
Suara Azan dari salah satu aplikasi di Hp membangunkan seorang insan yang sedang tertidur. Suara azan itu sebagai penganti alarmnya bagun tidur pagi yang menandakan waktunya sholat subuh. Siska mulai membuka matanya dan mengusap matannya karena itu memang ritual Siska setiap bagun ia mengerjapkan mata mengerakkan sedikit tubuhnya sambil mengusap kedua matanya dengan kedua tangannya.
Namun kini ia merasakan lelah ada rasa capek di bagian belakang dari
leher hingga bahunya, serta di bagian betis kakinya. Bahkan terasa berat dibagian pinggang hingga perutnya. Eh bukan karena sakit tapi berat seperti ada yang meletakkan beban di sana. Siska belum sadar sepenuhnya, ia memasukkan tangannya kedalam selimut dan memegang beban itu.
“Eh. Tangan?” batin siska setelah memegangnya.
Akhirnya memori berputar di kepalannya. Kini Siska sadar sepenuhnya dari tidur malamnya. Bahkan kini seru nafas di tekuk lehernya sudah ia rasakan.
Siska memutar kepala dan lehernnya sedikit dilihatnya laki-laki yang masih asik dengan dunia mimpinya. Ia tertidur sangat lelap.
Tadinnya Siska berniat membangunkan lelaki itu yang sudah menyandang status suaminnya itu, namun niatnya diurungkan karena Parel terlihat sangat lelap dan lelah.
Siska mengeser Parel yang senantiasa memeluknya, namun tangannya lebih berat dari yang Siska fikir. Saat Suska berhasil mengeser tangan itu, tangan itu kembali memeluk perutnya dan bahkan mempererat peluknya, seakan tidak mau beranjak dan takut akan kehilangan.
“ Mas.. “ Siska mecoba membangunkan Parel.
“ Mas bangun mas. Sholat subuh.”
“Mas. Ayo dong bagun”
“Mas”
Parel masih tidak bergeming. Parel semakin memeluk Siska. Siska semakin sesak.
“MAS” teriak Siska.
Parel mendengar terikan Siska mulai mengerjapkan matanya.
“Ada apa Sis, pagi-pagi kok sudah teriak?” tanyanya tanpa dosa.
Siska memutar bola matannya malas.
“Mas kau memelukku erat sekali aku susah napas” jawab Siska kekurangan napas.
Parel tersenyum dan melonggarkan pelukannya dari Siska.
“Mas..” kata Siska lagi kesal.
“Apa lagi sayang?” goda Parel di telingga Siska. Siska memutar bola matannya.
“Ini udah siang mas. Mau sholat subuh. Ayo bangun” jelas Siska.
Mendengar kata siang Parel langsung membuka matannya dan melepaskan
pelukannya karena kaget. Dilihatnya jam di dinding hotel jam 04. 40.
“Lima menit lagi deh" kata Parel kembali memeluk Siska dari belakang.
“MAS”
“Mas masih ngantuk, sayang”
“Aku tidak menyuruh mas bangun sekarang….”
“Terus?” potong Parel
“Kebiasaan motong omongan orang sih” kesal Siska.
“Maksudku mas engga bangun sekarang ngga papa. Tapi jangan peluk aku. Aku mau bangun lalu mandi. Nanti setelah mandi aku bangunin mas untuk mandi juga kemudian sholat subuh. oke” jelas Siska.
Parel melepaskan pelukannya dari Siska. Siska turun dari kasur dan mengambil beberapa helai baju, handuk dan masuk ke kamar mandi.
Sedangkan parel kembali tidur. Dia benar-benar lelah. Pasalnya pernikahnya semua yang mengontorlnya adalah Parel, karena ia mau pernikahannya sempurna.
Siska selesai dan keluar. Ia melihat suaminya yang masih senantiasa asik dengan dunia tidurnya. Siska mendekati Parel dan
membangunkannya karena sekarang sudah jam 05.00
“Mas bangun. Mandi.. Mas” kata Siska sambil mengoncang tubuh Parel agar bangun.
Parel mengerjapkan matanya dan melihat Siska. Parel tersenyum.
__ADS_1
“Mas” panggil siska
“Ia. Ia mas banggun" jawab Parel dan turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi dengan lesu. Siska hanya tersenyum melihat kelakuan suaminnya itu.
Parel selesai mandi dan keluar kamar mandi melihat istrinya sudah duduk di sajadah dan sudah mengenakan mukenahnya seraya tersenyum.
