
Safira membalas tatapannya, ia menggeleng samar, "Tidak. Aku tidak merindukanmu! aku tidak mengenalmu sama sekali. Dan kuharap kita tidak bertemu lagi setelah ini!"
Setelah mengatakan itu, Safira segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Dave yang tidak ingin kehilangan kesempatan, mengikutinya.
Seberapa cepat Safira melangkah, tetap saja ia tidak akan bisa mengimbangi langkah panjang Dave.
"Safira apa maksudmu? Kenapa sikapmu menjadi seperti ini? Apakah mau tidak ingat janji kita dulu? Bukankah kau mengatakan bahwa kau sangat mencintaiku?" cecar Dave.
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu!" cetus Safira tepat di hadapan Dave. Beruntung mereka berada di tempat yang sepi, kalau tidak mereka akan menjadi tontonan orang.
Dave terdiam, jika diingat-ingat memang benar Safira tidak pernah mengungkapkan perasaannya dalam kata cinta. Namun perlakuan dan sikap Safira terhadapnya telah menunjukkan segalanya, membuat Dave berpikir Safira juga mencintainya.
Jika memang benar Safira tidak mencintainya, itu artinya Safira hanya berpura-pura pada masa itu? Dave merasakan sakit yang luar biasa di ulu hatinya. Safira berhasil menghancurkan perasaannya.
__ADS_1
"Kau...." Dave tidak sanggup lagi mengatakan apapun lagi.
Safira tersenyum sinis, "Iya, waktu itu aku hanya berpura-pura seolah aku sangat mencintaimu, agar aku bisa mengelabui dirimu." wanita itu terkekeh. "Memangnya kau pikir kau sehebat apa sampai aku harus mencintaimu? Kau tidak pantas Tuan Rodriguez! Kau hanyalah bajingan yang berani-beraninya menghancurkan hidupku!"
Dave merasa dadanya sesak, bagai sembiluh belati menyayat hatinya. Jika orang lain yang mengatakan itu, Dave mungkin tidak akan sakit hati. Tetapi kini Safira mengatakannya, itu adalah sebuah pukulan berat baginya.
Awalnya Dave masih ingin mencecar berbagai pertanyaan pada wanita itu, tetapi kini ia tidak sanggup lagi. Mengetahui kenyataan bahwa Safira tidak mencintainya, sudah berhasil meruntuhkan kekuatan hatinya.
Safira yang tidak ingin berlama-lama melihat pria itu memilih pergi, tapi lagi-lagi Dave menahannya. Membuat Safira melihatnya dengan marah.
"Putriku...." ketika nama itu terucap dari bibir Dave, tubuh Safira gemetaran. "Biarkan aku menemui putriku." tidak mendapatkan cinta kekasih hatinya, setidaknya ia juga berhak menemui putrinya tercinta.
Safira hendak menolak permintaan itu, dan Dave mengetahuinya. "Jangan menghalangiku Safira. Aku menerima kenyataan bahwa kau tidak mencintaiku. Tapi aku juga berhak atas putriku, jangan mencoba memisahkan kami!" itu adalah sebuah peringatan bagi Safira.
__ADS_1
Sebenarnya Safira takut jika nanti Dave merebut putrinya darinya, tetapi apa yang Dave katakan benar. Ia tidak berhak memisahkan anaknya dari ayahnya, bahkan sebejat apapun Dave.
Safira menarik tangannya yang sebelumnya digenggam oleh Dave, "Baik. Aku akan mengatur waktu untuk kalian." Safira menunjuk Dave dengan telunjuknya, "Tapi ingat, jangan mencoba merebut Daisy dariku! Aku yang mengandungnya, dan aku yang paling berhak atas putriku."
Dave menatapnya intens, kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku akan menunggu saat itu."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Safira segera berlalu dari hadapan Dave. Dave kini hanya bisa melihat punggung wanita itu, hingga menghilang dari jangkauan matanya.
Ketika Dave membalikkan tubuhnya, ia melihat lelaki yang sebelumnya ada di ruang pertemuan.
Pria itu menganggukkan kepalanya padanya sebagai tanda hormat.
"Kami izin pergi Sir." ucap Peter.
__ADS_1