
Kira-kira sudah 1 bulan setelah menikah. Siska pertama kali menanyakan
"Kapan ia diizikan keluar rumah dan bekerja?" ini pertanyaan yang sudah ingin Siska tanyakan dari lama, namum tidak ada kesempatan karena Parel selalu sibuk dengan berkas atau telponnya.
"Mas aku lihat kau terlalu sibuk kerja. perkerjaanmu banyak? Aku kan bisa bantu" tanya Siska lagi hati-hati.
Parel melihat wajah istrinya dan Siska melihat jelas wajah cemas Parel. Siska juga melihat semyum Parel yang dipaksakan.
"Ada apa, mas?"tanya Siska khawatir.
Parel hanya diam dan duduk di sofa.
"Maafkan aku"
Melihat itu Siska tidak tega. Dia mendekati suaminya itu dan duduk jongkok dihadapan suaminya itu. Siska melihat wajah lesu Parel karena wajah mereka memang dekat.
"Kenapa mas? ada apa sebenarnya?"
Parel menarik napas dan menghembuskannya kuat.
"Bisakah kau menunggu sebentar lagi?" tanya Parel
" Apa maksudmu, mas? aku tidak mengerti."
__ADS_1
"Apa kau tidak sakit duduk jongkok? ke sini!" suruh parel menepuk pahanya. menyuruh siska duduk di pangkuannya. Siska hanya memandang wajah Parel.
"Ah. iya jika kau mau juga. Aku tidak memaksa" Siska mendengar kekecewaan di kata Parel tersebut.
Siska berdiri dan duduk di pangkuan Parel. tentu Parel kaget jika Siska tidak menolak. Karena memang Parel tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak-tidak, hanya memeluk dan memegang tangan Siska itu saja. Parel sudah bersyukur Siska tidak menolak untuk dipeluk.
Parel meneluk Siska dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Siska.
"Aku minta maaf karena aku kau tidak bisa kemana-mana? percayalah padaku ini semua untuk kebaikanmu dan kita" itu kata parel
"Mas..."
"Sis, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Jadi percayalah padaku "potong Parel. Siska hanya diam.
Siska berbalik dan meletakkan kedua tangannya di pipi Parel.
"Kau menangis, mas?"
"Ah, tidak. Aku tidak..." kata Parel sambil berusaha menghapus air matanya.
"Tidak usah mengelak. Aku melihatnya"potong Siska.
Siska mengalungkan tangannya di leher Parel. Parel hanya berusaha menahan hasratnya dan Siska tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Mas... sebenarnya apa yang terjadi?" Parel hanya diam tidak menjawab.
"Apakah itu sulit di jelaskan?" Parel hanya menganggukkan kepalanya. Bukan hanya sulit dijelaskan dan waktunya belum tepat.
"Baiklah mas. aku akan menunggunya" kata Siska lagi dan mencoba berdiri. Namun Parel menarik tangan Siska dan ******* bibir Siska. Parel mencium Siska dia merasakan ketenangan. Siska hanya melotot tidak percaya.
Parel tersadar dan melepaskan ciumanya.
"A...ku.. A...ku.. " kata Parel gugup dia melakukan kesalahan karena tidak bisa menahannya.
"Mas. tidak perlu kamu jelaskan" Siska membuat Parel binggung.
"Siska tidak marah?" batin Parel.
"Maksudnya?" tanya Parel.
"Aku tidak marah.. aku..hmmp" kata Siska mencium Parel sekilas. Parel terkejut Siska menciumnya.
"Aku mengijinkanmu mas" kata Siska lagi dan pergi meninggalkan Parel yang masih bengong.
"Maafkan aku mas.. Aku hanya bisa sampai situ.. Aku akan berusaha untuk mencintaimu.. ini satu-satunya cara" batinnya Siska
Parel tersadar.
__ADS_1
"Apakah ini awal? Akh akhirnya. Aku janji Sis, tidak akan pernah mengecewekanmu. Maafkan aku. Aku akan menyelesaikan urusanku dan membebaskanmu dari kurungan rumah ini" kata Parel pada dirinnya sendiri.