
Karena desakan-desakan dari saudari-saudarinya, Safira bingung memilih langkah yang mana. Dari lubuk hatinya meronta-ronta ingin kembali bersama Dave. Jujur saja, cintanya untuk pria itu masih seperti dulu, nama Dave masih melekat erat dalam hati dan pikirannya.
Namun, mengingat bagaimana perangai Dave saat ini, Safira merasakan sakit hati yang luar biasa di saat yang bersamaan. Ia benci melihat Dave bersama wanita lain. Rasanya ia ingin sekali mencabik-cabik wanita-wanita yang berniat mendekati Dave, tapi ia tidak punya kuasa untuk itu.
"Jika hatimu memang masih ragu, kau bisa bersikap jual mahal di depan Dave. Lihat seberapa besar perjuangannya. Setelah itu, tentukan sendiri apakah Dave pantas dimaafkan atau tidak."
Safira teringat dari nasihat Beatrix ketika mereka berbincang beberapa waktu lalu. Safira rasa tidak salah jika ia mencoba cara tersebut.
Ketika Safira meratapi nasibnya, ponselnya berdering, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.
"Halo." ucap Safira ketika seorang perempuan menyapa di seberang sana.
"Ini saya Diana, Bu Safira, sekretaris Pak Dave." Safira mengangkat alisnya ketika mendengar hal itu.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" Safira tidak ingin berbasa-basi dengan wanita ini. Mengingat apa yang telah dia lihat sebelumnya, jujur Safira merasa sensitif dengan gadis muda tersebut.
"Begini Bu Safira, saya ingin menginformasikan, untuk pertemuan berikutnya akan diwakilkan oleh saya sendiri. Dikarenakan Pak Dave sedang memiliki urusan yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain." ucap Diana di seberang sana.
Safira mengerutkan keningnya, sebenarnya ia penasaran urusan apa yang dimaksud, tapi ia terlalu gengsi untuk bertanya.
"Ya, saya mengerti. Tapi sebelumnya untuk hal semacam ini, kau bisa mengkonfirmasi pada Peter. Aku terlalu sibuk hanya untuk sepele ini." timpal Safira telak.
Terdengar suara Diana agak gugup, "Iya Bu Safira. Saya akan mengingat hal ini."
Ketika panggilan diakhiri sepihak, Diana mendesis kesal. "Hah, sombong sekali perempuan ini! Memangnya dia siapa berani mengabaikanku seperti ini?" dengan tidak tahu diri Diana berkata seperti itu. Ia tidak sadar, Safira berada jauh level di atasnya.
"Lihat saja, aku akan membuat hubungan kalian semakin hancur. Mungkin Pak Dave milikmu di masa lalu, tapi di masa depan Dave hanya akan menjadi milikku seorang." tekad perempuan itu.
__ADS_1
Keesokan harinya, sesuai jadwal yang telah ditentukan, Safira melakukan pertemuan dengan Diana.
Diana masuk ke dalam ruangan Safira yang tentunya sangat luas dan mewah. Diana memperhatikan setiap sudut ruangan, dalam hatinya terbersit perasaan iri dengki yang teramat sangat pada Safira.
Safira memiliki segalanya, harta yang berlimpah, keluarga yang saling melengkapi serta kecantikan yang tiada taranya yang mampu memikat setiap lelaki.
Niat ingin merebut seluruh kesempurnaan hidup Safira terbersit dalam hatinya. Ia menginginkan posisi Safira, sebagai ratu di hati Dave dan sebagai atasan di perusahaan ternama ini.
"Apakah pantas bersikap seperti itu ketika bertamu?" suara Safira mengejutkannya.
Diana terkejut, namun ia segera menetralkan ekspresinya. Wajahnya dibuat layaknya orang sombong, padahal ia tidak pantas sama sekali untuk itu.
"Maaf kalau itu mengganggu kenyamanan Bu Safira. Tapi saya hanya mengagumi ruangan Bu Safira." Diana bertutur lembut.
__ADS_1
Safira tidak menanggapi, ia duduk di sofa diikuti oleh Diana. Ketika mata Diana tertuju pada sebuah bingkai foto di meja kerjanya, mulutnya terasa gatal untuk melontarkan pertanyaan.