
Seminggu kemudian
"Mas kamu yakin dengan penanda tanganmu pada surat cerai istrimu?" tanya Siska penasaran.
"Ya."
"Mas, akenapa kau milih dia sih jadi istrimu?" tanya Siska yang membuat Parel membesarkan matanya menatap istrinya itu.
"Bukankah kamu tau jawabannya? untuk mencari pengantimu"
"Aku minta maaf, mas" kata Siska bersalah.
"Kau tidak usah merasa bersalah. Ini sudah takdir, tapi aku senang tuhan akhirnya mempertemukan kita lagi."
Siska melihat Parel dan menahan air matanya. Dia merasa bersalah telah meninggalkan orang sebaik Parel dan sekarang karenanya orang itu harus menikahi orang yang tidak ia cintai dan lebih parahnya wanita itu meninggalkan suaminya 5 hari setelah suaminya terpuruk dari kebangrutan bukankah seharusnya dia memberi semangat? Siska tau walau tanpa cinta tapi ditinggalkan saat seperti ini pastilah sakit.
"Tunggu sebentar lagi mas. Aku pasti akan membuka hatiku. Kau benar-benar orang baik" batin Siska.
Siska yang menahan air mata menampakan wajah yang lucu bagi Parel.
"Kenapa? Kenapa kau memasang wajah yang lucu seperti itu? Jika mau menghiburku dan kau berhasil" kata Parel sambil tersenyum.
Siska memajukan bibir bawahnya kesal.
"Ada apa?" tanya Parel.
Siska tidak menjawab, dia mendekati Parel dan memelukannya. Parel yang dipeluk sunguh senang namun sedih. Ia senang Siska memeluknya deluan, namun sedih dia tidak bisa memberikan apa yang Siska mau dan dia juga sedih karena ia tau Siska bukan mencintainya tapi kasian padanya.
"Ada apa?" tanya Parel sambil mengelus kepala Siska. Siska malah menangis.
"ahiks..hisk. Maaf kan aku karena aku kau menikahinya" kata Siska menangis dipelukan Parel.
Parel melepaskan pelukan Siska dan memegang kedua bahu Siska dan mensejajarkan wajahnya.
"Ini bukan salahmu, sayang. Kau tidak bersalah" kata Parel menenangkan istrinya itu.
"Hiks.. hiks ini memang bukan salaku saja.. ini juga salahmu"
"Lah kok jadi salahku?"
"Hiks iya. Salahmu. Kenapa kau pilih dia? kan bisa cari yang lain.. Hiks hiks wanita macam apa yang suaminya lagi terpuruk malah meninggalkannya"
" Kan masih ada kamu" jawaban singkat namun berhasil buat Siska berhenti menangis bahkan membuatnya merona. Siska cepat memutar tubuhnya.
"Kenapa?" tanya parel
"Engga tau ah. Kamu nyebelin" jawab Siska kesal.
Parel memeluk Siska dari belakang.
"Aku senang kau bertahan di sampingku. Aku akan menunggumu sampai kapanpun" batin Parel.
"Aku mencintaimu" kata parel di kuping Siska.
"A..A..Aku.." jawab Siska terpotong-potong dan Parel memutar tubuh Siska dan memengang bahu Siska..
"Kau tak perlu jawab sekarang" kata Parel.
Siska memeluk Parel dan menangis di pelukan Parel..
"Hiks hiks hiks.. Maaf...Aku juga masih bingung" jawab siska diperlukan Parel.
"Aku akan menunggu sampai kau tidak ragu lagi" Parel mengusap kepala Siska.
saat keadaan mulai tenang.
__ADS_1
"Mas. sekarang kau tidak bisa menghindar lagi. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kau bisa bangkrut? dan kenapa kau tutupi dariku?".
Parel mengerutkan dahinya. Dia sudah berusaha untuk tidak menjelaskan semua ini.
"Mas? sejak kita menikah sampai sekarang kau bungkam. Kapan kau akan jelaskan? mari sama-sama kita hadapi bersama-sama". desak Siska.
"Baiklah jika kau ingin tau. Aku akan cerita. aku juga tidak tau siapa orang ini? Mungkin dia musuh perusahaan atau musuh ayah. Dulu tidak bisa karena indentitasku tertutup atau karena ia belum ada dekengan (orang belakang yang berpengaruh) sehingga dia tidak bisa melawanku."
"Lalu?"siska sudah tidak sabar.
"Kau ingat sehari setelah kita menikah. Pas kita pulang ke rumah."
"Ya. Kau menerima telpon dan langsung ke kantor".
"Ya. ada orang yang menelponku. ia mengatakan akan menghancurkan aku, ayah, ibu, perusahaan,dan istriku. Dia akan mengambil semua miliku. aaku sudah melacak nomor dan mencari tau siapa orangnya? namun nihil nomor itu terkunci dan mereka tidak dapat dilacak. Aku takut ia melukaimu, makannya aku menaruh bodyguard di dekatmu".
"Aku mengerti mas, tapi kan bisa 1 atau 2 saja bodyguardnya. engga usah banyak-banyak."
