
Dokter telah memastikan bahwa Safira akan terbang malam ini juga. Begitu pun Davina, yang telah menyiapkan segala peralatan yang di dibutuhkan di dalam jet pribadinya. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan, memiliki segalanya.
Sementara Dave, ia hanya diberi kesempatan untuk duduk di samping Safira, sampai dimana tiba waktunya mereka dipisahkan. Davina enggan satu ruangan dengannya, atau mungkin tidak ingin mengganggu saat-saat terakhir kedua insan itu, Davina memilih keluar.
Masih sama dengan seperti kemarin, Safira masih betah memejamkan matanya, dengan beberapa selang menempel di beberapa bagian tubuhnya demi mempertahankan dua kehidupan.
"Bangunlah sayang. Kumohon. Dan katakan pada mereka bahwa kau mencintaiku. Jangan biarkan aku sendirian di sini." Dave berucap lirih, sambil mengecupi punggung tangan yang terasa dingin itu.
Sebenarnya Dave belum pernah mendengar kata cinta dari bibir Safira untuknya, namun segala sikap dan perbuatan wanita itu padanya melebihi kata-kata itu.
Dave merasa dicintai dengan perbuatan Safira padanya. Oleh karena itu, ia tidak menuntut ungkapan perasaan itu darinya.
"Kau belum mengenaliku sepenuhnya. Waktu itu, kau bilang ingin mengenalku. Kau ingin mengetahui semua hal yang ada pada diriku. Bangunlah, dan lakukan semua hal yang kau inginkan padaku."
Begitu besar harapan Dave, namun wanita di hadapannya masih setia di bawah alam sadarnya.
Pintu kamar terbuka, beberapa perawat datang, begitu juga dengan dokter yang akan terus mengontrol kondisi Safira selama penerbangan.
"Sir, sudah waktunya." ucap Dokter.
__ADS_1
Lemas sudah tubuh pria itu. Ia tidak lagi memberontak dan menghalangi dokter. Ia hanya bisa berpasrah, berharap akan sebuah keajaiban.
Dave melihat perawat mendorong brankar, beserta peralatan yang menempel di tubuh wanitanya. Ia mengikuti kemana Safira dibawa oleh mereka. Sampai tiba mereka di lobi rumah sakit.
Sebuah mobil SUV mewah yang berukuran enam meter, yang tentunya bisa memuat Safira di dalamnya, sudah terparkir di sana.
Safira dipindahkan ke dalam sana dan beberapa saat kemudian, Davina muncul dan hendak naik ke dalam menemani putrinya.
Dave menahannya, "Ibu, biarkan aku mengantarnya sampai bandara." pinta pria itu.
Davina memindai Dave, yang saat ini terlihat menyedihkan. Sangat berbeda dengan Dave yang angkuh yang ia kenali dulu. Kantung matanya menghitam, serta pakaian yang acak-acakan seperti tidak pernah berganti.
Davina merasa terketuk hatinya, membuatnya mengangguk samar. Meski begitu, hatinya tidak akan pernah memaafkan Dave dan duduk di samping wanitanya.
Selama di perjalanan menuju bandara, Davina menyaksikan betapa Dave mencintai putrinya. Ia mendengar segala kalimat-kalimat perpisahan pria itu untuk putrinya.
Hampir saja hatinya tergerak, namun perasaan itu terbunuh saat mengingat penderitaan putrinya.
Tidak butuh waktu lama, mobil memasuki area bandara Zürich, dan disitulah jantung Dave berdetak semakin kencang. Waktunya bersama dengan Safira semakin menipis.
__ADS_1
"Bu, berikan aku lima menit." pintanya untuk yang kesekian kalinya.
"Apakah aku terlalu baik padamu Tuan Rodriguez?" kecam Davina.
"Lima menit terakhir, kumohon Ibu."
Davina memejamkan mata sambil membuang nafasnya kasar. "Baiklah. Lima menit." kemudian turun dari mobil, meninggalkan mereka.
Di luar mobil, Davina mendapat telepon dari putranya, Bara.
"Jangan mengganggunya lagi Nak. Dia sudah cukup menderita saat ini." ucapnya pada Bara di seberang sana.
"Ya, kami akan segera berangkat. Ibu membiarkannya menghabiskan kesempatan terakhirnya."
"Iya, Nak. Sampai bertemu lagi."
Davina menutup panggilan, ketika melihat lima menit telah berakhir, ia mengetuk kaca mobil. Dan tidak lama kemudian, Dave keluar dengan wajah lesu.
Kemudian, petugas mulai menjalankan tugas mereka untuk memindahkan Safira. Setelah selesai, Davina bersiap naik. Namun sebelum itu, "Jalani hidupmu dengan baik. Jika Safira memang jodohmu, kalian pasti akan dipertemukan kembali."
__ADS_1