
Di kantornya, Dave sedang memimpin rapat dengan investornya. Rapat ini menjadi salah satu jalan yang akan semakin melambungkan nama Dave dan perusahaanya.
Pada saat itu, ponselnya berdering. Awalnya Dave mengabaikan karena panggilan itu bukan berasal dari Safira maupun Anna. Tetapi karena sudah berulang kali, Dave akhirnya izin menjawab telepon.
Dave membeku ketika mendengar suara sosok di seberang sana. Tangan pria itu gemetar, namun ketika mendengar ucapan orang itu selanjutnya, maniknya membulat sempurna.
Tanpa memutus panggilan, Dave meninggalkan ruang rapat itu begitu saja. Meninggalkan kesempatan besar yang akan membesarkan namanya.
Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Jantungnya berpacu dengan begitu cepat, disertai ketakutan yang amat sangat pada wanitanya yang kini terancam keselamatannya.
Tidak butuh waktu lama, Dave sampai di rumah, dimana wanitanya ia kurung selama ini. Rumah itu begitu hening, tidak seperti biasanya.
Ketika pria itu membuka pintu kamarnya, Dave melihat Safira bersama dengan Anna. Safira tengah meminum sesuatu saat itu, membuat Dave dengan gerakan cepat berlari dan menyingkirkan minuman itu dari mulut Safira.
Tapi terlambat, Safira telah menghabiskan setengah gelasnya sebelum gelas itu berhamburan di atas lantai.
"Dave..." Safira begitu terkejut, begitu pun dengan Anna.
__ADS_1
Dave melihat Anna dengan tatapan tajam, seakan Dave siap untuk merobek wanita yang dia kira setia padanya.
"Kau, dasar pengkhianat!" bentak Dave pada Anna. Tanpa segan lagi, Dave mendorong Anna hingga terpental ke dinding kamarnya. Tangan besarnya mencekik leher wanita itu.
"Tuan..." Anna berusaha bicara.
"Beraninya kau mengkhianatiku Anna. Aku akan membunuhmu!" amarah Dave berapi-api.
"Dave apa yang kau lakukan pada Anna? Kenapa kau mencekiknya?" Safira pun merasa terkejut dan ketakutan dengan kedatangan Dave yang tiba-tiba menyerang Anna, tangan kanannya.
Dave seakan tuli dan semakin mengeratkan tangannya. "Orang yang berani berkhianat padaku tidak akan selamat!"
"Dave, perutku..." Safira terduduk di atas lantai, memegangi perutnya yang kesakitan.
Melihat itu Dave panik, namun amarahnya pada Anna semakin membludak. "Apa yang telah kau lakukan padanya sialan!"
Dave menghempaskan Anna dengan kasar, lalu berlari pada Safira.
__ADS_1
"Safira...."
"Dave sakit..." Safira merintih kesakitan. Tanpa pikir panjang, Dave mengangkat Safira dan membawanya pergi.
Namun sebelum itu, "Kau tidak akan lolos dariku sialan!" ancamnya pada Anna yang juga telah terkulai lemas di sana.
Dave dengan kepanikannya melarikan Safira ke rumah sakit. Melihat Safira yang terus merintih kesakitan, Dave merasakan sakit tak terperi di hatinya.
"Bersabarlah sayang. Kita akan segera sampai." Dave tidak lagi mempedulikan keselamatannya, pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Begitu sampai di rumah sakit, Safira segera dimasukkan ke ruang UGD. Perjuangan Dave hanya sampai di sini, selebihnya adalah tugas dokter dan kuasa Tuhan terhadap keselamatan anak dan wanitanya.
Berulang kali Dave menarik nafasnya, meredakan segala amarah dalam dirinya. Pria itu merendah pada sang pencipta, dan memohon keselamatan untuk dua makhluk yang kini berjuang untuk hidup.
Cukup lama, dokter akhirnya keluar dari ruangan. Dave mencecar dokter.
"Istri Anda mengonsumsi obat peluruh janin Pak." satu kalimat itu berhasil membuat lutut Dave lemas.
__ADS_1
"Beruntung Anda membawa istri Anda dengan cepat, sehingga obat itu belum bereaksi total." tutur dokter.
"Lalu bagaimana kondisi mereka dokter, itu berarti anak dan istriku selamat bukan?"