
Ketika Safira membuka matanya setelah malam yang panjang, siluet tubuh kekar menyambut paginya. Pemilik tubuh itu membelakanginya, namun Safira bisa melihat wajah tampan itu dari bayangan cermin.
Rupanya sosok itu menyadari ada yang memperhatikannya. Pria itu berbalik, menyambutnya dengan senyum hangatnya.
"Selamat pagi." sapanya.
Saat itu, Dave sudah rapi dengan kemejanya, terlihat tampan dengan otot-otot yang di bagian lengan dan dadanya membuat Safira yang sebelumnya masih mengantuk seketika menjadi cerah.
Dave menghampiri Safira yang bertubuh polos dibalut dengan selimut tebal. Bukan tanpa alasan mengapa Safira tidak memakai sehelai kain pagi ini. Tadi malam setelah Dave merilekskan tubuhnya, keduanya malah terjerumus pada malam yang panjang dan bergairah.
Pria itu mencium kening Safira, lalu membantunya untuk bersandar di kepala ranjang. Safira mengeratkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
"Kau akan pergi ke kantor?" tanya wanita itu dengan suara khas bangun tidur.
Dave mengangguk, pria itu malah menyandarkan kepalanya di perut Safira, menciumi perutnya seolah tiada puasnya.
"Rasanya aku sangat malas pergi bekerja." ucap Dave.
Safira mengerutkan keningnya, baru jali ini dia mendengar kata malas dari mulut Dave.
"Kenapa?"
"Aku ingin di rumah saja, dan memelukmu sepanjang hari." ucap pria itu, tanpa sadar telah membuat wajah Safira memerah malu.
__ADS_1
Safira tidak menjawab, membuat Dave menengadahkan wajahnya agar bisa melihat wajah yang masih cantik meski baru bangun tidur.
Safira membalas tatapan Dave, setelah berpikir cukup lama, wanita itu akhirnya berucap, "Sejak kapan Dave yang kukenal sangat rajin ke kampus menjadi seorang pemalas?"
Dave tersenyum, "Aku juga tidak tahu. Akhir-akhir ini aku tidak bisa jauh darimu."
Lagi-lagi Safira kehabisan kata-kata dibuatnya. Akhir-akhir ini Dave selalu mengatakan hal yang membuatnya jantungnya tidak karuan.
"Safira...."
"Iya?"
"Apakah kau tidak berniat mengenalku lebih dalam?" ucap pria itu tiba-tiba.
Dave memperbaiki posisinya, ia menggenggam tangan Safira dengan lembut. "Dengar Safira, aku benci ketika kau mengenalku sebagai seorang monster yang tidak tahu diri. Aku ingin kau mengenal sisi lain dari diriku. Asal kau tahu Safira, aku bukanlah sosok yang kau lihat saat ini." tutur pria itu.
Safira hanya diam, wanita itu berpikir untuk apa dia menggali kepribadian Dave lebih dalam, jika pada akhirnya semuanya berujung pada kesia-siaan.
"Safira?" panggil Dave karena Safira malah diam.
"Aku..." Safira kebingungan mau menjawab apa, "Sudah terlambat kau tidak jadi ke kantor?"
Dave tahu Safira tidak ingin membahas hal itu, tapi Dave tidak memaksa.
__ADS_1
"Baiklah."
Pria itu bergegas turun dari tempat tidur kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjang Safira.
"Apa yang kau lakukan Dave?"
"Aku akan memandikanmu." kata pria itu.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri, lagi pula kau sudah rapi."
Dave tidak menghiraukan ucapannya, pria itu segera meraup Safira ke dalam gendongannya.
"Dave..." Safira memekik kaget, membuat Dave terkekeh.
"Dasar menyebalkan!"
***
"Selama aku pergi, jangan terlalu banyak melakukan aktivitas. Jangan banyak bergerak dan Steven, makhluk halus itu, jangan lama-lama bermain dengannya. Itu menjijikkan." cerewet Dave ketika Safira tengah mengikatkan dasinya.
Karena tinggi mereka yang berbeda jauh, Safira berdiri di atas bangku kecil agar Safira bisa memasang dasinya dengan mudah.
"Iya, aku mengerti." jawab Safira setengah hati. "Selesai." Safira menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1