
Sudah semingu Parel masih sibuk dengan kantor dan kerjaannya. Yang sebenarnya ia hanya ingin menjauh dahulu dari Siska.
Siska bingung dengan kelakuan suaminya yang sering pulang malam. Bahkan kadang-kadang memilih tidur di kamar sebelah dengan alasannya takut membangukan Siska. Sholatpun mereka sendiri-sendiri. Parel selalu berangkat setelah sarapan dan pulang sampai malam..
Pagi hari setelah sarapan...
"Mas, mau langsung berangkat?" tanya Siska.
"Iya, banyak kerjaan" jawab Parel agak jutek.
"Mas, ada yang kamu sembunyiin? Selain yang mau kamu omongin sama mama dan papah"
"Emm. engga ada. Cuma banyak kerjaan"
"Mas, sesibuk itu ya?"
"Maksud kamu?"
"Ya. Mas sampai engga ada waktu. Pergi pagi pulang sampai malam."
" Kan mas udah bilang banyak kerjaan"
"Oh. ya. Kapan mas kamu ngomong sama mama?"
"Nanti setelah kerjaan selesai"
Sebenarnya Siska kecewa namun dia tutupi.. Mungkin memang benar kerjaan menumpuk...
"Seterah kamu aja, mas" jawab sistka pasrah..
"Terima kasih ya. Uah ngertiin mas"
"Mas, pamit berangkat"
"Hati-hati ya, mas" Siska menyalami tangan tangan Parel.
Biasanya Parel akan mencium kening Siska tapi sudah seminggu payrel tidak melakukanya. "amungkin karena kerjaannya terlalu banyak" Siska mencoba positif thingking.
Tadi malam Parel pulang larut lagi. Ia masuk kamar melihat Siska sudah tidur.
"Aku benar-benar pengecut kan, Sis?. sepertinya aku tidak boleh mengulur waktu lagi. Ini akan menyakitkan"
Akhirnya Parel mengutuskan untuk tidur di samping siska dan tidur membelakangi Siska.
Besok paginya.
Jam 03.00 hp Parel berbunyi. Sudah beberapa kali, namun Parel tidak mengangkat nya. Akhirnya bunyi hp pun menganggu tidur Parel.
"Ya Allah, Siapa sih yang nelpon pagi-pagi?"
parel melihat telponnya dan melihat namanya.
"YOGA?" kata Parel yang melihat nama Yoga di hpnya.
Parel mengangkat.
"Astaga.. Baru diangkat coba.. Gua uda nelpon seribu kali rasannya" kata Yoga yang langsung gerocos saat Parel mengangkat.
Mendengar cerocosan Yoga, Parel melihat HP-nya lagi memastikan benar Yoga engga.. Tidak biasanya ada orang yang pakek gua loe. Apa lagi bicara dengannya, kecuali teman-teman Parel. Namun biasanya teman-temanya yang tau dia tuan sasendri pasti manggilnya tuan atau Parel.
"Buset dah.. Salah siapa nelpon pagi-pagi. engga pakek salam lagi.. apa dia ngira aku Siska, ya?"
" Loe ngangkat sambil tidur ya? Kok ngga ada jawaban.. Haloooo" kata Yoga lagi karena parel diam.
"Astaga. Gua udah depan rumah loe nih dari jam 03.00 dan sudah nelpon berkali-kali dan sekarang diangkat loe diam"
"*De*pan rumah? benar kan dia ngira aku Siska. Tapi ngapain pagi-pagi Yoga mau ketemu Siska. Apa mereka mau kabur bersama-sama. Tapi kenapa nelpon di hp aku?" pikir Parel yang mulai neting.
"Heloo.. Rel. Loe dengerin gua engga sih?"
__ADS_1
"Siska masih tidur" jawab Parel.
"Siska? Gua tuh mau ngomong sama loe. Kenapa Siska? cepat deh keluar gua mau ngomong. Ya ampun udah setengah jam, Gua telat entar. Cepetan keluar banyak nyamuk. nih"
"*A*paan sih ini orang..Nyuruh nyuruh gua"
"Loe mau ngomong sama gua?"
"Iya. Masak sama nyamuk?" jawab Yoga mulai kesal.
"Kenapa? mau ngomong apa pagi-pagi?" Tanya Parel yang engga kalah emosi.
" Sumpah. Keluar geh... Gua mau ngomong penting nih. Keluar engga!"
"Kalau gua engga mau kek mana?"
"Please keluar. Gua mau ngomongin masalah Siska"
"Siska? Apa ya? aduh gua mulai neting nih" Parel melihat istrinya yang tertidur.
"Rel, loe masih hidupkan?" tanya Yoga karena Parel diam.
"*Mi*nta dibunuh nih orang" batin Parel.
"Tunggu! Gua keluar" kata Parel dan keluar.
Parel membuka pintu dan Yoga langsung masuk tanpa permisi.
