I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 85


__ADS_3

Dave memasuki sebuah restoran bintang lima yang telah ia reservasi sebelumnya. Pria itu diarahkan oleh pelayan ke sebuah ruangan VIP yang pribadi dan tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang.


Bukan sebuah makan siang dengan rekan atau kekasihnya, karena penampilan Dave saat ini tidak formal. Di tangan pria itu justru tersampir dua paper bag bercorak boneka disney. Entah kenapa mainan anak-anak itu ada di tangan seorang pengusaha besar dari negara tiran tersebut.


Dave tersenyum begitu ia melihat sosok perempuan yang sudah menunggunya di dalam sana. Langkahnya semakin cepat menghampiri perempuan itu, dengan wajah yang berseri-seri.


Dave berjongkok di depan sebuah kereta bayi yang berada dalam kendali perempuan itu. Sosok bayi mungil berada di dalam sana, tertawa ceria ketika melihat Dave untuk yang kesekian kalinya.


"Hello my little girl. How are you?" pria itu memainkan jari telunjuknya di hidung mungil bayi itu. Dan tentunya bayi cantik itu tertawa lepas.


Dave tidak tahan lagi, ia bergegas meraup bayi itu ke dalam pelukannya. Mencium pipi gembulnya dengan gemas tiada hentinya. Bayi itu seolah menyambut kehadiran Dave terlihat begitu senang dalam timangan sang ayah.


"Dave, hati-hati. Pipi Daisy sensitif, kau akan membuatnya memerah. Safira akan melihatnya dan menanyaiku nanti." perempuan itu mengingatkan Dave.


Dave menurut, "Maaf Beatrix. Gadisku ini sangat lucu. Aku tidak tahan." ucap Dave.

__ADS_1


Dave akhirnya duduk di kursinya sambil menggendong bayi cantik itu.


"Lihat sayang, apa yang Daddy bawa untukmu." Dave membuka paper bag yang ia bawa.


Beberapa boneka barbie dan mainan lain yang aman untuk bayi seusia Daisy ia keluarkan.


Beatrix menggelengkan kepalanya, ia terkekeh, "Dave Dave... kau pikir Daisy sudah bisa memainkan itu?"


Dave mengangkat alisnya, membuat Beatrix akhirnya menjawab, "Daisy baru berusia satu tahun. Belum masanya Daisy bermain boneka." nasihatnya.


Beatrix tersenyum, "Tidak apa-apa. Ini adalah pengalaman pertamamu sebagai ayah. Besok belikan saja mainan yang dapat melatih stimulus Daisy. Aku akan mengirimkan listnya padamu nanti." ucap Beatrix.


"Baiklah. Terima kasih atas sarannya dan juga untuk kebaikanmu karena telah mempertemukanku dengan putriku." ucap Dave dengan tulus.


"Santai saja. Tapi kuharap cepat-cepatlah merebut hati Safira. Karena tidak selamanya kau bisa bertemu Daisy sembunyi-sembunyi seperti ini." ucap Beatrix yang diangguki oleh Dave.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Safira?" tanya Dave.


"Dia baik. Dan tentu saja hatinya masih tetap untukmu." Beatrix tahu maksud dari pertanyaan itu. "Foto-fotomu masih tersimpan rapi di kamarnya dan aku masih sering melihatnya menangisi fotomu." beber perempuan itu.


Dave tersenyum, ia merasa lega mendengar hal itu. "Tapi jangan terlalu berharap tinggi. Mungkin untuk beberapa saat ini kau masih ada dalam hati Safira. Tapi tidak ada yang tahu nanti."


"Apa maksudmu?" Dave penasaran.


"Beberapa hari terakhir, Ayah dan Ibu sedang mencoba menjodohkan Safira dengan seseorang."


Begitu mendengar hal itu, tubuh Dave menegang. Darahnya mendidih oleh amarah.


Beatrix dapat melihat emosi di wajah pria itu, "Pria itu adalah teman baik Safira sewaktu masa pendidikan dan dia sudah menerima perjodohan itu tidak peduli bagaimana pun status dan kehadiran Daisy di antara mereka."


"Perjodohan ini hanya menunggu keputusan Safira saja. Jika sampai Safira menerima perjodohan itu, kemungkinan jalanmu akan semakin kecil untuk merebut Safira kembali." tutur Beatrix.

__ADS_1


__ADS_2