
"Kau keterlaluan Dave!" Safira menggerutu dengan wajah memerah. Penampilan wanita itu saat ini sangatlah berantakan. Make up hanya hancur oleh Dave yang menyerangnya habis-habisan.
Sementara Dave tidak merasa berdosa sama sekali. Pria itu dengan santai membenahi gaun Safira yang sudah berantakan karena ulahnya.
"Dave, mana celana dalamku!" sebenarnya Safira sangat malu menanyakan hal itu, tetapi ia merasa aneh di bawah sana.
Dave melihat ke lantai, sebuah kain mengenaskan teronggok di sana. Dave mengambilnya dan menunjukkannya pada Safira, "Kau masih mau memakai ini?" tanya pria itu santai.
Melihat bagaimana bentuk aset kecil miliknya itu, Safira berdecak kesal, "Kau benar-benar Dave. Kau merusaknya!"
Dave terkekeh, kemudian mengantongi ****** ***** Safira. "Ayo pulang, sudah larut, kau harus tidur." membantu Safira berdiri.
Safira dengan setengah hati bergerak, "Dave, aku merasa risih." rengek Safira.
Dave melihat Safira memegang pahanya, "Apakah di bawah sana dingin?" tanya pria itu yang diangguki oleh Safira. "Ingin kuhangatkan lagi?" senyum liciknya muncul.
Safira langsung memukul bahu Dave, "Dasar mesum."
__ADS_1
Dave tertawa geli, dan segera mengangkat Safira ke gendongannya.
"Jangan marah sayang. Aku akan membelikanmu seribu lusin ****** ***** di rumah." selorohnya.
***
"Sialan! Kau curang Safira!" teriak seorang gadis berambut pendek itu. Gadis itu tengah menonton video sepasang kekasih yang tengah bersenda gurau di sebuah tempat. Mata gadis itu memancarkan amarah yang membludak terhadap sahabatnya sejak kecil.
"Kau bilang tidak mencintai Dave, dan tidak akan sudi memilikinya. Tapi apa sekarang? Kau mengambilnya dariku!" tiada hentinya gadis itu mengumpat sahabatnya.
Mata gadis itu tertuju pada perut wanita dalam video itu. Mahkluk dalam perut wanita itu adalah penyebab dari semua ini. Alice menggeram, "Anak itu, kau tidak akan sempat melihatnya ke dunia ini!"
Karena cintanya pada Dave, gadis itu dibutakan hati nuraninya. Anak dalam kandungan Safira menjadi sasaran balas dendamnya. Alice tidak peduli sama sekali nasib makhluk tak berdosa itu. Ia lebih tidak rela melihat Dave bahagia bersama wanita lain.
Alice mengangkat ponselnya setelah menghubungi seseorang.
"Bunuh saja anak itu, sudah cukup aku membiarkan mereka bersenang-senang." perintahnya pada seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Tapi ingat, lakukan seolah-olah Safira yang sengaja membunuh anaknya sendiri, agar Dave membencinya!" setelah mengatakannya, Alice menutup panggilan.
"Maaf Safira, kau harus kehilangan putramu." bagaikan orang yang kehilangan kewarasannya, Alice menyentuh perut hamil Safira di layar komputernya, "Nak, maafkan bibi. Dulu bibi memang sangat menyayangimu dan menantikan kehadiranmu. Tapi karena ulah ibumu, kau harus membayar semuanya."
"Alice, kau dimana sayang?" panggilan seseorang membuat Alice terkejut. Buru-buru ia mematikan komputernya, sebelum orang itu masuk ke dalam kamarnya yang saat itu terbuka.
Alice keluar dari kamarnya, "Aunty..." Alice terkejut melihat kehadiran Davina ada di apartemennya.
Davina keheranan melihat ekspresinya, "Kau kenapa sayang. Kau sedang sakit?"
Alice menggeleng, "Tidak Aunty. Alice sedang tidur dan mengalami mimpi buruk."
Davina prihatin, kemudian memeluk sahabat putrinya tersebut. "Mimpi buruk apa yang menghinggapi tidurmu sampai anakku ini begitu ketakutan hmm?"
Air mata Alice mengalir, "Safira aunty... Safira .."
Mendengar nama putrinya disebut, tubuh Davina membeku, "Safira disakiti oleh Dave aunty... dalam mimpiku, Dave memukul Safira dengan cambuk sampai Safira..."
__ADS_1
"Cukup Alice. Aunty tidak ingin mendengarnya!"