"Loe mau dilaporin polisi? pagi-pagi nerobos rumah orang" kata Parel yang emosi.
Yoga tidak mengindahkan pertanyaan Parel dan langsung duduk di sofa.
"*B*enar-benar ngak sopan masuk rumah orang.."
"Gua tadi pagi-pagi ke sini. Penerbangan gua jam 05.00 dan loe baru keluar.. Sini cepat duduk. Loe mau ngomong sambil berdiri?"
"Ini rumah gua" Parel mengingatkan Yoga kalau dia tamu dan berjalan duduk di sofa depan Yoga.
"Apa yang mau loe omongin?" tanya Parel tanpa basa-basi.
"Gua mau terima kasih sama loe"
"Untuk?"
"Aku tau dari siska. Karena kamu, Siska mau memaafkan aku"
"Lalu?"
"Aku juga sekalian mau nitip terima kasih untuk Siska"
"Untuk siska? Kenapa engga langsung aja?" tanya Parel jutek dan dingin menahan emosi.
"Bukannya dia masih tidur? gua engga mau bangunin dia"
"Oh. Loe ganggu gua.. Udah itu aja? kalau udah silahkan keluar" seruh Parel dingin.
"Santai bro.. Gua mau nanya bagaimana perkembangan hubungan loe dan siska"
"Hubungan gua dan Siska? bukan urusan loe"
"Iya juga sih. Hehhee selamat ya."
"*In*i orang gila kali ya?"
"Selamat?"
"Bukannya semingu lalu. Siska ngatain perasaannya? Setelah orang tuanya dateng?"
"Perasaan?"
__ADS_1
"Dia belum bilang? Keknya aku calon jadi spoiler deh."
"Ha?"
"Hahahaha" tawa Yoga melihat ekspresi Parel yang dingin dan juga bingung.
"Gini aja. Langsung ke intinya aja."
"*Ja*di ini belum inti?" banti Parel.
"Gua ke sini mengatakan terima kasih untuk Siska yang menyadarkan aku. Aku mau berangkat ke Amerika."
"Amerika? apa hubungan sama Siska?"
" Santai.. Ya, karena Siska aku sadar bahwa aku harus berjuang. Aku akan mengejar orang yang aku sayang. Sekalian aku mau mohon sama kamu jaga Siska. Dia teman masa kecilku, sahabat dan adik kesayanganku"
"Udah kewajiban gua"
"Ya gua tau. Gua berharap loe sama Siska selalu bahagia dan aku bisa bahagia seperti kalian"
"Bukannya Siska suka sama Loe?"
"Siska suka sama gua? hahaha loe gila, Rel. Siska itu suka sama loe suaminya.. Darimana loe dengar itu?"
"Dilapangan pas loe jalam sama Siska gua dengar loe nyatain cinta sama siyska dan Siska juga bilang aku mencintaimu"
Yoga mengingat
"Oh itu. Benar aku nyatain cinta sama Siska dan benar dia mau mengatakan aku mencintaimu. Tapi kata-kata itu untuk kamu kali"
"Ha?"
"Dia bilang kalau aku salah bilang cinta sama dia. Dia bilang semua itu bukan cinta tapi rasa bersalah. Dia menyuruh aku mencari cintaku dan mengatakan sama seperti dia yang akan mengatakan kepada suaminya aku mencintaimu" jelas Yoga membuat Parel kaget.
"*A*ku membuat kesalahan..Aku tidak mendengar semuanya dan menganggap semua yang aku dengar adalah kebenaran"
"Kamu tau. Kemarin pas Siska belanja. Aku ketemu dia dan aku nganter dia pulang"
" Ya, Aku tau"
"Dia dengan sangat senang karena besoknya orang tuanya dateng dan bilang ini adalah kesempatan untuk dia mengatakan semuanya.. Tapi ngga jadi ya?"
"Orang tuanya engga jadi dateng.. Aku melakukan kesalahan"
"Kesalahan? ais.. Engga penting itu urusan kalian. Tapi bila kamu sakitin Siska. gua akan bawa Siska jauh dari loe"
"Gua janji sama loe. Gua ngak akan menyakiti Siska"
"Dekarang gua percaya sama loe. Jaga Siska untuk gua, untuk orang tuanya dan untuk diri loe sendiri"
"Tentu? terima kasih sudah mau menjelaskan semua ini"
"Ya. sama-sama. Kita bisa berteman?" tanya Yoga sambil mengulurkan tangan.
"Tentu" jawab Parel menerima uluran tangan Yoga.
"Sebenarnya aku penasaran dengan kehidupan loe? Kenapa pura-pura miskin, tapi ini udah jam setengah lima. Kalau boleh lain waktu cerita sama gua"
"Emm. Boleh"
"Gua berangkat ya. Salam untuk Siska"
Yoga melangkahkan kaki keluar.
"Loe islam kan? Mana salamnya?" geram Parel.
"heheh. Assalamualikum"
"Walaikum salam".
__ADS_1