Parel membala senyum istrinya dan berjalan kearah sajadah yang telah di sediakan oleh Siska istrinya.
Parel menjadi imam dan Siska menjadi makmumnya.
Sholatpun selesai. Sebelum mereka berdiri Siska dan Parel berzikir dan berdoa.
“ya Allah ampunilah dosaku. Dosa kedua orang tuaku, dosa para
istri-istriku. Para teman-temanku, guru-guruku, dan dosa seluruh
saudara-saudaraku dan seluruh hamba-hambamu. Ya Allah terima kasih, bahwa kau mau mengabulkan doaku. Aku mohon padamu ya Allah, berkahilah penikahanku. Tuntun kami di jalanmu. Semoga pernikahan ini yang terakhir dalam hidupku. Ya Allah aku tidak tau apa yang akan terjadi? maka aku serahkan semuannya padamu. Aku yakin padamu sepenuh hatiku bahwa semua yang terjadi pasti ada maknanya dan pasti yang terbaik. Ya Allah Aku mungkin berencana namun rencanamu lebih baik dariku. Ya Allah berikan aku kekuatan untuk menghadapi semuannya dan berikan hidajah padaku dan pada semua hambamu. Ya Allah jadikalah aku suami yang soleh yang bisa menuntun istriku ke surga. Ya Allah terimalah kami semua di sisimu jika kami kembali dan terimalah mereka yang telah kembali ke sisimu
” Doa Parel..
“Ya Allah ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa para istri suamiku, para teman-temanku, guru-guruku, dan dosa seluruh saudara-saudaraku dan seluruh hamba-hambamu. Ya Allah aku tidak tau apa rencana mu? aku tau itu pasti yang terbaik. Sebenarnya aku tidak ingin pernikahan ini ya tuhan, tapi kau malah menuntunku kembali
kepadanya yang kini kau jadikan dia suamiku. Ya Allah aku tau kau tidak memberikan apa yang aku mau tapi apa yang aku butuhkan. Mungkin ini yang terbaik untukku. Ya Allah kumohon berikanlah aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semuannya. Ya Allah kau tau aku belum mencintainya, tapi aku mohon tuhan berikan cinta itu agar aku bisa mencintainnya. Tapi jika kau belum bisa memberikannya aku mohon ya Allah bimbing aku biar aku bisa menjadi istri yang soleha untuk suamiku. Ya Allah hamba bermohon padamu terimalah kami disisimu jika
kami kembali dan terimalah mereka yang telah kembali kesisimu”
Doa siska
" Robana atina fidunya hasana. Wabil a hiroti hasana Wakina azabanar " amiin doa akhir Parel dan sis danka.
Setelah selesai berdoa Parel berbalik dan melihat istrinya yang masih
khusuk dengan doanya.
“Kau minta apa, sayang?” tanya Parel penasaran setelah Siska selesai berdoa.
“Kau penasaran saja mas..” cibir Siska.
Siska mengambil tangan Parel dan nenciumnya dan setelah itu Parel
Parel melipat sajadahnya sedangkan Siska melipat mukenanya.
Setelah melipat sajadahnya Parel berjalan kearah kasur dengan jalan gontanya.
“Kau mau kemana mas?” tanya Siska.
“Tidur” jawab Parel merebahkan tubunya di atas kasur.
Setelah Siska selesai melipat ia duduk di sofa dengan mengenakan hijab.
“Kau kenapa tidak kembali tidur? “ tanya Parel melihat Siska yang duduk di sofa bukan ke kasur.
“Aku ingin membaca Al-qur’an saja. Mas tidur saja nanti jam 8 aku bangunin” jelas Siska.
“ Baiklah” jawab Parel pasrah.
Jika Siska hanya duduk bukan membaca Al-qur’an dia akan memaksannya untuk kembali tidur. Karena dia ingin tidur memeluk Siska. Ia merasa nyaman bila tidur sambil memeluk Siska, serta wangi Siska membuatnya sangat-sangat nyaman.
“ Aku tidak salah mencintai wanita” gumam Parel mendengar suara samar-samar Siska mengaji. Ia sengaja pelan karena ia tau suaminya mau tidur dan pasti sangat lelah.
Parel kembali tidur.
####
“Mas bangun sudah jam 09” siska mencoba membagunkan parel.
Sudah dari jam 08 ia mencoba membangunkan suaminya itu, tapi suaminnya itu semakin menutup matannya. Sudah 5x Siska mencoba namun tetap gagal bahkan sudah ia goyang-goyangkan tubuh Parel. Akhirnya dia memberi waktu 1 jam lagi untuk suaminnya itu tidur.
