I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 79


__ADS_3

"Itu foto siapa Bu Safira? Cantik sekali. Apakah itu putrimu?" ucapnya yang hanya diangguki oleh Safira secara acuh tak acuh.


"Cantik sekali, dia sangat mirip denganmu." ucap Diana. Tapi Safira tidak menanggapi, dia sibuk dengan dokumen di tangannya.


Diana mengerutkan keningnya, "Maaf kalau saya lancang, kalau tidak salah ingat bukannya Bu Safira belum menikah?" gadis itu begitu lancang.


Safira akhirnya tidak bisa menahan diri, ia meletakkan kertas dokumen itu di meja dengan kasar. Dan tentunya Diana terkejut akan itu.


"Bu Diana, sebelumnya saya mau bertanya apa tujuanmu datang ke sini." itu adalah sebuah penekanan.


Diana merasa terintimidasi, tetapi ia tetap mempertahankan ekspresinya.


"Maaf, kalau ternyata Bu Safira tersinggung dengan ucapan saya. Tapi saya tidak bermaksud sama sekali menyinggung perasaan Anda. Sekali lagi saya minta maaf." tuturnya.


Safira benar-benar muak dengan wanita itu, ingin rasanya ia mengusirnya dari sini.

__ADS_1


Meski hatinya panas, Safira tetap profesional dalam pekerjaannya. Meski dengan setengah hati ia melakukan rapat dengan sekretaris dari pria masa lalunya tersebut.


"Bu Safira, saya kagum dengan kemampuan Anda dalam berbisnis. Saya harap saya bisa menjadi seperti anda kelak." ujar Diana setelah diskusi selesai.


Seperti biasanya, Safira tidak menanggapinya. "Dengan bantuan dan bimbingan dari Pak Dave, saya yakin bisa seperti Anda."


Ketika mendengar itu, Safira membalas tatapan Diana, hatinya mulai memanas.


"Dave?" lirihnya yang masih didengar oleh Diana.


Safira tersenyum membalas celoteh Diana, "Saya tidak menyangka Pak Dave sebaik itu padamu. Padahal seingat saya dia orang yang sulit menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Kau hebat sekali Bu Diana, mampu mencairkan orang sekaku Pak Dave." balas Safira, tanpa menunjukkan rasa sakit hatinya. Meski sebenarnya dadanya terasa sesak menahan kesal.


Awalnya Diana berpikir berhasil membuat Safira terprovokasi, ternyata ia salah. Gadis itu bingung.


"Benarkah begitu? Sepertinya Bu Safira sangat mengenal Pak Dave? Apakah sebelumnya kalian sudah saling mengenal dulu?" timpal Diana.

__ADS_1


Safira tidak langsung menjawab, ia berpikir cukup lama, kemudian menggelengkan kepalanya, yang mana membuat Diana tersenyum sinis.


"Tidak. Aku dan atasanmu tidak kenal dan bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Saya hanya mendengar tentang beliau dari rekan-rekan yang mengenalnya."


"Begitu saya. Saya pikir kalian saling mengenal. Saya rasa pertemuan kita berakhir sampai di sini. Setelah ini saya masih harus mengikuti Pak Dave ke luar kota untuk pertemuan penting."


"Untuk pertemuan berikutnya, saya akan menghubungi asisten Anda. Saya pamit, senang berbisnis dengan Anda."


Safira hanya mengangguk tanpa berniat menjawab.


Namun sebelum Diana benar-benar pergi, Safira melihat ponsel Diana berdering. Nama Dave tertera di layar ponsel tanpa embel-embel 'Pak'. Hal itu menandakan bahwa hubungan keduanya sudah begitu dekat.


Safira tidak terkejut lagi, mengingat kecantikan Diana yang tidak kalah jauh darinya, tentunya akan mencuri perhatian Dave yang notabenenya adalah pecinta wanita.


Setelah Diana keluar dari ruangannya, ponselnya berdering. Pria yang sebelumnya memenuhi pikirannya menghubunginya. Tapi Safira tidak berniat sama sekali mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2