
Flashback
"Dimana Dave Ibu? Safira mau bertemu Dave." wanita yang baru saja terbangun setelah tertidur cukup lama itu berlinang air mata. Matanya menatap sang ibu penuh rasa iba.
"Untuk apa kau mencari laki-laki bajingan itu Nak? Dia tidak pantas untukmu." sanggah Davina.
Safira menggeleng, "Kumohon jangan pisahkan kami Ibu. Aku sangat mencintai Dave, aku tidak bisa hidup tanpa Dave." wanita itu terus menangis terisak.
Davina tersenyum hambar, kemudian menunjukkan sebuah foto di hadapan sang putri. "Mungkin setelah melihat ini, kau pasti tidak akan mau bertemu dengan Dave lagi."
Safira terdiam seketika melihat foto yang ditunjukkan ibunya. Sebuah foto dimana terdapat Dave yang tengah wanita lain. Dan yang lebih parahnya perempuan itu adalah sahabatnya sendiri, Alice.
"Kau harus tahu sayang, orang yang berada di balik semua ini adalah Alice. Anna yang Dave percayakan sebagai pelayanmu sebenarnya adalah suruhan Alice." tutur Davina.
__ADS_1
Safira mengerutkan keningnya, ia tidak percaya apa yang ibunya katakan.
"Tidak mungkin Ibu. Alice tidak mungkin melakukan hal itu." bantahnya.
"Ibu tidak memaksamu untuk percaya. Tapi satu hal yang harus kau tahu sayang, musuh paling berbahaya adalah orang yang paling dekat dengan kita."
"Dan satu lagi, Dave tahu apa yang Alice lakukan padamu, yang mencoba ingin mencelakai dirimu dan bayimu. Tapi meski begitu, ia masih tetap berhubungan dengan Alice." ucap Davina.
"Ibu mencintaimu sayang. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Ibu mengatakan hal ini agar kau dapat memilih jalanmu. Tapi jika kau masih ingin tetap bersama dengan laki-laki itu, silahkan saja, asalkan kau tidak menyesal suatu saat nanti." ucap Davina.
Dimulai sejak itulah hingga saat ini, Safira menanamkan kebencian di hatinya untuk Dave. Memang hatinya menolak untuk percaya, tetapi tidak mungkin Davina membohonginya.
Terkadang hatinya merindu pada pria itu, tetapi Safira menjaga batasan hatinya. Ia menganggap Dave sebagai lelaki brengsek yang tidak akan pernah berubah.
__ADS_1
Dan itu semua terbukti pagi ini. Di saat keras hatinya luluh oleh putrinya, dan Safira mencoba berdamai dengan masa lalu. Namun apa yang ia dapat, ia pikir Dave telah berubah menjadi sosok yang terbaik dalam dirinya. Tapi ternyata sama saja, Dave masih sama seperti dahulu.
"Pertemuan kita selesai sampai di sini. Untuk setiap kekurangan silahkan konfirmasi dengan asisten saya." ucap Safira, yang mencoba menahan amarahnya.
Dave menatap wanita itu dengan nyalang, ia bingung harus dengan apa meyakinkan Safira. Dave bingung apa yang membuat Safira menjadi sangat membencinya.
Tidak ingin memaksa Safira terus-menerus, Dave akhirnya menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Tapi sebelumnya, aku masih menagih janji untuk bertemu dengan putriku. Aku punya hak atas darah dagingku." Dave mengingatkan.
Safira menggigit bibirnya, mendengar permintaan Dave membuatnya sangat marah. Ia pikir Daisy tidak pantas bertemu dengan ayah yang kotor sepertinya. Putrinya terlalu suci untuk disentuh oleh Dave yang berasal dari lembah kegelapan.
Melihat ekspresi Safira yang menunjukkan sebuah penolakan, Dave mengangkat alisnya, "Safira, jangan bilang kau berniat ingin menjauhkan putriku dariku!" tudingnya.
"Kapan aku mengatakan hal itu! Aku akan membuat jadwal, tetapi sebelum bertemu Daisy, pastikan kau bersih dari sentuhan perempuan-perempuan kotor itu! Atau jika tidak, jangan harap bertemu Daisy lagi."
__ADS_1