I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 80


__ADS_3

Itu adalah panggilan pertama setelah dua tahun terakhir. Safira mengingat dan bahkan menyimpan nomor yang selalu menghubunginya selama ini. Sudah tiga kali ponselnya berdering, akhirnya dengan sangat terpaksa Safira mengangkat ponselnya.


"Ada apa?" tanpa sapaan lembut sedikit pun.


"Halo." sebuah sapaan lemah terdengar dari sana, membuat Safira yang semula kesal menjadi cemas. "Safira ini aku." ucap Dave.


'Aku tahu' Safira menjawab dalam hati. Bukan karena nomor ponsel yang sudah dihafal, namun suara Dave sudah tersimpan dalam memorinya.


"Kau dimana, aku ingin bertemu." masih dengan suara lemah pria itu bicara.


Ia khawatir dengan keadaan Dave. Safira sebenarnya ingin bertanya apa yang terjadi padanya, namun ia terlalu gengsi untuk itu.


"Aku baru saja melakukan pertemuan dengan sekretarismu. Dia mengatakan kalau kau sangat sibuk dengan urusanmu sampai tidak sempat dengan rapat ini. Dan sekarang kau bilang ingin bertemu denganku?" cecar Safira.

__ADS_1


"Dan harusnya kau memanfaatkan pertemuan ini untuk bertemu denganku!" kata-kata ini hanya terucap dalam hati.


Dave diam cukup lama di sana, sampai terdengar suara batuk darinya. "Safira.... aku sakit." setelah itu terdengar suara ribut dari ponselnya.


Safira mengerutkan keningnya karena panggilan tiba-tiba berakhir. Merasakan cemas yang luar biasa, ia menghubungi Dave lagi, tapi sayang Dave tidak mengangkatnya.


Safira akhirnya menghubungi Peter, untuk meminta alamat Dave saat ini. Setelahnya, Safira bergegas menuju sebuah apartment yang ternyata tidak jauh dari perusahaan. Safira tidak tahu kalau Dave ternyata tinggal di sana.


Safira bingung dengan dirinya sendiri, ia membenci Dave, tapi kenapa ketika mendengar pria itu sedang tidak berdaya ia begitu cemas. Pikirannya menolak mendatangi pria itu, tapi hatinya bertolak belakang dengan pikirannya.


Safira sampai di depan pintu apartment Dave, sekarang ia bingung bagaimana caranya masuk ke dalam sana, karena pintunya memakai pin. Safira sudah menekan bel beberapa kali tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


Sampai akhirnya Safira mulai mencoba menekan pin. Dimulai dari tanggal lahir Dave sendiri, hingga pin-pin yang pernah Dave beritahukan ketika mereka bersama dulu. Tapi semua itu tidak ada yang benar sama sekali.

__ADS_1


Safira berpikir cukup lama di depan pintu. Ia terpikir tanggal ulang tahunnya. Namun ia merasa terlalu berbangga diri, sampai nomor pin kamarnya pun Dave menggunakan tanggal lahirnya.


Tapi masa bodoh, tidak ada salahnya mencoba. Safira menekan tanggal lahirnya, dan benar saja pintu terbuka. Jantungnya berdetak kencang, sebegitunya Dave terhadap dirinya?


Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan dalam hatinya. Jika memang Dave hanya mencintainya, kenapa ada wanita-wanita lain di antara mereka.


Safira melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana. Apartment itu sangat luas dan memiliki dua lantai. Safira menaiki anak tangga, karena ia yakin kamar Dave ada di sana.


"Dave..." Safira memanggil-manggil, namun tidak ada sahutan.


Ketika ia melihat sebuah pintu besar, ia memberanikan diri mendekat dan membuka pintu itu. Ia melebarkan pintu, sampai akhirnya ia bisa melihat apa yang ada di dalam sana.


Hal pertama yang ia lihat adalah seonggok tubuh yang terkulai tak berdaya di kaki ranjang. Safira berteriak, lalu berlari menghampiri pria itu.

__ADS_1


"Dave, apa yang terjadi?"


__ADS_2