I Hate You Bastard

I Hate You Bastard
Episode 78


__ADS_3

Safira mendudukkan tubuhnya di sofa ruangannya. Ia memejamkan matanya, berusaha meredam emosi akibat pemandangan menyesakkan pagi ini. Hatinya panas dan kesal ketika melihat Dave bersama dengan wanita lain. Rasanya ia ingin memaki dan memukul perempuan itu. Tapi ia sama sekali tidak punya kuasa untuk itu.


"Kau benar-benar jahat Dave. Kukira kau sudah berubah. Ternyata sama saja!" umpat wanita itu.


Segala niat dalam hatinya untuk memanfaatkan Dave dan menerimanya kembali pupus sudah, setelah melihat hal itu.


Safira sampai di rumah saat malam menjelang. Ia segera mencari putrinya yang ternyata sedang bersama Beatrix, saudarinya dari keluarga kandung Bara.


"Apakah Daisy rewel satu hari ini?" tanya Safira sambil mengambil alih Daisy dari Beatrix. Ia menciuminya sepuasnya, melepaskan rindu setelah satu harian tidak bertemu.


Beatrix menggeleng, "Sejak kapan putrimu rewel? Dia selalu tertawa sepanjang hari."


"Iya, Daisy memang selalu pengertian dengan keadaan Mommy-nya yang sibuk ini." seloroh Safira.


Safira terdiam sejenak, ia mengendus tubuh Daisy, "Daisy belum mandi ya?" tanyanya.


Beatrix mengangguk, "Sudah. Ibu yang memandikannya tadi sore? Memangnya kenapa?" tanya Beatrix.

__ADS_1


Safira menggeleng, "Tidak apa-apa."


"By the way bagaimana hubunganmu dengan calon suamimu?" mereka membuka pembicaraan.


Beatrix, gadis cantik bermata biru itu menggeleng tak bersemangat, "Entahlah. Kukira kau sudah tahu berita itu?"


Safira mengangkat bahunya, tapi wajahnya meminta agar Beatrix bercerita.


"Kevin ternyata tidak setia." jawabnya lemah. "Kau pasti heran. Ya, aku juga begitu. Kevin, laki-laki yang kita kenal sangat baik dan tidak mungkin mendua hati, ternyata sebejat itu. Benar yang kau katakan, semua laki-laki sama saja!"


Safira menepuk pundak saudarinya tersebut, "Bersabarlah. Mungkin dia bukan jodohmu."


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku sudah membuang Kevin dari hidupku."


"Berhenti membicarakanku, sekarang aku ingin tahu bagaimana perasaanmu." Beatrix bertanya antusias.


Safira mengangkat alisnya, "Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku tahu kau masih mencintai Dave." timpal Beatrix tiba-tiba membuat wajah Safira memerah.


"Jangan sok tahu. Itu tidak benar!" tapi Safira menyanggah dengan wajah kesalnya.


"Aku tidak sok tahu. Kita ini sama-sama perempuan, jadi aku tahu persis apa yang kau rasakan."


"Beatrix, kenapa tiba-tiba kau membahas hal ini. Sebelumnya kau tidak begitu tertarik dengan hal semacam ini." Safira merasa curiga. Mengingat di setiap pertemuan mereka sebelumnya, mereka jarang membahas kehidupan pribadi masing-masing.


"Sebelumnya aku mengakui hal itu. Tapi lama-lama aku jadi kasihan padamu. Kudengar Dave sedang di Jerman dan dia ingin kembali padamu. Kenapa kau tidak menerimanya kembali?" Beatrix tidak peduli Safira sakit hati akan ucapannya.


Safira mengalihkan pandangannya, ia ingin mengutarakan segalanya. Tapi ia pun bingung harus memulai dari mana.


"Kau takut pada Kak Bara dan Ibu?"


Mendengar itu, Safira menatap Beatrix intens. Saudarinya ini seolah tahu apa yang ada dalam benaknya.


Safira menggeleng, tidak mengakuinya.

__ADS_1


"Jika itu yang kau takutkan, jangan khawatir. Biarkan aku yang mengurus Kak Bara dan Ibu. Kau urus saja hubunganmu yang tidak jelas itu. Jangan egois Safira. Pikirkan masa depan putrimu, jangan sampai dia besar tanpa kasih sayang ayahnya." sebuah peringatan telak dari Beatrix, adik kandung Bara yang terkenal akan sifat bossy.


__ADS_2