I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 49


__ADS_3

Dave baru saja sampai di rumah, pria itu memilih pulang lebih awal hari ini. Pria itu merasa waktunya bersama Safira semakin sedikit karena pekerjaannya di kantor. Malam ini, ia akan menghabiskan waktu bersama wanita kesayangannya.


Dave masuk ke kamar mereka, dia tidak menemukan Rara di sana. Pria itu hendak keluar untuk mencarinya, tetapi ketika ia akan membuka pintu, pintu sudah terlebih dulu dibuka. Tentunya itu adalah Safira, muncul dengan tampilan menawan yang dibalut oleh baju hamil selututnya.


"Kau sudah pulang?" sapa Safira.


"Kau dari mana?" bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya.


"Aku baru mengantar Steven ke kandangnya." jawab wanita itu polos.


Sudah Dave duga sebelumnya, Steven telah mengambil alih dunia wanita itu.


Dave menariknya masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu rapat-rapat. Pria itu memeluknya erat, tapi tidak menyakiti perut buncit Safira. Dave memejamkan matanya sejenak, dia sangat merindukan wanita ini.


Safira yang awalnya bingung, kini pasrah dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Cukup lama mereka dalam posisi itu, membuat Safira lelah.


"Kakiku pegal Dave." rengek wanita itu.

__ADS_1


Dave sadar, perasaan bersalah muncul dalam dirinya. Ia membawa Safira duduk di di ranjang dan membentangkan kaki Safira di atas pangkuannya.


Dave memperhatikan kaki Safira yang mulai membengkak, serta perut Safira yang sudah begitu menonjol. Padahal baru empat bulan, tetapi sudah sebesar itu. Dave cukup cemas dibuatnya.


Dave mengambil botol krim pijat yang dibelinya saat di perjalanan pulang tadi.


Dave mulai menyentuh kaki Safira, membalurkan krim pijat itu di kedua kaki Safira. Setelahnya, Dave membuat tekanan perlahan dan penuh teknik. Pria itu memijat kakinya. Sepertinya kemampuan Dave tidak perlu diragukan, wajah Safira yang awalnya berkerut karena menahan pegal di kakinya, kini terlihat tenang dan menikmati apa yang Dave lakukan.


"Bagaimana, terlalu kuat?" tanya Dave, memastikan bahwa Safira tidak kesakitan.


Dave hanya tersenyum, kemudian melanjutkan pijatannya. Kurang lebih sepuluh menit Dave memijat kakinya, Safira merasa lebih baik. Arus peredaran darah di kakinya terasa lancar.


"Sudah lebih baik?"


Safira mengangguk cepat, "Hmm... kau sangat pandai. Terima kasih."


"Mandilah, aku akan menyiapkan bajumu." kata wanita itu.

__ADS_1


"Aku belum selesai, Nona." Dave tak menurut. "Buka bajumu." perintahnya.


Kening Safira berkerut, wanita itu menggeleng, "Dave..."


Dave menyentil kening Safira gemas, "Apa yang ada dalam otak kecilmu ini? Buka bajumu agar aku bisa memijat bahumu juga." katanya.


Safira bungkam, wajahnya merah merona. Ia begitu malu karena telah memikirkan hal yang tidak-tidak.


Karena wanita itu tidak melakukan apa yang dia suruh, Dave akhirnya membuka sendiri piyama longgar berwarna biru langit tersebut. Hingga kini tubuh bagian atas Safira terpampang nyata.


Safira terkejut, apalagi ketika Dave membalur krim di sekitar punggung hingga dadanya. Wanita itu merasa tenang dan rileks, Dave begitu terampil dalam memijat.


"Kau memikirkan hal mesum ya?" tanya Dave sengaja. Pria itu tersenyum licik di belakang Safira.


Lagi, wajah Safira memerah, wanita itu menggeleng cepat. "Ti..tidak." bantahnya.


Dave mengusap perut Safira, menggeser badannya agar bisa mencium buah hatinya yang tengah bersemayam di perut Safira. Dave tidak ingin mengakhiri keintiman itu, pria itu mengarahkan telinganya agar bisa mendengar detak jantung dua makhluk yang kini telah mencuri dunianya.

__ADS_1


__ADS_2