
Krriiitttt..... Terdengar suara pintu dibuka.
Aku terlonjak kaget. Seketika itu tubuhku merinding. Siapa malam-malam yang masih ada di kantor? Batinku berbisik.
Aku ingin menengok ke belakang tapi aku takut. Tempat dudukku membelakangi pintu sehingga aku harus menoleh untuk mengetahuinya. Aku memejamkan mata dan tanganku mengepal.
Bulu kudukku berdiri. Detak jantungku bersahutan hendak lepas dari tempatnya. Kepalaku pusing dan aku kesulitan untuk bernafas.
Terdengar suara samar-samar. Suara itu terdengar jauh.
"Yang"
Deg. Suara ini. Suara yang sangat familiar. Haaahhh.... Kak Nicho belum pulang? Benarkah?! Aku masih menutup mataku rapat.
"Yang. Sayang"
Cup. Kak Nicho mencium pipiku. Mataku masih terpejam. Tak percaya.
"Kamu belum makan malam kan?" tanyanya sambil memegang jemari tanganku untuk menenangkanku.
Aku membuka mataku perlahan. Aku menggeleng.
"Makan dulu yuk" Kak Nicho menarik tanganku.
Tapi aku menahannya.
Aku ingin profesional kerja. Aku bisa saja minta bantuan kepadanya agar laporan ini bisa dikirim Senin depan. Tapi aku bukan orang yang memanfaatkan posisiku untuk pekerjaan. Aku harus segera menuntaskan tugasku dan pulang kerja.
"Aku laper sayang,seharian belum makan ini" rengeknya manja sambil mengerucutkan bibirnya.
Aku menahan untuk tertawa. Baru kali ini aku lihat Kak Nicho merengek manja sedikit agak memaksaku. Selama ini Kak Nicho selalu bersikap dewasa dihadapanku. Tapi kali ini...??? Bagaimana mungkin dia bisa selucu ini. Dia pasti sedang meniru gayaku saat merajuk.
Puukkk. Aku memukul dada Kak Nicho.
"Ouugghhtt... KDP ini" Kak Nicho berpura-pura kesakitan.
__ADS_1
Saking gemasnya,aku kembali memukulnya beberapa kali. Kak Nicho membalasnya dengan berpura-pura menjerit kesakitan.
"Adooww... ampun...ampun... Ini namanya KDP,Yang. Kekerasan Dalam Pacaran!" Kak Nicho menutupi badannya dengan kedua tangannya.
Dia meringis kesakitan. Sambil mengerlingkan salah satu matanya,jail. Aku meliriknya judes lalu membuang muka.
"Tiara belum laper Kak. Mau selesein kerjaan dulu. Kakak makan aja sendiri" jawabku sambil kembali konsentrasi dengan beberapa berkas.
"Ehm... Aku lagi ngambek ini" jawabnya lagi dengan mimik wajah cemberut.
Dia sedang meniru gaya merajukku saat masih kecil. Spontan aku tertawa terbahak-bahak.
Haa.... haaa.....
"Gak pantes Kakak kayak gitu" protesku sambil mengelap air mata di pipiku.
Sudah sekian lama aku tidak tertawa selepas ini. Aku sungguh bahagia,dia ada di sini dan menemukanku.
Kak Nicho mengambil kursi dan duduk di sampingku. Dia membaca beberapa berkas. Aku rasa Kak Nicho tau dengan apa yang aku kerjakan ini.
Hal-hal yang ga penting?! Yaah aku tahu maksudnya. Mba Dellis terlalu sibuk merayu Kak Nicho. Sedang tugas yang seharusnya dia kerjaan dipakai untuk berlama-lama menemani Kak Nicho. Agar bisa terus berdekatan dengan Kak Nicho.
Aku cemburu mendengarnya. Tapi ya sudahlah,kepercayaan sebuah hubungan itu ibarat pondasi dalam rumah. Rumah itu akan kuat jika pondasinya kuat. Begitu juga dengan cinta. Cinta akan kuat jika berpondasikan kepercayaan dan kejujuran.
"Sini biar aku bantu" Kak Nicho mengambil berkas di tanganku dan menggeser kursiku.
"Ehmmm... Ini kerjaan Tiara,Kak. Tiara harus profesionalkan?" Aku merebut berkas dari tangannya.
