I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 60


__ADS_3

Dave duduk di samping wanita yang masih terkulai lemah itu. Sudah ratusan kecupan ia berikan di setiap sudut wajah Safira. Namun hal itu tidak akan mengubah bahwa gadis ini akan pergi dari sisinya.


"Sayang, apa yang harus kulakukan agar kita bisa bersama?" lirih Dave, meletakkan tangan Safira di pipinya, seolah memberikan kehangatan ke tangan yang sangat dingin itu.


"Ternyata semua usahaku selama ini sia-sia. Aku benar-benar tidak bisa melawan kekuasaan keluargamu." pria itu begitu frustasi.


"Awalnya aku ingin melakukan perang dengan Kakakmu. Tapi aku sadar, cara itu tidak akan menjadi jalan keluar. Aku tidak ingin memilikimu dengan cara seperti itu. Aku ingin kau bersanding di sampingku tanpa beban sedikit pun."


Dave berbicara menganggap Safira mendengarnya. Pria itu enggan meninggalkan kekasih hatinya barang sebentar pun. Hingga Dave tertidur di samping wanita itu. Namun, sebelum lelap menjemput, sebuah cincin perak bermata batu ruby yang berkilauan dia sematkan di jari manis wanita itu.


Dan ketika mentari mulai menyinari bumi pertiwi, saat itulah Dave tidak bisa bernafas dengan tenang. Setiap detik yang terlewati, jantungnya turut berdegub dengan begitu kencangnya.


Apalagi ketika pintu kamar terbuka, beberapa orang perawat datang, diikuti oleh dokter yang menangani Safira selama satu hari itu.

__ADS_1


"Sir, saya akan memeriksa kondisi istri Anda sebelum dipindahkan." kata dokter tersebut.


"Apa maksudmu! Kalian, jangan coba-coba menyentuh istriku!" Dave tidak terima dan tersulut emosi ketika mendengar hal itu.


"Sejak kapan Safira menjadi istrimu!" suara seorang wanita terdengar dari ambang pintu.


Dave bungkam untuk sesaat, setelah itu Dave beringsut memohon pada wanita itu. Meluruhkan segala rasa gengsi dan harga diri yang ia junjung tinggi.


"Aku mohon Ibu. Jangan ambil dia dariku." pintanya.


"Kau tidak berhak menghalangiku Tuan Rodriguez!" Davina menatapnya angkuh. "Safira adalah putriku, aku yang melahirkannya! Sedangkan kau, kau hanya bajingan yang entah datang dari mana menghancurkan kehidupannya!"


"Kau harusnya bersyukur bukan Bara yang datang. Jika tidak, mungkin kau sudah kehilangan nyawamu! Dan kau pikir, aku tidak tahu kau secara diam-diam membangun perusahaanmu agar bisa mengalahkan keluarga Pramana?" Davina tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Sekali pun kau penguasa dunia ini, kau tidak akan bisa mengambil putriku! Enyah dari hadapanku! Jangan membuatku melakukan hal lebih dari ini!" ancam Davina.


Dave diam termangu, dalam sujudnya ia hanya bisa mengeluarkan air matanya. Air mata yang untuk pertama kalinya keluar setelah sekian lamanya. Air mata yang hanya keluar untuk Safira seorang.


"Lakukan pekerjaan kalian!" perintah Davina pada dokter dan perawat-perawat tersebut.


Davina memperhatikan Dave yang menunduk di hadapannya. Ia berusaha melunakkan hatinya untuk memaafkan Dave, orang yang telah menghancurkan hidup putrinya. Namun, mengingat penderitaan Safira, rasanya sangat sulit.


Hampir setengah jam dokter menyelesaikan pekerjaannya. Dan sayangnya, Dave harus menelan kekecewaan bahwa Safira dapat melakukan perjalanan meski dengan kontrol yang terbaik.


"Kau sudah terlalu banyak membuat Safira menderita. Kau tidak pantas menjadi pelindungnya." cetus Davina, berkali-kali ia meruntuhkan harapan Dave.


"Apakah tidak ada kesempatan bagiku Ibu?" lirih Dave.

__ADS_1


Davina tersenyum sinis, "Kalian tidak berjodoh Tuan Rodriguez, jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin."


__ADS_2