
Dave membuka matanya bersusah payah ketika merasakan sesuatu yg dingin di keningnya. Keningnya berkerut, rasa sakit di kepalanya masih terasa membuat pandangannya sedikit redup.
Samar-samar ia melihat siluet punggung kecil tengah berdiri di cermin kamarnya. Entah apa yang pemilik siluet itu lakukan di sana. Dave sangat mengenal tubuh itu meski dari belakang.
Dave mengerjapkan mata seraya menggelengkan kepalanya. Dave pikir ia tengah halusinasi, namun ternyata sosok itu masih berdiri di sana. Siapa sosok misterius itu?
Semua pertanyaan Dave terjawab ketika sosok mungil itu memutar tubuhnya menghadapinya. Dave terpaku, begitu pun sosok cantik menawan yang tengah memegang nampan di tangannya.
Ya, ternyata pemilik siluet itu adalah Safira. Tapi bagaimana mungkin Safira bisa ada di apartemennya? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Safira... kau...." Dave hendak duduk, tetapi sakit di kepalanya menyerang, membuatnya meringis kesakitan.
Safira segera meletakkan nampan dengan semangkuk bubur hangat yang masih mengepulkan asapnya.
"Jangan banyak bergerak, kepalamu masih sakit." ucap Safira lembut, dan tentu saja hati Dave begitu hangat mendengarnya.
Dave menatap Safira dengan wajah bingung, namun yakinlah hatinya dipenuhi bunga-bunga saat ini. Safira terlihat begitu mencemaskannya saat ini. Entah bagaimana bisa Safira tiba-tiba di sini, Dave tidak peduli, yang paling penting adalah ia bisa bersama wanita pujaannya.
__ADS_1
Safira kemudian mengaduk bubur, meniupnya lalu menyodorkan pada laki-laki itu. "Makanlah. Kata dokter perutmu belum terisi makanan." ucap Safira lembut.
Dave melihat bubur putih yang pastinya terasa hambar, ia tidak berselera sama sekali. Dan Safira bisa melihat bahwa Dave menolak suapannya.
"Dave, aku tahu kau tidak berselera. Tapi jika kau tidak makan, maka kau akan semakin sakit." pinta Safira.
Kalau saja bukan karena Safira yang menyuapinya saat ini, sebetulnya Dave tidak akan mau memakan bubur itu. Hingga akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, Dave membuka mulutnya. Dan Safira segera memasukkan satu suap bubur yang hanya dibubuhi dengan sejumput garam.
"Langsung telan saja." sarannya karena Dave seperti akan muntah.
"Apakah tidak ada makanan lain?" protes pria itu.
Beberapa kali Dave menolak suapan demi suapan, tapi Safira selalu mampu meruntuhkan pertahanannya. Begitu selalu hingga satu mangkuk bubur itu tandas tak bersisa.
"Sepuluh menit lagi, kau harus minum obat. Tunggu sebentar, aku akan ke dapur." ucap Safira yang diangguki Dave dengan lemah.
Setelah kepergian Safira, mengambil ponselnya. Ia memeriksa apa yang membuat Safira ada di apartemennya. Sampai akhirnya ia melihat riwayat panggilan, kemudian ingatan saat ia bicara dengan Safira di telepon berputar di kepalanya.
__ADS_1
Dave terpaku sejenak, namun hatinya seolah melayang tinggi. Hanya karena mendengar suara lemahnya, Safira berlari hanya untuk dirinya.
Tidak lama kemudian, Safira kembali, kini dengan segelas air putih di tangannya.
"Dari mana kau tahu dimana aku tinggal?" tanya Dave.
"Peter." jawabnya singkat, sambil memilah pil yang diresepkan oleh dokter sebelumnya.
Dave tersenyum, namun ia belum menyerah, "Lalu pin apartemenku, tidak ada yang tahu selain aku sendiri. Bagaimana kau bisa masuk kemari?"
Safira cukup lama menjawab, "Aku hanya menebak saja. Dan kebetulan tebakanku benar." jawabnya.
"Oh ya?"
"Iya."
"Sebenarnya aku tidak sakit parah, harusnya kau tidak pelu secemas itu denganku." ucap Dave.
__ADS_1
Safira akhirnya menatapnya, "Siapa yang cemas?"
"Kau."