
Parel prov
Hari sudah mulai gelap.
1 jam 20 menit aku mengendarai mobilku. Aku sendiri tidak tau kecepatan berapa mobil yang aku kendaraan? Karena biasanya kesini butuh waktu 2 jam. Yang ada dalam pikiranku hanya Siska.
Akupun memarkirkan mobilnya di jalan depan rumah Siska bukan di perkaranganya. Setelah itu aku langsung turun dari mobilku. Kulihat ada mba Rina dan mama Erika. Terlihat raut wajah mereka yang sedih dan khawatir.
Ku percepat langkahku untuk sampai ke teras rumah Siska.
" Mba, Siska sudah ketemu?" kataku langsung tanpa salam karena aku benar-benar khawatir
"Belum Rel, belum" jawab mba Rina lesu.
" Pagi dia pamit kemana, mba?" Tanyaku mencari informasi.
" Dari pagi dia sudah tidak ada." Jelas mama Erika yang tak kalah lesu dan khawatir dari mba Rina.
" Lalu kapan terakhir kalian liat Siska?" Tanyaku.
" Semalam pas dia pulang bantu om Reno yasinan" jelas mba Rina.
" Ada yang beda dari Siska waktu itu?" Tanyaku untuk mencari titik terang keberadaan Siska.
" Engga ada" jawab mba Rina sambil mengeleng
"Dia bilang cuma capek. Dia mau tidur" Lanjutnya
"Kemana ya Rel? Siska pergi?" Kata mama Erika sambil menangis.
"Kalian udah cari kemana?" Tanyaku lagi.
" Hampir seluruh kampung, Kak" kata Fitri yang baru dateng bersama papa Rangga.
" Nihil mah. Kemana Siska ya?" kata papa Rangga sembari duduk di samping mama Erika dan mengembuskan nafas. Terlihat lelah dan khawatir di wajah papa Rangga.
Tangis mama Erika memuncak dan memeluk papah Rangga.
" Pah, kemana Siska ya? dia ada masalah apa? Kenapa dia pergi engga bilang-bilang?" ucap mama Erika lirih.
"Tenang mah. Mungkin Siska butuh sendiri untuk berfikir" kata papa Rangga menenangkan istrinya.
Kita tunggu aja besok. Mungkin dia akan pulang.
"Kita semua pasti lelah. Ini juga udah malem. kita masuk dan istirahat. Besok kalau Siska belum dateng juga kita lanjut pencarian" kata papa Rangga.
" Nak Parel kamu nempati kamar ruang tamu. Oh itu juga mobil kamu masukin keperkarangan jangan di jalan" lanjut papa Rangga lesu dan mengajak tante Eriska masuk. mba Rina dan Fitri juga masuk ke rumah.
Aku memasukkan mobil perkarangan. Kemudian masuk rumah dan mengunci pintu depan. Aku melangkah lemah masuk ke kamar tamu. Ku duduk di tepi ranjang.
Aku terus berfikir dan terus berfikir "Dimana Siska sekarang?".
Akupun menelpon Reno. Reno teman SMAku dia juga detektif dan dia sendiri yang tau nama lengkap gua. Mungkin karena jiwa detektifnya yang peka.
" Halo. Gua butuh loe sekarang" kataku langsung dan lupa salam.
" Salam woy. Sejak kapan Parel Dwi David Sasendri engga ucap salam?" katanya heran.
" Gua lupa" kataku menengus kesal.
" Bukan gua lupa. Assalamualaikum. Loe sindiri kan yang ngajarin?" katanya lagi mengingatkanku.
" Iya waalaikum salam." Jawabku.
" Assalamuaikum. Bukan waalaikum salam" katanya tidak mengerti.
" Waalaikum salam. BAWEL LO! BACA DIINTERNET BIAR NGERTI" Kataku marah.
" Ya elah. Loe mau minta bantu apa?" Tanyanya.
" Tolong cariin seseorang." kataku sebelum dia memotong.
