
Keduanya saling memandang, ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Safira, karena perasaan dalam dirinya telah menggunung.
Sekeras-kerasnya batu gunung, pada akhirnya akan semakin terkikis oleh air hujan. Begitu juga dengan hati wanita yang sangat keras itu, lama-lama semakin luluh akan setiap sikap lembut Dave selama ini.
Ya, tidak muluk-muluk lagi, Safira benar-benar jatuh ke dalam sebuah perasaan yang lebih pada Dave. Sebuah perasaan yang seharusnya tidak ia miliki.
Memang, Safira begitu bodoh karena telah jatuh hati pada seorang lelaki yang begitu jahanam dan amoral. Tetapi, setiap waktu yang mereka lewati bersama dan setiap sisi lain yang Dave tunjukkan telah sanggup meruntuhkan batasan yang Safira bentengi dengan kokoh.
Sudah berkali-kali Safira menghilangkan perasaan itu, namun perasaan tidak bisa dibohongi. Wanita berhati dingin itu telah jatuh cinta pada seorang bastard tidak tahu diri.
"Siapa yang akan meninggalkanmu?" tanya Dave lembut. Safira menundukkan kepalanya, tidak berniat menjawab.
"Safira..." Dave menghadapkan wajah Safira agar melihatnya. Manik Safira berkaca-kaca, membuat hati bastard itu terenyuh melihatnya. "Apakah menurutmu aku akan meninggalkan malaikatku? Apakah menurutmu aku sanggup meninggalkan orang yang telah membantuku keluar dari dunia gelapku?" tanya Dave begitu lirih.
__ADS_1
Safira terpaku, ia ingin menebak tetapi dia tidak ingin terlena akan jawaban dalam hatinya.
"Aku bodoh Safira dan akan sangat menyesal jika sampai aku meninggalkan berlian berhargaku. Dan mungkin, aku akan menjadi pria terbodoh karena telah meninggalkan wanita yang begitu sempurna seperti dirimu." tutur Dave yang akhirnya sanggup membuat hati wanita itu meleleh.
"Dave..." Safira tidak bisa berkata-kata. Semuanya tercekat di tenggorokannya.
Melihat bibir ranum wanita itu yang bergetar menahan tangis, Dave tidak tahan untuk tidak menyesapnya. Tanpa aba-aba, bibir Safira sudah lenyap dalam kehangatan bibirnya.
Dave melakukannya perlahan, namun penuh perasaan, yang mana membuat Safira semakin tidak karuan akan seluruh perasaan yang berkumpul di dalam dadanya. Semuanya campur aduk, dan siap meledak kapan saja.
"Aku mencintaimu Safira." belum sempat Safira menarik oksigen setelah pertautan yang berlangsung cukup lama itu, kini Safira harus dibuat sesak akan pernyataan itu.
Kaki wanita itu lemas, hampir tidak dapat menopang tubuhnya, membuat Dave menangkapnya.
__ADS_1
"Sayang, kau..."
"Dave, berhenti membuat bualan. Itu tidak lucu!" Safira merasa semua ini terlalu cepat.
"Untuk apa aku membual Safira? Kau tahu aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku." mencium keningnya, "Aku sungguh mencintaimu Safira. Sangat mencintaimu."
"Aku mencintaimu lebih dari apapun. Asal kau tahu, sudah lama aku ingin menyatakan perasaan ini padamu, tetapi aku sama sekali tidak punya posisi yang kuat untuk mempertahankan dirimu."
"Kakakmu, aku yakin dia akan mengambilmu dariku suatu saat nanti. Oleh karena itu, aku mempersiapkan segala sesuatunya agar bisa melawan Kakakmu."
Mendengar itu Safira menjadi cemas, wanita itu menggeleng, "Jangan menyakiti Kakakku!"
Dave pun menggeleng, "Aku tidak akan melakukannya. Aku menggunakan cara lain untuk membuat Bara tidak bisa merebutmu dariku. Tapi percayalah, caraku tidak seburuk yang kau kira."
__ADS_1
Wajah Safira masih penuh tanya membuat Dave mulai menjelaskan semuanya.