I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 75


__ADS_3

Safira baru saja sampai di perusahaan, namun Peter sudah menyambutnya dengan pekerjaan yang menggunung.


"Nona, Tuan Rodriguez sudah menunggu di ruang tamu." ucap Peter ketika ia baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Safira mengangkat alisnya, ada secercah perasaan senang dalam hatinya. "Aku akan segera ke sana." ucapnya.


Ketika Peter pergi, diam-diam Safira menarik nafasnya berulang kali, dan senyum kecil muncul di wajah cantiknya. Safira meruntuhkan segala batasan dalam dirinya dan menghapus sisa-sisa kebencian dari hatinya.


Tidak lupa, sebelum menemui Dave ia mengoleskan lip gloss ke bibirnya, dan mematut penampilannya di cermin yang ada di ruangannya.


Safira benar-benar ingin berdamai dengan masa lalu. Kini ia ingin memperjuangkan kebahagiaannya dan juga kebahagiaan putrinya.


Namun, semua harapan itu pupus dalam seketika, ketika ia melangkahkan kakinya di ruang tamu. Sebuah pemandangan yang amat menyayat hatinya, terpampang nyata di hadapannya. Dimana saat ini, Dave tengah berpelukan mesra dengan seorang wanita.


Safira menggigit bibirnya, pun nafasnya tertahan menahan emosi yang kian membludak. Ia berdehem, membuat kedua orang yang tengah berpelukan mesra itu tersadar.

__ADS_1


Dave terkejut melihatnya, dan buru-buru melepaskan dirinya dari wanita itu. "Safira." Dave berdiri dengan wajah panik. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Dave berusaha menjelaskan agar Safira tidak keberatan.


"Memangnya apa yang kupikirkan?" potong Safira dengan wajah dinginnya.


"Tidak, maksudku yang kau lihat barusan...."


"Kalian pasangan yang romantis." lagi-lagi Safira memotong penjelasan Dave. Ia melihat perempuan itu dingin, memindai gadis berparas cantik itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Safira..." Dave bingung bagaimana harus menjelaskan, Safira terus-terusan memotongnya.


"Ikut ke ruanganku. Kita harus menyelesaikan pertemuan ini dengan cepat, aku masih punya banyak agenda lain." ucapnya, lalu pergi ke dalam ruangannya.


"Sekian pertemuan kita hari ini. Untuk penjelasan lebih jelasnya, saya dan sekretaris Diana akan saling berkomunikasi." ucap Peter menutup rapat.


"Boleh saya bicara empat mata dengan Nona Safira?" pinta Dave.

__ADS_1


Peter melihat Safira, ketika Safira menganggukkan kepalanya, Peter mengajak Diana keluar, dan membiarkan atasannya bicara empat mata.


"Safira, aku bersumpah yang kau lihat tadi hanya kesalahpahaman. Diana tadi..."


"Untuk apa kau menjelaskan semua ini? Aku tidak peduli Dave! Camkan itu. Kau bukan siapa-siapa, dan aku tidak peduli sama sekali apa yang kau lakukan di luar sana." suara Safira meninggi. Wajahnya begitu dingin dipenuhi oleh amarah.


"Safira..." nada suara Dave melemah.


"Kupikir kau ingin membahas sesuatu yang penting. Maaf, aku tidak punya waktu untuk itu." Safira berdiri, "Silahkan keluar Tuan Rodriguez, saya masih punya banyak pekerjaan." usirnya terang-terangan.


Dave mau tidak mau berdiri, ia menatap wanita pujaannya dengan mata sayu. Ia ingin sekali memeluk wanita itu erat saat ini juga.


"Safira, apakah benar-benar tidak ada kesempatan untukku?" tanya Dave.


"Jangan meminta kesempatan, jika kau saja belum berubah sama sekali! Melihat sikapmu saat ini, aku tidak yakin kau bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku!" ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


"Safira, Diana hanya sekretarisku. Kami tidak punya hubungan apapun selain atasan dengan bawahan. Yang kau lihat tadi hanyalah sebuah kecelakaan yang tepat kau lihat!" Dave berusaha menjelaskan.


"Aku tidak peduli Dave. Sudah berapa kali kukatakan, aku tidak peduli!"


__ADS_2