I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 56


__ADS_3

Safira dan Dave saling memandang, "Apa itu sakit?" tanya Dave.


Safira menggeleng. Gerakan itu kembali terasa, Dave dan Safira merasakan hal yang luar biasa pagi ini. Keduanya dapat merasakan kehadiran buah hati mereka secara nyata meski bayi suci itu belum lahir.


Manik Safira berkaca-kaca, dalam hatinya bercampur aduk segala rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Nak, kau mendengar Daddy?" Dave bertanya, dan yang benar saja, tendangan-tendangan kecil terasa seolah itu adalah respon makhluk itu terhadap ayahnya.


Safira tersenyum begitu juga Dave, "Kau lihat itu sayang?"


Safira menggeleng, "Iya Dave. Ini terasa sangat nyata. Anak kita mengerti apa yang kita katakan."


"Aku rasa anak kita tidak suka kau menertawakan Daddy-nya. Iya kan Nak?" ucap Dave, dan secara tiba-tiba gerakan yang agak kuat terasa, membuat Safira mendesis.


"Hei sayang, pelan-pelan. Mommy kesakitan." mengelus perut Safira lembut, seolah-olah meredakan marah bayinya.


Safira tertawa bahagia, momen ini begitu menyenangkan dan langka baginya dan tentunya bagi Dave juga.


Menunjukkan betapa bahagianya Dave saat ini, pria itu mencium perut Safira berkali-kali. "Cepatlah lahir sayang, Daddy tidak sabar bermain denganmu."

__ADS_1


"Dave, kau berharap anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Safira.


"Hmm memangnya kenapa sayang?"


Safira menggeleng, "Tidak ada. Aku hanya ingin menanyakan pendapatmu saja."


"Laki-laki atau perempuan sama saja bagiku. Dia tetaplah darah dagingku. Aku akan menyayanginya melebihi diriku sendiri." ungkap Dave, dan tentu untuk yang kesekian kalinya hati Safira dialiri kehangatan yang tiada taranya.


"Bagaimana denganmu hmm?"


"Tidak jauh berbeda darimu, aku akan menerima anak ini laki-laki atau perempuan. Tapi..." senyum Safira mengembang.


"Aku mengharapkan bayi laki-laki. Karena dari kecil aku hanya punya saudara perempuan. Kak Bara memang saudaraku, tetapi umur kami terpaut jauh, membuatnya lebih dewasa dan tidak bermain lagi bersama kami. Kak Bara hanya bisa menjadi penjaga untuk kami." tutur Safira.


Dave gemas melihat ketika Safira bicara. Wanita itu seperti kembali ke masa lalu ketika bercerita.


"Lalu bagaimana kalau anak pertama kita perempuan?"


"Seperti yang kukatakan tadi, aku akan tetap menyayanginya. Lagi pula anak ini yang menjadi saksi betapa cepatnya perubahan hidupku. Dia akan menjadi anak tersayang sekaligus sahabat hidupku suatu saat nanti."

__ADS_1


Mendengar itu, Dave tidak tahan untuk memeluk dan mencium setiap inci wajah Safira. "Dan aku akan menjadi pelindung untuk kalian berdua." timpal Dave.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian merasa sendiri di dunia ini. Setiap hembusan nafasku hanya ada untukmu dan anak kita." ungkap Dave dengan sungguh-sungguh.


Safira menikmati perlakuan lembut Dave, wanita itu memejamkan matanya. Mengingat segala yang terjadi dalam hidupnya yang berputar bagai roller coster.


"Sayang..." panggil Dave.


"Iya?"


"Kalau anak pertama kita perempuan, kau tidak perlu risau." ucapnya. Safira menunggu ucapan pria itu berikutnya. "Kita bisa membuatnya lagi."


Wajah Safira bersemu merah, "Kalau anak kedua kita masih perempuan?"


"Kita buat lagi." jawab Dave enteng.


"Kalau masih perempuan?" timpal Safira lagi.


"Kita buat lagi sampai kita mendapatkan anak laki-laki." jawab Dave disertai tawa.

__ADS_1


Safira mendengus kesal, "Dasar. Kau pikir hamil itu mudah? Kau saja yang hamil kalau begitu!" memukul dada Dave gemas.


__ADS_2