
Waktu berjalan sangat cepat, sekali lagi Dave mengerjapkan matanya. Entah sudah berapa kali ia tertidur hari ini. Ia melihat ke sampingnya, nafasnya lega karena masih melihat wanita itu di sana. Wanita itu tertidur pulas di sebelahnya.
Momen-momen seperti ini, jelas tidak akan Dave sia-siakan begitu saja. Ia menatap wajah cantik itu lamat-lamat, mengurai rindu yang menumpuk dalam hatinya. Andai ia bisa membuat wanita ini terus tertidur seperti ini.
Setelah cukup lama memperhatikan Safira, Dave bangkit dari tempat tidur. Rasa sakitnya sudah berkurang setelah Safira merawatnya. Meski masih merasa pening, ia masih sanggup berjalan, tidak seperti sebelumnya.
Hari sudah mulai sore, ini yang Dave takutkan. Jika Safira bangun, wanita itu pasti akan pergi lagi, dan tinggallah dirinya sendiri di sini. Entah apa yang harus ia lakukan agar Safira tetap bersamanya.
Sembari menunggu Safira tidur, Dave membersihkan tubuhnya, badannya sangat gerah karena dari semalam ia belum mandi. Tepat ketika ia selesai mandi, bel apartemennya berbunyi.
Dengan hati yang enggan ia membuka pintu. Keningnya berkerut melihat sekretarisnya di sana. "Ada apa?" tanyanya tanpa mempersilahkan Diana masuk ke dalam.
Diana tersenyum, "Maaf Pak, saya terpaksa datang ke sini karena Anda tidak mengangkat telepon dari saya." ucapnya dengan tutur yang sopan, tapi Dave sangat risih dengan itu.
"Saya ketiduran. Pulanglah, aku akan membuka ponselku." ucap Dave singkat, tanpa ingin melihat gadis itu lama-lama di sini.
__ADS_1
"Tunggu Pak, saya..." saat itu mata Diana tertuju pada sepatu high heels hitam yang berada di dalam apartemen, menandakan bahwa ada perempuan di dalam sana. "Setidaknya biarkan saya masuk Pak." ucapnya tanpa tahu malu, ia benar-benar penasaran siapa wanita itu.
Dave mengangkat alisnya, tidak habis pikir akan kelancangan wanita tersebut.
"Apakah itu diharuskan?"
Lagi-lagi senyum memuakkan itu terukir, "Lift umum rusak Pak, jadi saya harus naik tangga darurat agar bisa sampai di sini. Lantai dua puluh lima Pak, saya hampir kehilangan kaki saya. Juga, saya kehausan, setidaknya berikan saya segelas air?"
Dave menggelengkan kepalanya, "Itu bukan urusan saya, karena saya tidak yang menyuruhmu datang ke sini. Dan ingat, ini bukan toko minuman!" pintu tertutup rapat setelah Dave mengatakan itu.
"Sekarang Anda bisa begitu sombong Tuan Dave, tapi lihat suatu saat nanti aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku!" lirihnya dengan hati yang panas terbakar emosi.
Ketika Dave membalikkan tubuhnya, ia cukup terkejut melihat Safira sudah berdiri di anak tangga terakhir.
"Kau sudah bangun?" tanya Dave.
__ADS_1
"Siapa?" bukannya menjawab Safira malah balik bertanya.
"Bukan siapa-siapa." Dave sungguh takut sekarang.
"Diana?"
Pada akhirnya Dave tidak mengelak, "Iya, itu Diana, dia ingin membahas tentang pekerjaan." ucapnya.
Safira hanya menganggukkan kepalanya, tanpa ingin menanggapi, yang mana malah membuat Dave semakin cemas.
"Jangan salah paham, aku..."
"Ada apa? Kenapa wajahmu tegang seperti itu?" Safira melewati Dave.
Dave bingung akan sikap wanita itu, Safira terlalu susah ditebak.
__ADS_1
Safira memakai sepatunya, "Kau sudah sembuh kan? Kalau begitu aku pulang dulu."