
Waktu berlalu begitu cepat, Dave melewati hari-harinya dalam kehampaan. Dua tahun berlalu setelah Safira diambil paksa darinya, pria itu memilih meninggalkan Swiss. Meninggalkan segala kenangannya bersama wanita yang ia cintai di rumah itu.
Segala usaha yang Dave lakukan untuk mencari Safira, semuanya sia-sia. Keluarga Pramana tetaplah pemilik kekuasaan tertinggi, meski ia sudah hampir menandingi mereka.
Mereka benar-benar melakukan penjagaan ketat terhadap Safira, agar ia tidak bisa mendekat dan menemui kekasih hatinya tersebut.
Satu tahun terakhir ini, Dave memilih kembali ke Spanyol, dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Sikapnya yang berubah drastis tentu membuat Ilyana heran.
Dave yang dulunya hidup dalam kegelapan kini berubah drastis. Wanita dan kehidupan malamnya bukan lagi makanan kesukaan putranya. Ilyana tidak tahu betapa besar pengaruh Safira dalam hidup putranya.
Ilyana masuk ke dalam ruang kerja Dave, membawakan secangkir kopi untuknya. "Jangan terlalu memforsir dirimu Nak. Istirahatlah tepat waktu." ucap Ilyana yang memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Melihat kehadiran sang Ibu, Dave merasa mendapat kekuatannya kembali. Pria itu berpindah dari meja kerjanya dan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan sang Ibu.
"Jika aku tidak menyibukkan diriku dengan bekerja, maka aku akan gila karena memikirkannya Mom." kata pria itu.
Ilyana mengangguk, sembari mengusap kepala putra tunggalnya. Ilyana masih ingat dengan jelas ketika Dave pulang dua tahun yang lalu. Datang dengan keadaan yang memprihatinkan. Putranya menangis untuk yang pertama kali di usia dewasa.
Hatinya bergetar melihat putranya yang ia anggap kuat ternyata bisa lemah hanya karena seorang wanita. Ternyata putranya telah ditaklukkan oleh seorang wanita yang tepat. Lelaki bastard itu telah ditaklukkan oleh gadis yang belum mengenal yang namanya cinta.
Ilyana telah melihat bagaimana perjuangan Dave agar bisa menemui Safira. Namun menghadapi keluarga Pramana adalah hal yang paling sulit. Namun, itu tidak akan membuat semangat Dave pupus.
"Jangan mengatakan itu Nak. Semua orang pernah berbuat salah dan masa lalu yang buruk. Tapi, selagi orang itu mau berubah dan memperbaiki masa lalunya, maka tidak ada namanya yang tidak pantas. Hanya Tuhan yang menentukan segala tindak tanduk hidup kita, jadi jika kalian berjodoh, suatu saat nanti pasti akan dipertemukan kembali." hanya itu yang bisa Ilyana katakan untuk mengurangi sedikit beban di hati putranya.
__ADS_1
Dave menegakkan tubuhnya perlahan, ia melihat air mata di pelupuk mata sang ibu.
"Mom, kau menangis?" Dave segera mengusapnya.
Tangis Ilyana semakin menjadi, membuat Dave bingung.
"Kenapa Mom?"
"Anak kalian pasti sudah besar sekarang. Tapi kau, ayah kandungnya sama sekali belum bertemu dengan anakmu." Ilyana terisak.
Tadinya ia yang menguatkan hati putranya, tetapi mengingat cucunya lahir tanpa hadirnya seorang ayah, Ilyana tidak dapat membendung air matanya. Hatinya begitu sedih kala mengingat kerinduan putranya pada Safira dan anaknya selama ini.
__ADS_1
Dave tertegun, ya benar, mungkin anaknya saat ini sudah berumur satu tahun lebih. Atau mungkin anaknya sudah belajar berjalan.
Tapi ia sebagai seorang ayah tidak dapat menemani setiap tumbuh kembang putri kecilnya.