
Hari ini, merupakan hari yang paling Dave tunggu-tunggu selama dua tahun ini. Pria itu begitu bersemangat bangun dari tidurnya, tidak seperti pagi sebelumnya, selalu suram dan hampa.
Dave turun dari kamarnya, ia menyapa kedua orang tuanya yang sedang menunggunya sarapan. Ketika Dave mencium pipi sang Ibu, Ilyana mengangkat alisnya.
Ia melihat penampilan putranya begitu berbeda hari ini. Dan juga senyum itu, senyum yang telah lama hilang itu tiba-tiba muncul pagi ini.
"Ada apa ini?" tanya Ilyana. Meski Dave sudah menginjak usia kepala tiga, tapi baginya Dave tetaplah putra kecilnya.
Dave tersenyum, "Kalau aku membawa cucumu pulang ke rumah, apakah Mom senang?" tanya pria itu.
Ilyana menghentikan makannya, begitu juga dengan Tuan Rodriguez.
"Apa maksudmu Dave? Why not? Mom pasti akan sangat senang." jawab Ilyana sungguh-sungguh. "Apa yang sebenarnya terjadi Dave, kenapa kau menanyakan hal itu?"
Dave melihat kedua orang tuanya, "Hari ini, Dave akan terbang Jerman dan menemui Safira." ucapnya dan tentunya ekspresi wajah Ilyana menjadi antusias.
__ADS_1
"Sungguh? Bagaimana bisa?" wanita itu begitu penasaran.
"Ceritanya panjang, Dave akan ceritakan pada Mom setelah kembali dari sana." timpalnya.
"Dan Daddy harap kau berhasil membawa menantu dan cucuku kembali ke rumah ini." timpal Tuan Rodriguez yang sebelumnya mengalami perang dingin dengannya.
"Pasti Dad. Aku akan membawa mereka kembali." jawab Dave pasti.
Meski belum ada hubungan yang mengikat antara dirinya dan Safira, tetapi dalam keluarga ini Safira sudah dianggap menjadi menantu mereka. Begitu besar harapan mereka Safira pulang ke rumah ini.
Sebelumnya Dave tidak yakin pertemuan yang ia ajukan dengan Safira diterima, tetapi ketika pagi subuh, Diana mengabarinya, ia terlonjak senang.
"Tunggu aku sayang. Aku akan membawamu kembali." lirihnya.
Hampir dua jam Dave mengudara, pesawat jet pribadinya mendarat di bandara Hamburg. Pria itu bergegas menuju hotel, tempat ia akan mempersiapkan dirinya untuk bertemu wanitanya. Janji temu mereka pukul tiga sore, sementara sekarang masih menjelang siang, ia masih punya waktu untuk mempersiapkan dirinya.
__ADS_1
Di kamar hotel, Dave bukannya beristirahat atau mempersiapkan dirinya. Dering ponselnya berbunyi sedari tadi.
"Ada apa? Kenapa kau selalu menggangguku!" Dave menjawab dengan kesal panggilan dari Diana yang mengganggunya sedari tadi.
Dave mengetatkan rahangnya ketika Diana menjawab di sana. "Cepat kirimkan sekarang juga. Jangan membuang waktu!" perintahnya.
Dave menggerutu kesal, di saat seperti ini ia masih harus dibebankan dengan pekerjaan kantor. Pria itu mengambil laptopnya, dan dengan cepat mengerjakan laporan yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Dave kebablasan, pria itu tidak sadar berapa lama ia menghabiskan waktu untuk pekerjaannya.
Pria itu tersadar ketika ia melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tiga. Dave mengumpat kesal. Tidak peduli pekerjaannya yang belum selesai, ia dengan langkah besarnya meluncur ke tempat dimana mereka akan bertemu.
"Diana, awas saja kalau sampai pertemuan ini gagal." gerutunya ketika ia menancap gas menuju Safira menunggunya saat ini.
Butuh waktu lima belas menit agar sampai ke sana, dan Dave tidak yakin Safira masih menunggunya. Tetapi Dave masih berharap besar, ia tetap masuk ke dalam gedung pertemuan itu.
__ADS_1
Setelah ia bertanya pada petugas, pria itu memasuki ruangan. Dan ternyata tidak sesuai harapannya.