
Safira telah selesai memakai sepatunya, ia bersiap melangkah pergi, namun Dave tidak membiarkannya pergi semudah itu. Dave menahan sakit kepalanya, demi menahan wanita itu di sini.
Dan berhasil, kini Safira berada dalam pelukannya. Keningnya yang hangat bersandar di bahu Safira.
"Jangan pergi. Kumohon." ucap pria itu penuh permohonan.
Safira diam di sana, ia bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi ia menikmati pelukan yang selalu memberikan kenyamanan untuknya. Namun di sisi lain, hatinya memberontak menjauh dari pria ini ketika teringat segala keburukan Dave.
"Lepaskan aku. Aku harus pulang." ucap Safira pelan dan tanpa ekspresi.
Dave menggeleng, ia sungguh tidak rela wanita ini pergi darinya.
"Ayolah Dave, jangan kekanakan!" ucap Safira, dan lagi Dave masih menggeleng.
Safira memejamkan matanya disertai hembusan nafas resah, "Aku masih punya putri yang harus kuperhatikan di rumah."
Begitu kalimat itu terucap, pelukan Dave melonggar. Pria itu lupa jika ada putrinya lebih membutuhkan Safira dibandingkan dirinya saat ini.
__ADS_1
Setelah merasa Dave tidak berontak lagi, Safira berbalik. "Di dapur masih ada sisa bubur yang kumasak tadi, tinggal kau panaskan saja. Dan juga obatmu ada di meja kamarmu." ucap Safira.
"Jangan manja, Daisy saja kalau sakit tidak serewel dirimu." ucap wanita itu.
"Aku pergi dulu." setelah itu wanita itu pergi dari sana.
Dan tinggallah Dave sendirian di sana sambil meratapi nasibnya.
Safira berjalan terburu-buru keluar dari gedung apartment Dave. Saat ini ia sungguh merindukan putri kecilnya, Daisy.
Ketika ia sampai di lobi, seseorang menabraknya entah sengaja atau tidak.
Ketika wanita itu melihatnya, ia pun terkejut, "Bu Safira? Anda di sini juga, sedang apa?" cecar gadis itu.
Safira tidak langsung menjawab, "Aku ada urusan di sini." tentu ia tidak akan mengatakan bahwa ia dari apartemen Dave.
Diana mengangguk, kemudian menunjukkan sebuah paper bag, "Ini pesanan Pak Dave, saya disuruh mengantar ke apartemennya." ucap gadis itu tanpa Safira tanyai sedikit pun.
__ADS_1
Safira mengangkat alisnya, sedikit demi sedikit kini ia mulai dapat menilai sifat sekretaris kekasih masa lalunya tersebut. Kini Safira tahu bagaimana membentengi diri dan waspada pada gadis itu.
"Iya, lanjutkan. Saya buru-buru. Saya pergi dulu." ucapnya tanpa ingin berlama-lama bicara dengan Diana.
Diana memperhatikan Safira dari belakang, dan jelas tatapannya tertuju pada sepatu yang Safira kenakan.
Bibirnya tertarik sinis, "Dasar serigala berbulu domba." gerutunya.
Gadis itu kemudian pergi, bukan ke apartment Dave, melainkan membuang paper bag yang ia pegang tadi.
Sedangkan di lantai paling atas gedung elit yang terletak di tengah kota Berlin, Dave duduk di meja makan minimalis miliknya. Semangkuk bubur hangat kini tersedia di depannya. Sesuap demi sesuap bubur masuk ke dalam mulutnya.
Sebenarnya ia sangat tidak suka bubur, apalagi ketika ia sedang sakit saat ini, tentu ia tidak berselera makan makanan apapun.
Tapi karena bubur ini buatan wanita pujaannya, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakannya. Dave bahkan memakannya dengan lahap bubur itu, seolah itu adalah makanan kesukaannya.
Setelah menghabiskan buburnya, Dave meminum obat sesuai dengan nasihat wanitanya.
__ADS_1
Karena kepalanya masih sedikit berdenyut, ia memilih tidur. Tapi sebelum itu, ia menghubungi seseorang.
"I miss my daughter."