"Cewek.. aduh Rel sampai sekarang gua aja masih jomblo" katanya yang membuat marah gua memuncak.
" LOE BISA DENGERIN GUA DULU ENGGA?" Bentak gua.
"Ok ok. Engga usah marah-marah lah entar cepat tua" itu jawabnya.
Aku tidak mempedulikannya
__ADS_1
" loe kan detektif. Temen gua hilang. Bantu cari kenapa? Gua juga udah suruh pak Andri cari informasi" kataku menjelaskannya.
" Cewek? pacar loe? Mungkin dia males berurusan sama loe" katanya meledekku.
" Loe bisa ngga serius dikit. engga sih? Palak gua udah mumet ini" kataku dengan penuh penekanan.
" Ok.ok. Coba loe ceritain. Kronologinya kek mana?" Tanyanya padaku
Akupun menyelasakan kronologi yang aku tau.
" Ok gua bantu. Kirim alamatnya"
"Ok. Ok" jawabku dan langsung matikan.
Langsung aku kirim lokasinnya pada Reno.
Pagi hari
Pengawalku dan juga Reno dateng.
" Assalamualikum" salam Reno.
" Walaikum salam. Masuk!" jawabku
Di dalam ada mba Rina, mama Erika, dan papa rangga. Kalau Fitri berangkat sekolah. Tante Erika dan mba Rina terlihat pucat bahkan terlihat tidak tidur. Siapa yang bisa tidur kalau anaknya atau saudarinya ngga tau dimana?.
" Rel. Kenapa banyak orang? " tanya papa Rangga binggung. Begitu pula dengan mba Rina dan mama eri Ameliaka.
" Ini mah pah mba. Kenalin dulu ini Reno detektif dan yang lain pengawal Parel". Jawabku
" Untuk apa pengawal dan detektif, rel?" tanya mba rina binggung
"Untuk nyari Siska" jawabku singkat
" Smoga siska cepet pulang ya, Rel" kata mama Erika sendu.
"Ok sebelum itu saya udah tau kronologinya dari Parel. Saya boleh tanya mungkin dia ada cerita ada masalah? mau kemana? atau ada yang mengancamnya? musuh? " tanya Reno pada keluarga Siska.
" Engga ada, nak Reno. Siska engga pernah cerita ada musuh. Kalau ada masalah ya sama nak Parel" kata mama Erika menjelaskan dan Reno menatapku butuh penjelasan.
" Gua udah hampir sebulan engga ketemu dia. Gua sibuk ngurusin kantor. Aku juga baru tau setelah mba Rina nelpon" kataku menjelaskan.
" Kenapa ke kamar Siska? Dia engga ada disana!" kataku.
" Bodoh. Rel lo engga pantes jadi detektif" katanya sambil senyum mengejek.
" Emang!.. gua pantesnya jadi pembisnis" jawabku dingin.
" Ya ya ya" jawabnya sambil menangut-manggut.
" Disini No, mba tunjukkin" kata mba rinta menunjukan kamar Siska.
Aku, Reno, papa Rangga masuk ke kamar Siska.
" Disini tempat kita cari informasi, mungkin dari buku harian, buku belajar, atau novel. Mungkin akan ada petunjuk" jelas Reno.
Kami mulai mencari-cari. Sudah 2 jam mencari tapi tidak ada apa-apa
Mba rina masuk membawa nampan berisi jus dan cemilan.
" Pah, Rel, No. Ini diminum dulu. Pasti capek kan?" kata mba Rina sembari menaruh nampan di meja belajar Siska.
Kami mengambil gelas jus masing-masing.
Aku duduk di tepi ranjang, Reno duduk di kursi belajar dan papa Rangga duduk di lantai.
"Kemana kamu, Sis?" Ucap papa Rangga lirih.
" Apa dia diculik?" kata Reno
" Tapi siapa? Sepertinya Siska engga ada musuh" kata papa Rangga.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya om Rangga lirih.
