
Di dalam sebuah Range Rover vantablack, seorang wanita berparas bagaikan dewi surga, duduk di depan kemudi. Wanita itu mengemudikan mobil dengan harga selangit itu dengan begitu lihai, membelah jalanan kota Berlin yang dingin.
Mobil itu terparkir di depan sebuah rumah megah bak istana kerajaan, setelah sekian lama berkelana. Wanita itu masuk ke dalam kediaman yang sekaligus menjadi tempatnya lahir dan besar.
Tangisan seorang bayi dari lantai atas, semakin membuat wanita itu mempercepat langkahnya. Wajah cemas yang disertai kerinduan terukir jelas di wajahnya.
Setelah memasuki sebuah ruangan yang begitu nyaman, tangisan itu semakin terdengar kuat.
"Anak Mommy sayang. Kau menangis terlalu lama. Maafkan Mom." wanita itu segera menimang bayi kecil yang sangat cantik itu.
Begitu ia memeluknya, tangis bayi itu berhenti. Bayi itu seolah tahu siapa yang menggendongnya saat ini.
Lantunan lagu yang menenangkan membuat bayi mungil itu tenang. Tangis yang tadinya menggelegar seolah memecah dunia, dalam sekejap berubah menjadi nafas yang tenang.
__ADS_1
"Safira, kau sudah pulang?" seorang perempuan masuk ke dalam ruangan.
Ya, wanita itu adalah Safira Pramana, putri kedua dari pasangan Derri dan Davina Pramana.
Wanita itu tersenyum pada saudaranya, Denna. "Iya Kak. Aku tiba-tiba saja merindukan Daisy di kantor." ucap wanita yang masih saja cantik dan bahkan semakin cantik saja.
Denna tersenyum, ia duduk di samping Safira yang tengah menyusui putri kecilnya. Usia putrinya sudah hampir dua tahun, tetapi Safira belum berhenti memberikan asinya.
Gadis kecilnya begitu cantik, secantik ibunya. Hidung dan bibir kecilnya persis seperti ibunya, sedangkan matanya berwarna hijau sama seperti ayahnya.
"Harusnya kau sudah berhenti memberikan asimu." kata Denna. "Lihat badan keponakanku menjadi gembul karena kau selalu menjejalnya dengan asi." Denna begitu cerewet untuk hal ini, pasalnya sudah sejak lama ia mengingatkan sang adik.
"Kak, sudahlah. Daisy baru genap satu tahun, dia masih butuh nutrisi penuh dari asi. Aku tidak ingin dia makan makanan sembarangan." bantah Safira.
__ADS_1
Menjadi orang tua tunggal bagi putri kecilnya, begitu banyak pengalaman yang Safira lewati sendirian tanpa hadirnya ayah dari putrinya. Mulai dari melahirkan hingga putrinya kini hampir berusia dua tahun, Safira melakukannya sendirian.
"Kau ini memang susah sekali." gerutu Denna.
"Sudahlah Kak. Jangan fokus denganku, sekarang Kakak pikirkan saja permintaan Ayah dan Ibu." ucap Safira. Mendengar itu Denna mengerucutkan bibirnya.
"Sudah berapa kali Kakak katakan, Kakak tidak akan menikah sebelum kau bahagia." tegas Denna.
Safira memicingkan matanya, kemudian memindahkan Daisy yang sudah terlelap ke dalam baby box. Ia tidak ingin, perdebatan mereka mengganggu tidur bidadari kecilnya.
"Kak Denna, kumohon dengan sangat, berhenti memikirkan kebahagiaanku. Fokus dengan diri dan masa depan Kakak. Bukankah Kakak lihat sendiri, aku bahagia dengan hidupku saat ini. Aku tinggal di antara kalian yang selalu menyayangiku dan..." melihat bayi cantiknya yang tidur dengan tenang di sana. "Aku punya Daisy dalam hidupku. Kehadirannya adalah sebuah anugerah yang sempurna bagiku." tutur Safira lembut.
Denna merasa bersalah pada Safira, akan semua perilaku buruknya, membuat adiknya tersebut mengalami musibah mengerikan. Perasaan bersalah itu membuat Denna memilih menunda kebahagiaannya. Ia akan bahagia jika Safira mendapat kebahagiaannya.
__ADS_1
"Safira, mungkin kau bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan aku. Matamu mengatakan segalanya bahwa kau tidak bahagia dengan hidupmu saat ini. Aku tahu kau mengharapkan sesuatu, tapi mustahil bisa kau gapai."