahnya saat melihat gadis kecil itu ketakutan dan bersiap akan pergi dari sana.
__ADS_1
"hey... hey... dear its okay" Zayn berdiri sedikit jauh dari gadis itu. lalu berjalan perlahan mencoba menarik simpati gadis kecil itu.
"tak perlu takut. kami tidak akan menyakitimu" Zayn tersenyum lalu bertekuk lutut untuk menyamakan tinggi mereka. Zayn meraih tangan anak itu dan sangat sadar akan kegusaran yang ditunjukannya.
"siapa namamu?" Tanya Zayn dengan nada yang sangat lembut.
Bukannya menjawab, mata anak perempuan itu hanya menangkap kedatangan Suster Karen dan Suster Patricia. lantas Zayn malah menarik wajah gadis kecil itu hanya untuk menatapnya, sebab Zayn benar-benar merasakan ketakutannya.
"its okay, ada aku disini... siapa namamu sayang?" Zayn menyipitkan mata saat melihat reaksi gadis kecil itu. terlebih luka di bahu kiri gadis itu menarik perhatianya.
"sepertinya dia tak bisa berbicara" ucap Zayn pada Suster Karen dan Suster Patricia.
"ku rasa Sister Carol bisa membantu" sambar Suster Karen hingga ucapannya itu menarik perhatian Zayn. tapi pergerakan Zayn terhenti saat gadis kecil itu menarik tangannya seolah mengatakan jika ia tak ingin pria tampan itu meninggalkanya atau memberikanya pada orang lain.
Zayn tersenyum lalu mengusap rambut hitam gadis kecil itu. "Carol itu suster di sini, dan dia bisa berbahasa isyarat. Mungkin dia bisa membantumu untuk berkomunikasi denganku" Zayn berkata sangat pelan berharap anak itu bisa mengerti tapi respon yang dia berikan adalah mengapit tangan Zayn sangat kuat dan tak mau melepaskan.
Zayn menatap anak itu lalu beralih menatap Suster Karen dan Suster Patricia.
Kedua wanita itu hanya tersenyum dan menaikkan bahu, seolah sedang menggoda Zayn bahwa mereka tak peduli.
TBC
as Hana
hay... hay...
makasih udh mau menanti ya 🤣🤣🤣
jangan marah karena crta ini terhubung dengan story Kenzo. jadi ay mesti belajar lagi biar ga ada plot hole 🤧
maaf ya jika lama
hmm masi ngambang ya, ay jelasin pelan2 oke?
__ADS_1
tapi, plis dong temanin 🤣 ay takut sendirian 🤣 apa lagi sendiri dalam kenangan ama mantan 🤭🤭
seperti biasa fotonya nyusul beb wkwkw