Aku hanya bisa diam dan berfikir. Itu yang bisa aku lakukan sambil meminum jusku. Rasanya otakku buntu. Ku taruh gelas jusku di atas nakas di samping tempat tidur. Aku benar-benar lelah. Ku membaringkan tubuhku diatas ranjang Siska. Ku melihat warna putih atap kamar Siska. Aku meringkuk mencari posisi enak dan terus berfikir. Tanpa sengaja tangaku menyentuh sesuatu di bawah bantal, seperti kertas.
Kemudian ku ambil ternyata memang kertas yang di lipat. Aku membukannya dan membacanya.
" Pah, no" kataku pelan tidak percaya.
__ADS_1
Papa Rangga dan Reno pun datang.
" Kenapa, Rel?" tanya Reno padaku.
" Pah. Surat dari Siska" kataku memberi kertas itu.
Papa rangga pun membacanya.
" Mah, Mah" panggil papah Rangga kepada mama Erika.
Datenglah mama Erika bersama mba Rina tergesah-gesah
" Kenapa pah? Siska sudah ketemu?" Tanya mama Erika setelah masuk kamar Siska.
" mah ini surat dari Siska" kata Rangga sembari memberi surat itu. Mama Erika dan mba Rina membacanya. Mereka tampak terkejut.
"Siapa yang ngancem mama dan papah?" Tanyaku.
" Kapan kita diancam? " kata papah Rangga balik bertanya.
" Mama engga tau pah" jawab mama Erika yang tak kalah binggung.
"Apa Siska diancam orang lalu pergi ya, pah mah ?" tanyaku
" Mama engga tau. Soalnya Siska engga punya musuh." Jawab mama Erika.
" Dari surat itu, kita tau tante berarti Siska ngga di culik. dia kabur" kata Reno.
" Kenapa?" Tanya mama Erika berderai air.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya papah Rangga
" Gini om. Sekarang kita cari rumah yang mungkin dia datengin, seperti rumah tetangga, teman, atau keluarga" kata Reno menjelaskan.
" Pah, Tolong berikan nomor telpon, mana dan alamatnya. Biar kita bisa berpencar juga ditambah pengawal didepan" kataku.
" Baiklah" kata papa Reno dan mengambil hp dan mengetik agak lama di benda pipih itu.
" Itu nomor dan namanya. Sudah om screenshot dan papa kirim ke Parel. kalau kalian mau kerumahnya sms aja. Bilang aja kalau kalian disuruh om Rangga" jelas papa Rangga pada kami.
Aku dan Reno sudah mau siap-siap pergi. Namun langkahku di berhentikan mba Rina. "Entar dulu, Rel"
" Mba juga udah kirimin nomor temannya Siska dan buat grup WA siapa yang udah ke rumah atau ngehubungin orang itu tulis di grup biar engga ada dateng dua kali" jelas mba Siska
Kami berpencar. Aku masukin semua pengawal kedalam grup.
Disitu ada screenshot nomor dari papa Rangga dan mba Rina dan list.
List orang yang telah dihubungi.
Om Bara
Om Rizal
Tante Monic......
Selain itu sebagian pengawalku. Aku suruh berjaga di rumah, sebagian mencari disekitar, sebagian cari di dekat universitas, sebagian ikut mencari ke saudara atau teman Siska.
Ini suratnya gays
*Dari Siska.
Mah, pah. Maaf kalau siska pergi tanpa pamit. Siska cuma ngga mau papah mamah susah karena siska. Siska bakal jaga diri kok.
Mah pah hidup bahagia ya tanpa siska. Siska cuma ngga mau mama sama mama diancam.
Mba rina rajinnya kerjannya biar jadi sukses.
Fitri rajin belajar ya sayang
Maaf ya siska jadi pecundang lari dari masalah. Cuma siska butuh sendiri. Aku sayang kalian*.
Sorry tipo berterbaran.
Terima kasih sudah mau baca.
Like, commen, dan follow ya.
See you
__ADS_1