
Menjadi orang tua tunggal, bukanlah hal yang mudah bagi Safira. Ini adalah sebuah pengalaman baru dan yang pertama baginya. Dimana dulu dirinya hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi kini bayi kecilnya menjadi tanggung jawabnya.
Meski Davina juga turut membantunya dan anggota keluarga lainnya, tetap saja Safira tidak ingin lepas tangan. Ia ingin tangannya sendiri yang merawat putri kecilnya.
Safira tertegun ketika Denna mengatakan hal itu, ia tidak menyangka Denna mampu menyelami perasaannya. Padahal ia sudah menyembunyikan apa yang ia rasakan selama ini dari keluarganya. Senyumnya membuat semua orang berpikir bahwa ia bahagia, padahal sebenarnya tidak.
"Kau masih mencintai laki-laki itu?" tanya Denna.
Safira menggeleng dengan cepat, "Apa yang Kakak maksud?"
"Dave, kau masih mencintainya kan?" tanya Denna sekali lagi.
__ADS_1
Safira menggigit bibirnya, wajah pria yang merupakan ayah dari putrinya terbayang di benaknya.
"Kakak memang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kalian. Tapi Kakak bisa melihat di matamu masih tersimpan kerinduan untuk Dave. Kakak tidak menebak isi hatimu, tetapi semua sikapmu menunjukkan semua itu." tutur Denna.
"Kak Denna, Kakak tidak mengerti apa-apa soal perasaanku. Hatiku sudah tertutup untuk orang yang telah menghancurkan hidupku. Perasaanku padanya hanyalah sebuah kehampaan, jadi Kakak jangan berasumsi." Safira masih mencoba menyanggah perkataan sang Kakak.
Denna tersenyum, keras kepala Safira masih sama seperti dulu, tidak pernah berubah.
"Kakak tidak berasumsi kalau itu yang kau pikirkan. Sebenarnya Kakak tidak ingin mengatakan ini, tapi karena kau memaksa, baiklah. Kau kira Kakak tidak tahu bahwa kau masih menyimpan foto Dave dan selalu memperhatikannya setiap malam?"
Melihat itu Denna tersenyum, kemudian mengusap kepala sang adik lembut.
__ADS_1
"Kakak tidak memaksamu sayang. Kakak hanya ingin memberikanmu pencerahan agar kau tidak menyesal nantinya. Hatimu memang masih untuk Dave, tetapi jika batinmu menolak untuk kembali padanya, itu terserah padamu. Karena hidupmu, kau sendiri yang menjalani." nasehat Denna.
Safira hanya bisa diam, ia bertanya-tanya pada hatinya, seberapa besar ia mencintai Dave.
"Satu lagi, kau mengatakan Dave menghancurkan hidupmu? Tapi sekarang lihat, apakah menurutmu kehadiran Daisy adalah sebuah kehancuran? Apakah Daisy adalah sebuah musibah bagimu? Tanyakan pada dirimu sendiri adikku sayang. Kakak mengatakan ini karena Kakak tidak mau kau menyesal nantinya. Karena penyesalan itu selalu datang diakhir."
"Kak..." manik Safira berkaca-kaca. Ia juga tidak mengerti dengan hatinya.
Jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat merindukan Dave. Cintanya pada pria itu bertumbuh semakin besar seiring bertambahnya waktu.
Namun, sebuah kebenaran melenyapkan cinta yang teramat besar itu. Sesuatu yang mengganjal di hatinya, membuatnya mampu bertahan tidak ingin menemui Dave.
__ADS_1
Selama ini, ia tahu Dave mencarinya dan selalu mengawasinya. Tetapi ia berpura-pura tidak tahu dan membiarkan Dave bingung akan sikapnya.
"Seingat Kakak, kau mencari-cari keberadaan Dave ketika kau bangun dari koma. Kau bahkan tidak peduli dengan kami yang jelas-jelas harusnya kau rindukan. Tapi mengapa sekarang kau bersikap seolah-olah kau sangat membenci Dave? Apa yang Ibu katakan padamu saat itu, yang membuat hatimu berubah dalam sekejap?" cecar Denna. Rasanya, Denna tidak bisa tenang jika melihat adiknya ini memendam segalanya.