I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 83


__ADS_3

"Aku tidak mencemaskanmu! Jangan berpikir terlalu jauh!" Safira membantah dengan wajah kesal.


Dave mengangkat sebelah alisnya, melihat Safira dengan wajah seperti itu menjadi sebuah hiburan di tengah kesakitannya saat ini.


"Lalu kenapa kau bisa ada di sini kalau tidak cemas?" balas Dave dan itu membuat Safira bungkam tidak mampu mengelak.


"Aku yakin kau telah meninggalkan pekerjaanmu yang menumpuk itu, kemudian menghabiskan waktu mencari tempat tinggalku. Lalu, aku bisa tebak kau sudah berdiri sangat lama di depan apartemenku dan berpikir keras sandi apartemenku. Tidak hanya itu, kau juga memanggil dokter, membuat bubur dan kemudian mengompres kepalaku. Benar bukan?" ucap Dave dengan usil.


"Setelah pengorbanan yang kau lakukan itu, apakah salah jika aku menganggapmu mencemaskan diriku?" ucap Dave dengan sengaja.


Safira menggigit bibirnya, Dave berhasil menebak dirinya. Tapi Safira tetaplah wanita yang keras kepala dan tidak mau kalah. Ia tidak akan membenarkan tudingan pria itu.


"Itu tidak benar! Aku datang ke sini karena aku masih punya hati nurani! Aku masih punya hati tidak membiarkan pria brengsek sepertimu tidak mati sendirian di tempat ini!" balas Safira, namun Dave malah tertawa seperti orang gila.


"Ya, kau takut aku mati, karena kau tidak bisa hidup tanpa diriku." begitu percaya diri lelaki itu mengatakan hal itu. "Aku tidak akan heran lagi, mengingat betapa dirimu yang sangat mencintaiku dulu."

__ADS_1


Safira mengetatkan rahangnya, karena kekesalannya ia mengambil bantal dari tempat tidur, lalu memukuli Dave dengan bantal itu.


"Dasar sialan. Itu tidak benar!" Safira geram, sampai lupa kalau pria itu masih sakit.


Dave yang awalnya senang telah membuat Safira kesal, tiba-tiba kesakitan karena pukulan Safira yang kesal.


Safira terkejut mendengar ringisan Dave, ia menghentikan pukulannya.


"Kepalaku... sakit sekali." Dave memegangi kepalanya.


"Tidak, ini bukan karena dirimu." ucap Dave, tapi rasa sakit itu masih menyerang.


"Apa yang harus kulakukan?" Safira masih panik, ia kemudian segera mengambil obat, "Minum obatnya, supaya sakitnya hilang." ucapnya.


Namun sebelum pil itu masuk ke dalam mulutnya, Dave menjatuhkan kepalanya di pelukan wanita itu. Ia memeluk pinggang Safira sangat erat.

__ADS_1


"Aku hanya butuh dirimu. Bukan obat atau dokter, yang kubutuhkan hanya kau saja, tidak ada yang lain." lirih pria itu. Dave memejamkan matanya, menikmati hangat dan nyaman dalam dekapan wanita itu.


Safira yang terkejut berniat melepas pelukan itu, tapi Dave menggeleng kuat, "Kumohon jangan lepaskan. Biarkan seperti ini sebentar. Aku merindukanmu Safira, tidakkah kau merasakannya?" ucapnya.


Safira tidak menjawab, ia dapat merasakan betapa Dave sangat lemah saat ini. Ia tidak tega mendorongnya darinya.


Entah apa yang merasuki dirinya, kedua tangannya bergerak membalas pelukan itu, membuat Dave terlihat seperti anak kecil bersandar di dadanya.


"Sudah berapa lama kau sakit?" Safira sengaja bertanya agar Dave tidak membahas masa lalu.


Dave merasa Safira seperti ibu saat ini, "Sudah lama, tapi hari ini yang paling parah." jawabnya lemah.


Mendengar itu tentu Safira cemas, "Kenapa tidak pergi ke rumah sakit. Mungkin saja ini penyakit yang serius." cecarnya.


"Tidak ada yang lebih sakit bagiku setelah kau pergi meninggalkanku. Aku sakit setelah kau pergi, dan hanya kau seorang obat dari sakitku."

__ADS_1


__ADS_2