Kak Nicho sudah hapal betul bagaimana perangaiku dengan tugas yang diberikan. Biasanya aku menyelesaikan tugasku dengan sebaik-baiknya. Jika benar-benar aku tidak bisa mengerjakannya,aku akan menanyakannya kepada Kak Nicho. Begitu saat aku masih sekolah dulu. Saat ini juga,sikapku sama.
"Iya deh. Tar aku yang cek saja. Dasar kepala batu dari dulu ga berubah-ubah!" Kak Nicho kesal.
Aku melotot mendengarnya.
"Enak saja ngatain aku kepala batu" gumamku lirih.
__ADS_1
Tepat pukul 23.30,kami selesai mengerjakan tugas ini. Ya bisa dibilang Kak Nicho yang menyelesaikannya. Karena mataku sudah mengantuk berat. Aku tertidur di sampingnya.
Kak Nicho membangunkanku,mengajak pulang. Aku menginap lagi di apartemennya. Dalam perjalanan pulang,kami mampir di warung lesehan untuk makan malam.
Jam 00.30 kami sampai di apartemen Kak Nicho.
*****
Pagi hari di kantor.
Aku langsung memberikan file yang Mba Dellis minta. Dia tersenyum. Aku tak mengerti jika ini semua adalah jebakan. Yang kemudian hari menyeretku ke dalam permasalahan yang serius.
Aku melanjutkan tugasku untuk beberes meja kantor. Ada rapat vip di ruanganku. Aku harus bergegas untuk segera menyiapkannya. Rapat akan dimulai jam 09 pagi. Bu Shinta sudah berpesan dari kemarin untuk menyiapkan beberapa hal termasuk menu makan untuk rapat.
Untuk konsumsi makanan aku sudah berlangganan dengan beberapa vendor. Salah satunya adalah vendor Moista untuk snacknya. Karena rapat hari ini dihadiri oleh Pak Suryo yang notabene orang jawa tulen,Bu Shinta memintaku untuk memesan "Tumpeng getuk". Sesuai namanya tumpeng ini terdiri dari 5 macam jajanan pasar khas dengan kelapa parut. Diantara: Getuk singkong,lupis,sawut keju,mata roda dan klepon.
Jika aku beruntung aku mendapat bonus kue dari Mba Ria yang biasa mengirim pesanan ke kantorku.
Untuk menu nasi boxnya aku memilih Aroma Rasa. Aku sengaja memilih menu nasi bakar,ayam bakar,sayur urap,bakwan jagung dan tersedia juga buah jeruk untuk pencuci mulut. Lengkap dan murah. Menu ini adalah menu favorit Pak Suryo. Ya beliau adalah investor terbesar di kantorku. Kami memperhatikannya sampai dengan hidangan makanannya.
*****
Aku sangat sibuk hari ini sampai-sampai aku baru bisa makan siang jam 3 sore.
Hari ini aku belum mendengar bisik-bisik dari rekan kantor tentang Kak Nicho.
Kedekatanku dengan Kak Nicho menjadi buah bibir di berbagai kalangan di kantorku. Aku cuek saja. Itu sudah menjadi makananku sehari-hari. Sepertinya Kak Nicho juga tidak mempermasalahkannya. Kicauan mereka justru membuat kami semakin dekat.
Bukan keberuntungan,aku bisa mendapatkan cinta Kak Nicho. Tapi ini semua adalah buah dari kesabaranku beberapa tahun yang lalu. Benar saja,buah kesabaran itu manis. Meskipun aku harus mendaki jalan yang panjang lagi sukar tapi aku percaya Tuhan akan memberikanku kado terindah yang terduga.
Mereka yang saat ini mengataiku dengan tuduhan yang bermacam-macam itu semua disebabkan ketidaktahuannya. Bukan salah mereka jika mereka tidak tahu. Tapi salah mereka yang membiarkan rasa iri dan dengki meracuni hati dan pikirannya.
Aku beranjak dari istirahat makan siangku yang terlambat untuk membereskan bekas rapat tadi siang.
Saat aku mencoba untuk berdiri kepalaku terasa berat. Perutku melilit bagai ditusuk beribu-ribu jarum di sana. Aku memegangi perutku. Tapi pandanganku mendadak berputar dan gelap. Seketika itu aku tidak bisa mendengar suara apapun. Aku tergeletak di meja.
__ADS_1