"aku tidak mau mengambil resiko, sayang. orang ini sayang cerdik pasti ia tidak mudah di tanding. aku takut ia menyewa banyak orang dan aku tidak mau kau terluka. kemudian aku kehilanganmu"
"kemudian..mami. mamamu bagaimana?"
"Mami di luar negeri di sana juga mempererat penjagaan dan karena itu juga mami tidak pulang. Karena dia tidak hanya mengancam namun meledakkan cabang di Amerika. Oleh sebab itu, mami yang mengurusnya"
"Lalu mami sekarang di mana?"
"Mam.mam. Mami ya Mami masih di Amerika ia tidak bisa pulang karena mami harus menyelesaikan beberapa masalah"
"Kenapa kamu gagap begitu?"
"Mau diteruskan tidak ceritannya?"
"Iya teruskan.."
"Aku sudah mencarinya mengunakan detektif dan mengerakkan polisi namun tetap gagal. Ya yang kau dengar, dia membakar dan mengahancurkan nama produk Sasendri dan akhirnya bangkrut"
"Sudah. Sudah banyak yang dilakukan dan semua sia-sia" jawab Parel lelah.
"Apa Parel Dwi David Sasendri selemah itu? Parel ku kuat walau sekarang jatuh. kitakan bisa mulai dari awal kan?"
"Coba kau ulangi yang kau katakan tadi."
"Parel Dwi David Sasendri selemah itu?"
"Bukan-bukan itu yang selanjutnya"
" Kitakan bisa mulai dari awal kan?"
"Bukan. Bukan itu ish. Kau sebut aku tadi apa? tapi aku juga suka kata kita" kata Parel menggoda Siska.
"Ish. emang aku pangil kamu apa?"
"Parel"
"Bukan"
"Ish.. yang mana sih?"
"Ish.. bukan Parel lah"
"Terus yang mana?.. oh ya aku tau"
"Ya.. ya apa?"
"Aku menyebut nama lengkapmu Parel Dwi David Sasendri kan? apakah kau sesenang itu"
__ADS_1
"Ya, aku senang, tapi bukan yang itu juga"
"Kau kan tadi bilang apa Parel Dwi David Sasendri selemah itu? titik titik titik kuat walau sekarang jatuh. Kitakan bisa mulai dari awal kan?" lanjut Parel
"titik titik titik?" goda Siska yang sudah mengerti.
"Ish."
"Iya. Parel ku tidak lemah. Dia kuat" mereka tertawa bersama.
"Kau lucu mas"
"Emang"
"Aku senang seperti sudah diakui.. Hehhehe"
" Emm. Maaf" tiba-tiba wajah Siska sedih.
"Kenapa? Kenapa kau jadi sedih? katakan!"
"Karena aku, kau jadi seperti ini..Ahk apa kau akan memasukan surat perceraian ke kantor agama hari ini, mas?" alih Siska karena agak canggung.
"Ya. Dia memberi sudah ditandatangani dan aku juga sudah menadatanganinya"
" Kapan sidangnya?"
"mungkin 1-2 minggu setelah memasukan surat dan mungkin 1 bulan".
"Lama juga ya. hehehe.. Mas, apa rencana kamu selanjutnya?"
"Rencana? Rencana setelah perceraian? Aku tidak berniat menikah lagi".
"Mas, bercanda mulu. Aku baru tau Parel yang terkenal manusia es ini, sangat suka bercanda"
" Ya, pertanyaanmu setengah-setengah. Yang pasti aku akan cari kerja. Kemarin sudah masukin lamaran ke beberapa perusahaan".
" Semangat!"
"Tentu"
"Oh. Ya mas di bengkel di depan masih cari montir. Siapa tau kamu mau lamar?"
"Montir?"
"Kamu tidak bisa, ya? iya juga sih perkerjaan nya juga berat. Montir tidak mudah setidaknya perlu sekolah dan pengalaman"
"Tidak. Tidak. Aku akan melamarnya"
"Emang kamu bisa montir, mas?"
"Bisa. Aku pernah ikut pelatihan selama setahun pas SMA pelatihannya malah motor dan mobil berkelas dan aku kan tidak terkenal waktu itu jadi aku banyak disuruh suruh. Tapi lumanyan lah."
"Waw. Sepertinya kau... Aduh aku bingung"
"Kenapa? kau sakit kepala?"
"Tidak. Aku sehat. Mas apa yang tidak bisa kau lakukan? membagi waktu oke. Pengurus perusahaan oke bahkan menjadi CEO diberbagai perusahaan.. Oh my good sambil sekolah atau kuliah... tidak...tidak ia juga menutup jati diri.. waw dan sekarang kau bisa montir. Jagan-jangan bisa jadi ledeng?"
"Ledeng apa itu? bukannya seperti sungai ya?"
"Bukan. Itu seperti perkerjaan yang membenarkan selang air jika rusak"
"Ya. aku bisa sedikit. Tapi sedikit banget"
"Ya..ya..ya." Siska memutar bola matanya.
__ADS_1
Mereka akhirnya tertawa.
"*Ji*ka menjadi miskin sebahagia ini. Aku lebih suka miskin bersamamu, Siska" batin Parel.