
Dave terduduk lemas di kursi tunggu ruang rawat Safira yang masih kritis sampai saat ini. Meski obat yang Anna berikan belum bereaksi untuk membunuh bayinya, tetap saja kondisi Safira dan bayinya tidak baik-baik saja.
Bayinya begitu lemah saat ini, dan keselamatannya bergantung pada kekuatan Safira berjuang antara hidup dan mati.
"Sayang, bertahanlah. Setelah ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu merasakan sakit lagi." lirihnya.
Saat ini, Safira belum bisa dikunjungi untuk proses sterilisasi, membuat Dave hanya bisa melihat wanitanya dari pintu kaca.
Ponsel Dave berbunyi, pesan dari anak buahnya tentang siapa dalang dibalik semua ini. Dave mengeratkan rahangnya ketika satu nama itu tertulis di layar ponselnya.
"Alice!" Dave menggeram marah. Tidak menyangka perempuan yang hampir menjadi istrinya itu tega melakukan hal sejahat ini pada Safira. Mengingat begitu eratnya persahabatan Safira dan Alice, siapa pun tidak akan menyangka.
Dave menghubungi anak buahnya, "Bawa dia ke hadapanku! Hidup atau mati!" perintahnya.
Di tengah kegundahannya, pundak Dave disentuh oleh seseorang. Dave membalikkan tubuhnya, dia terkejut bukan main. Cukup lama Dave bungkam, bingung harus mengatakan apa pada sosok yang melahirkan wanita yang ia cintai ke dunia ini.
__ADS_1
"Ibu..." Dave terbata-bata. Setitik ketakutan terselip di hati pria itu.
"Dimana putriku!" suara dingin wanita itu membuat Dave semakin meremang.
Dave melihat pintu ruang rawat dimana Safira berada. "Safira masih kritis dan belum bisa ditemui."
Davina mengikuti arah pandangan itu, hatinya berdenyut sakit melihat putrinya kini terbaring lemas di sana. Dia tidak menyangka, begitu banyak masalah yang menimpa putrinya dalam satu waktu ini. Lima bulan tidak bertemu, mereka malah dipertemukan dengan keadaan seperti ini.
"Ibu, biarkan aku menjelaskan semuanya." Dave menurunkan nada bicaranya yang angkuh seperti biasanya. Kini ia merendah pada orang yang mungkin akan mengambil Safira darinya.
Dave diam, untuk pertama kalinya ia merendah namun malah mendapat balasan seperti ini. Tapi Dave tidak masalah, rasanya lebih baik ia diperlakukan buruk, dihina dan dicaci dari pada harus kehilangan wanita yang ia cintai.
Dave berlutut di hadapan Davina, tanpa memperdulikan harga diri yang ia junjung tinggi selama ini. Namun, demi Safira Dave rela merendahkan harga dirinya.
"Aku mohon Ibu. Berikan aku satu kesempatan." ucap Dave. Ia menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa hormatnya pada Davina.
__ADS_1
Namun Davina tetaplah seorang ibu, yang memiliki hati yang rapuh jika anak-anaknya menderita seperti saat ini.
Terutama Safira, sejak kecil putri keduanya itu tidak pernah melakukan hal yang membuatnya susah. Safira tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan seperti yang Denna lakukan, Kakak sulungnya.
Selama memiliki Safira menjadi putrinya, Safira selalu membuatnya bangga. Baik dalam hal pendidikan maupun dalam dunia kerja.
Tapi kenapa, dibalik hidupnya yang damai, nasib Safira harus seburuk ini? Apakah ini semua karma karena ia telah menganiaya istri kedua dan anak dari suaminya? Mungkinkah karma itu benar-benar terjadi pada Safira?
Davina masih angkuh terhadap Dave, "Aku akan segera kembali dan membawa putriku pulang." ucap Davina sebelum membalikkan tubuhnya. Wanita paruh baya itu meninggalkan Dave begitu saja.
Jantung Dave berpacu semakin cepat, tidak, ia tidak boleh membiarkan Safira pergi. Safira adalah jantung hatinya. Dia akan tiada jika Safira tidak ada di sisinya.
"Aku mencintai Safira Ibu." teriak Dave.
Dan benar saja, langkah Davina berhenti ketika kalimat keramat itu terucap dari bibir pria bastard itu.
__ADS_1