I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 63


__ADS_3

Di sebuah rumah megah bagaikan istana kerajaan, dihuni oleh banyak anggota keluarga serta beberapa pelayan.


Davina baru saja membersihkan tubuh putrinya, Safira yang masih setia dalam mimpi indahnya. Selang infus masih melekat di tangannya, begitu juga selang oksigen yang membungkus indra penciumannya.


Sampai sekarang, Safira masih belum sadarkan diri. Sudah sebulan sejak ia meninggalkan Swiss, Safira masih betah terbaring di tempat tidur.


Sebenarnya, kesempatan wanita itu selamat dari kehamilannya sangat kecil. Dokter sudah mendoktrin, jika Safira belum bangun di waktu menjelang hari kelahiran, maka semua akan berakhir sudah. Nyawa anak dan Ibu itu akan terancam.


Davina meratapi gadis putrinya yang malang. Putri yang paling ia banggakan selama ini ternyata tidak memiliki nasib yang baik untuk soal asmara. Ia terlalu sial untuk itu.


"Bangunlah sayang. Lihat, sekarang kau sudah kembali ke rumah. Kita akan berkumpul seperti dulu lagi." Davina mengecup pipi putrinya.


"Ibu." seorang wanita hamil muncul dengan wajah ceria di sana.


"Sayang. Kemari." panggil Davina pada Rara, anak tiri yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Bagaimana keadaan Kak Safira Bu?" tanya Rara.

__ADS_1


"Seperti yang kita lihat Nak, Safira masih belum ada perkembangan." jawab Davina.


Rara menunjukkan wajah lesu, kemudian ia mengambil tangan Safira yang dingin dan pucat ke perutnya yang juga membuncit sama seperti Safira.


"Kak, apakah Kakak merasakan bayi gerakan dalam perutku? Mereka ada dua Kak." ucap Rara seolah Safira mendengarnya.


"Iya Kak. Rara mengandung anak kembar. Rasa sudah tidak sabar lagi menunggu kelahiran mereka. Kakak juga pasti kan?" cecar wanitanya Bara Pramana itu.


Meski tidak mendapat jawaban sama sekali dari Safira, mereka tetap optimis. Harapan mereka masih besar akan kesembuhan Safira.


***


"Anak itu cukup lancang juga." ucap Derri, setelah mendengar cerita dari putra angkatnya, Bara.


"Ibu sudah tidak heran lagi. Selama di sana pun, ia tidak takut lagi pada kita. Katanya, dia mencintai putri kita." Davina tersenyum sinis.


"Omong kosong! Laki-laki seperti dia mengatakan cinta?" Bara mendesis. Sebenarnya Bara geram terhadap Dave, ia ingin sekali bertemu dan menghabisinya. Tapi Davina selalu menghalang-halangi dirinya.

__ADS_1


Derri terkekeh, membuat Bara mengerutkan keningnya. "Ada apa Ayah?" tanya Bara.


"Semua orang juga tidak pernah menyangka kau bisa mengenal cinta. Kami masih ingat dengan jelas betapa kaku dan dinginnya dirimu, serta sikap kasarmu pada Rara. Tapi sekarang lihat, kau berubah seratus delapan puluh derajat." ucap Derri membuat Bara bungkam.


"Ayah, kita tidak sedang membahas itu sekarang." Bara mengalihkan pembicaraan.


Saat ini, ketiga orang itu tengah membahas Dave yang mulai bergerak mengintai keluarga Pramana. Beberapa hari ini, Bara mengetahui keberadaan anak buah Dave berkeliaran di sekitar kompleks perumahan mereka.


"Jangan berdebat di sini. Bara, perketat penjagaan di sekitar rumah. Dan juga lakukan inspeksi pada semua pelayan di rumah ini. Bisa saja salah satu dari mereka berkhianat." kata Davina, yang diangguki oleh Bara.


Bara kembali ke kamarnya, di sana sudah ada istri tersayangnya tengah asik membaca buku tentang kehamilan di atas sofa. Kakinya bersolonjor di kursi santai.


"Sudah makan?" tanya Bara sambil memeluk Rara dari belakang.


"Sudah."


Bara duduk di sofa dan memindahkan kaki Rara di atas kakinya. Rara kembali fokus ke bukunya, sambil menikmati pijatan lembut dari suaminya

__ADS_1


Belum lama mereka dalam posisi itu, terdengar teriakan Denna dari luar sana.


__ADS_2