
Dave memberikan dokumen yang Diana berikan untuk ia periksa. Diana mengambilnya, senyumnya tiada redup sejak ia masuk ke dalam ruangan.
"Terima kasih Pak." ucapnya.
Sebelum Diana pergi, Dave memanggilnya, membuat gadis itu berharap besar.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tutur katanya lembut, tapi malah membuat Dave sangat risih.
"Siapkan jadwal pertemuanku dengan Manager Marketing Pramana Group!" perintahnya.
Diana menelan kekecewaan, ia mengira Dave akan merespon baik kode yang ia berikan selama ini. Gadis itu berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Baik Pak." setelahnya ia keluar dari sana.
Sebagai sekretaris handal, Diana langsung mengerjakan apa yang Dave perintahkan. Diana cukup heran akan permintaan Dave yang satu ini.
__ADS_1
Diana mencari informasi tentang Pramana Grup yang ternyata sebuah perusahaan yang berpusat di negara Jerman. Pramana Group belum memiliki sejarah relasi dengan perusahaan Dave. Apa yang membuat pria itu tiba-tiba ingin membuat pertemuan dengan mereka?
Segala informasi tentang perusahaan itu muncul, beserta profil pemimpin dan jajarannya. Diana meneliti orang yang akan ia hubungi untuk mendapat informasi jadwal Manager Marketing perusahaan itu.
Ketika itu, Diana terpaku pada foto seorang wanita yang Dave maksud. Ia merasa familiar dengan wanita cantik berambut coklat bergelombang itu.
Diana mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu wanita bernama Safira, yang memegang kekuasaan tertinggi setelah Derri dan Bara Pramana. Sampai dimana akhirnya Diana mengingat foto yang terletak di atas meja kerja Dave.
Mengingat itu, Diana semakin diliputi rasa penasaran. Ia yakin Dave dan wanita ini memiliki hubungan yang tidak biasa. Dan yang pasti wanita ini masih berharga bagi Dave, terbukti dari foto yang masih berada di meja kerja pria itu.
Sebagai seorang yang sama-sana berasal dari keluarga berada, tentunya kedekatan keduanya akan menjadi sesuatu yang ramai dibicarakan publik. Tetapi Diana sama sekali tidak menemukan artikel lama yang memberitakan keduanya.
Karena ingin memuaskan rasa penasarannya, Diana sampai lupa mengerjakan apa yang Dave perintahkan. Diana akhirnya untuk menelusuri hal itu, tetapi bukan berarti ia menyerah.
Setelah mendapat konfirmasi dari Pramana Group, Diana masuk ke dalam ruangan Dave.
__ADS_1
"Pak, asisten dari Bu Safira Pramana telah menyetujui pertemuan dengan Anda." tuturnya lembut, "Waktu dan tempat akan dikabarkan paling lama besok pagi."
Mendengar itu, wajah Dave berbinar seketika. Ia bagaikan tumbuhan di padang gurun yang menemukan oase.
"Bagus. Segera beritahu saya jika mereka sudah memberikan kabar." ucapnya.
Diana memperhatikan perubahan sikap Dave. Ia belum pernah melihat Dave begitu cerah dan semangat seperti saat ini. Gadis itu semakin yakin wanita bernama Safira Pramana memiliki hubungan dengan Tuannya ini.
Dave tersenyum sembari melihat foto Safira yang ada di atas meja bingkainya. Ia baru sadar bahwa Diana masih ada di ruangannya.
Keningnya berkerut, aura dinginnya kembali menguasai. "Ada apa? Kenapa masih di sini?!"
Diana menggeleng dan tersenyum, ia berpikir sejenak sebelum bicara lagi. "Maaf kalau saya lancang Pak. Kalau boleh tahu Bu Safira itu siapa? Dan kenapa Anda ingin bertemu dengannya?"
Wajah Dave semakin suram, ia tidak suka orang lain mencampuri urusannya, terutama Diana yang ia anggap hanya sebagai perempuan murahan.
__ADS_1
"Bukan urusanmu. Pergi dan kerjakan saja apa yang saya perintah!" ketusnya, membuat Diana bungkam.