I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 71


__ADS_3

Safira berdecak kesal untuk yang kesekian kalinya. Ia melihat jam tangannya, sudah lima belas menit ia menunggu orang yang membuat janji temu dengannya hari ini. Ia telah menyempatkan waktunya disela aktivitasnya yang sangat sibuk, tetapi ia masih harus menunggu seperti saat ini.


"Peter, apakah orang ini jelas? Bisa-bisanya dia membuatku menunggu, sebenarnya ini demi kepentingan siapa?" gerutu Safira pada asistennya. Baru kali ini ada orang yang berani membuat Safira menunggu selama ini.


"Kita tunggu sebentar lagi Miss, dia sedang dalam perjalanan kemari." ucap sang asisten.


"Baik. Lima menit, lewat dari lima menit kita pulang. Aku harus pulang melihat Daisy!" cetusnya.


Dan lima menit berlalu dengan cepat, tanpa ingin berlama-lama Safira mengambil tasnya, lalu berdiri.


"Sudah lima menit, aku harus pulang. Jika dia masih ingin bertemu denganku, buat janji temu yang baru!" ucapnya.


Tetapi ketika ia berbalik, Safira mematung seketika. Matanya membulat sempurna melihat sosok lelaki yang berdiri di sana. Lutut Safira melemas, ia hampir tidak bisa menopang tubuhnya.

__ADS_1


Jantungnya berdetak begitu kencang, ketika sorot mata yang lembut itu menatapnya. Penuh kerinduan, tubuhnya meronta ingin berlari ke dalam pelukan sosok itu.


Safira memejamkan matanya, ia berharap ia hanya sedang berhalusinasi saat ini. Tetapi ketika ia membuka matanya kembali, sosok itu tidak menghilang. Ia masih berdiri di sana, menatapnya penuh kerinduan.


"Safira...." suara berat pria itu memanggil namanya, berhasil membuat tubuhnya berdesir. Safira rindu pada sosok ini. Rindu akan wajah tampannya, rindu suaranya yang dulu selalu mengungkapkan cinta untuknya, dan terlebih rindu akan sentuhan lembutnya.


Pria itu melangkahkan kakinya mendekat, membuat Safira refleks hampir terjatuh. Melihat jantung hatinya hampir jatuh, Dave bergerak cepat menangkap Safira.


Tubuh wanita itu jatuh tepat di pelukannya, Dave menyorotnya begitu intens. Melihat sepuasnya wanita yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini.


"Hai...." akibat jantungnya yang berdetak begitu kencang, bibirnya kelu untuk mengucapkan satu patah kata pun.


Mungkin karena suara beratnya, Safira tersadar dari lamunannya. Wanita itu mendorongnya menjauh. Hal itu membuat Dave keheranan, sebab tatapan Safira yang tadinya penuh kerinduan kini begitu sengit. Ada setitik kebencian di dalam manik yang cantik itu.

__ADS_1


"Sayang...." Dave hendak menyentuhnya, namun Safira menjauh. Seolah ia merasa jijik disentuh oleh pria itu. Safira menatapnya dingin, seolah ia tidak mengenal Dave sebelumnya.


"Maaf, saya tidak memiliki urusan dengan Anda!" ucapnya. "Peter, dimana orang itu? Apakah dia masih berniat bertemu denganku?!" ucapnya pada sang asisten.


Peter kebingungan akan suasana saat ini, tapi tak urung ia melakukan apa yang atasannya perintahkan.


Peter mengambil ponselnya, lalu mendial orang yang membuat dengan Safira hari ini. Ketika ponsel Dave berdering, Safira dan Peter saling melihat.


"Itu aku Safira, orang yang membuat janji denganmu." Dave menunjukkan layar ponselnya.


Safira menggigit bibirnya, andai ia tahu orang yang akan ia temui adalah Dave, ia tidak akan datang.


"Maaf, saya harus pergi, saya punya urusan mendadak." Safira melangkah hendak pergi.

__ADS_1


"Tunggu. Safira, kau mau kemana? Ini aku Dave, kau tidak merindukanku?" Dave menahannya.


Safira membalas tatapannya, ia menggeleng samar, "Tidak. Aku tidak merindukanmu! Aku berharap kita tidak bertemu lagi setelah ini!"


__ADS_2