
Bara dan Rara keluar menuju suara itu berasal, yang ternyata berasal dari kamar Safira. Begitu mereka masuk ke dalam sana, suatu pemandangan yang sangat mengejutkan terjadi.
Sosok yang mereka tunggu kesadarannya, kini telah membuka matanya. Manik wanita itu menatap penuh kebingungan setiap orang yang ada di ruangan itu.
Denna mengusap kening Safira yang dipenuhi buliran keringat. "Safira, kau sudah sadar." air mata Denna mengalir begitu saja, ketika ia yang pertama menemukan Safira sudah mendapat kesadarannya kembali.
Rara tersenyum bahagia, begitu juga Bara yang menghembuskan nafas lega.
"Bagaimana perasaanmu sayang? Apakah ada yang terasa sakit?" tanya Denna.
Safira hanya diam, wanita itu masih belum sadar akan apa yang sudah terjadi. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah Dave. Manik wanita itu berulang kali menyusuri ruangan itu, mencari sosok pria yang sangat ia cintai.
"Safira, bicaralah." ucap Denna karena Safira hanya diam saja.
Denna melihat dokter, mempertanyakan keadaan Safira saat ini. Dokter yang mengerti, kemudian mengambil alih. Ia memeriksa kondisi Safira.
"Nona Safira tidak apa-apa. Beliau masih mendapat kesadaran dan ingatannya sepenuhnya. Saya harap semua orang membantu Nona Safira mengingat semuanya." tutur Dokter.
__ADS_1
Meski Safira sudah mendapatkan kesadarannya, ia hanya bisa berbaring saat ini. Tubuhnya masih sangat kaku setelah berbulan-bulan di atas tempat tidur.
Mereka bernafas lega, karena sebelumnya mengira Safira mengalami hal yang serius.
"Apa yang kau cari sayang?" Denna bertanya karena Safira seperti mencari sesuatu. "Kau mencari Ibu?"
Safira menggeleng samar, satu nama itu akhirnya terucap di bibirnya, "Dave..." suaranya sangat lirih.
Mereka semua mengerutkan kening, kenapa dari semua orang yang ia kenal Safira malah mencari pria itu? Pria yang jelas-jelas telah menghancurkan hidupnya.
"Dimana Dave?" tanya Safira. Wanita itu merasa sangat lemas, hanya bertemu Dave yang akan mengembalikan semangat dan kekuatannya.
Tidak ada yang berani membantah perintah itu, karena menurut mereka hanya Davina-lah yang paling mengerti Safira. Mereka semua akhirnya keluar, termasuk Bara sekali pun.
Setelah itu, Davina duduk di sebelah putrinya. Ia membelai rambut ikal yang berwarna kecoklatan itu.
Manik mereka saling bertemu, tetapi sama-sama memancarkan sesuatu yang sangat kelam.
__ADS_1
"Kau tidak merindukan Ibu?" tanya Davina.
Safira diam cukup lama, sampai nama itu kembali terucap.
"Dimana Dave. Aku ingin bertemu dengan Dave." semuanya tentang Dave.
Davina mengerutkan keningnya, "Kenapa mencari Dave hmm? Bukankah kau sangat membencinya?" jawab Davina.
Safira menggeleng, "Aku tidak membencinya." bantah sang putri membuat setitik amarah muncul di wajah Davina.
"Kenapa? Apakah kau tidak ingat apa yang sudah Dave lakukan padamu? Dia menghancurkan hidupmu, lalu meninggalkanmu dalam kehancuran. Tidak hanya itu, dia juga telah menculikmu." Davina mulai memberikan doktrin-doktrin yang akan membuat Safira membenci Dave.
Tetapi itu tidak berarti apa-apa pada Safira yang telah jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta pertamanya ini begitu sulit digoyahkan oleh siapa dan apa pun itu.
Manik Safira menggenang, ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ibu. Aku mencintainya. Aku mencintai Dave." ucap Safira berusaha menegaskan suaranya.
__ADS_1
"Jangan pisahkan kami Ibu. Aku mohon." lirihnya.