Mendengar kata jam 09, Parel membuka matanya.
“Bukankah tadi. Kau akan membangunkan aku jam 08?" tanya Parel pada Siska. Siska memutar bola matannya.
“ Aku sudah membangunkan mu mas jam 8. Tapi kamu makin terlalap. Aku kasian maka aku biarkan tidur” jelas Siska.
__ADS_1
Parel hanya melihat wajah Siska dan tersenyum. Ia sangat suka melihat
wajah Siska itu.
“Sudah ahk, mas. Kau raupan dulu. Kemudian kita sarapan. Aku sudah lapar” kata Siska mengalihkan karena ia aga risih di pandang Parel.
“Kau belum sarapan?”
“Ya, suamiku masih molor” jawab Siska kesal. Parel hanya tersenyum.
“ Ayolah mas. Aku sudah masak. Ayo makan” rengek Siska.
“Masak?” tanya Parel pasalnya dia di hotel bukan di rumah.
“Ayolah mas. Aku lapar. Nanti aku ceritain” rengek Siska lagi sambil menarik lengan Parel agar bangkit.
“Iya iya. Sayang” jawab Parel pasrah.
Parel masuk kamar mandi dan raupan. Dia keluar dan Siska duduk di sofa dan di meja sudah ada berbagai makanan.
Siska tersenyum melihat Parel. Parel duduk di samping Siska. Siska langsung mengambil piring dan mengisi nasi.
“Mas mau makan pakai apa?” tanya Siska
“Sayur kangkung, tempe, dan ayam goreng”
Siska mengambil pesanan Parel.
"Aku tadi ke resespionis dan tanya dapur. Resesonis agak bingung dan aku jelasin kalau aku masu masak dan dia langsung mengantarku ke dapur. Di dapur dia berbisik pada salah seseorang mungkin chef dan mempersilahkan aku untuk masak. Katanya aku boleh menggunakan apa pun.” Jelas Siska kenapa dia bisa masak? dan meletakan makanan yang dipesan Parel.
“ Aku binggung sih mas. Mereka kok bisa membiarkan aku masuk dapur dengan mudah? Aku tadinya mau menggunakan namamu akhirnya engga jadi” kata Siska sambil mengambil makanan untuk dirinnya.
“Ya karena mereka tau kamu istriku” jelas Parel
“Eh?”
“Ialah mereka tau. Karena kita kan menikah di sini, sayang”
“ Ia juga”
Parel memimpin doa makan. Mereka mulai memakan makanan mereka masing-masing.
Selesai makan pelayan hotel mengambil bekas piring sarapan mereka. Parel yang memanggil pelayan hotel.
“ Masakan kamu enak, sayang” kata Parel.
“Terima kasih” jawab Siska dengan senyum.
“Oh ya mas. Pas pernikahan kita, istrimu tidak datang?”
“Tidak” jawab parel singkat
“Kenapa?” tanya Siska penasaran.
“Tidak apa- apa”
“Kau cuti berapa hari, mas?” tanya Siska mengalihkan karena ia tau kalau Parel tidak suka membicarakan itu. Ia tidak mau bertengkar dengan Parel.
“Seminggu. Emang ada apa, sayang? Kau ingin berkencan denganku?”goda Parel dan berhasil membuat Siska blusing.
“Sebenarnya aku bisa kapan saja? jika kau yang mengajaknya. Aku kan bos” lanjut Parel bangga.
“Ish. Kebiasaan deh” sisyka kesal.
“Sebenarnya aku ingin tau, Kenapa saat aku bilang aku rela melepas kekayaku untukmu. Kenapa tidak kau izinkan? Bukankah kau benci itu?" tanya Parel yang terpendam.
“Karena aku belajar dari kisah sang raja dan gadis desannya.. Siska menceritakan novel yang pernah dia baca. Aku tau mas, banyak keluarga yang hidup karena perusahanmu. Aku tidak mau kau seperti raja itu” jelas
Siska.
“Oh” jawab Parel mengerti.
Siska dan Parel hari ini hanya tinggal di dalam kamar hotel. Mereka males keluar. Mereka memilih cerita selama 2 tahun mereka tidak bertemu, tetang kesukaan, tentang apa yang paling dibenci, trauma Siska, masalah Parel menyembunyikan status, tentang keluarga Siska maupun Parel dan tentang semuannya.
__ADS_1
Jika mereka lelah mereka akan tidur. Jika tidak mereka akan menonton TV sambil berbincang.