I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
TUNTUTAN


__ADS_3

"I love you Kakak....." aku menatap Kak Nicho dalam.


Aku percaya cinta tidak pernah salah. Cinta tahu kapan dan dimana dia harus pulang. Cinta itu indah. Asal kita sanggup untuk bersabar menanti cinta sejati datang. Aku sedih dan bahagia. Aku terharu sekaligus kecewa.


Aku tidak marah dengan Takdir Tuhan tentang cerita yang telah Dia guriskan untukku. Cinta yang Indah. Setiap cinta yang hebat memerlukan perjuangan yang hebat pula.


Aku bersyukur atas karunia Tuhan telah mempertemukan aku dan Kak Nicho sejak aku lahir. Meskipun aku harus berjuang di kemudian hari untuk mempertahankannya tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk cinta ini.


I Love You Kak.


Kak Nicho mengelap air mata yang jatuh di pipiku. Dengan lembut dia berkata,"Aku mencintaimu Tiara,dulu,hari ini dan seterusnya"


Kami berpelukan.


Handphone Kak Nicho berdering. Terlihat nama Daniel di layar ponselnya.


"Hallo"


"Aku ga bisa biarin Tiara kerja dalam kondisi sakit Niel. Kalau kamu mau pecat aku silahkan. Aku ga akan biarin Tia-"


Kalimat Kak Nicho terpotong entah apa yang diucapkan Pak Daniel kepadanya. Terlihat sorot matanya merah menahan amarah. Kak Nicho berdiri. Dia menyugar rambutnya terus menerus.


"Gue tahu Niel,gue tahu. Kalau kamu mau hukum Tiara boleh asalkan dia sudah sehat. Dan lagi urus ponakan lo! Beraninya dia nuntut Tiara yang jelas-jelas ga bersalah!!" Kak Nicho sangat marah.


Terakhir kali sebelum Kak Nicho mematikan sambungan teleponnya,dia terlihat kaget. Hampir saja handphone nya jatuh. Untung saja aku bisa menangkapnya.


"Kenapa Kak?" tanyaku.


"Bukan Dellis yang mengajukan tuntutan. Bukan Daniel juga. Aku benar-benar tidak tahu ulah siapa kali ini!" suara gemertak giginya terdengar.


Aku berdiri,mengelus pundaknya. Aku mengajaknya duduk. Dan memberinya sebotol air mineral.


"Justru itu adalah pertolongan buat Tiara Kak. Dengan adanya tuntutan itu kita bisa memberikan bukti rekaman cctv. Ada copy file dokumen asli juga. Bukankah yang mengerjakan tugas itu adalah Kakak. Paling aku disalahkan karena aku ga bertanggungjawab sebagai bawahan karena sibuk tidur. Bukan karena menyelewengkan dana 5 M" aku nyengir membayangkan bagaimana aku bisa menebus uang sebanyak 5 M itu. Jangankan 5 M,50 juta saja aku tidak punya.


Seketika itu raut wajah Kak Nicho berubah cerah.


"Kamu pinter!"


Taakkk... Kak Nicho menyentil dahiku. Aku mengusap-usap bekas sentilannya.


"Kakak muji aku atau ngeledek!" tanyaku.


Aku melotot ke arahnya. Bibirku sempurna membulat.


"Aku muji kamu. Kan tadi aku bilang pinter!" jawabnya tak mau kalah.


"Kalau pinter jangan disentil dong. Sakit tau!" aku menggeser posisi dudukku,membelakanginya. Aku membuang muka.

__ADS_1


Kak Nicho pergi begitu saja ke arah kamar. Dia bersenandung riang. Aku semakin kesal. Cepat sekali moodnya membaik.


"Orang aneh" gumamku.


Sayangnya kok aku suka. Tampan sih. Aku terkikik. Ternyata aku sama-sama anehnya.


Kak Nicho keluar dari kamar. Dia terlihat rapi dengan setelan jas coklat tua. Dia tersenyum ke arahku.


Tookk.... Tookk.....


Terdengar suara ketukan pintu. Aku hendak beranjak berdiri tapi urung. Kak Nicho telah membukakan pintu. Sebuah paper bag ditangan kanannya. Dia mendekatiku.


"Ini pakailah. Kamu ga ada ganti sama sekalikan?"


Kak Nicho duduk di sebelahku. Aku membuka isi paper bagnya. Satu stel blus katun warna krem dengan tali di lehernya dan rok span dibawah lutut berwarna coklat tua senada dengan setelan jas yang Kak Nicho kenakan.


"Emangnya kita mau kemana Kak? Katanya tadi kita libur kerja?" tanyaku.


Kurapikan kembali setelan blusnya ke dalam paper bag.


"Kita akan menemui pengacara untukmu. Sekalian belanja bahan makanan di kulkas. Agar peri kecilku ga kelaperan" ledeknya.


"Aduuhhh..." aku menepuk keningku. Aku teringat sesuatu.


"Kak Tiara tuh ga punya pakaian dalam. Kenapa ga sekalian sih belinya. Ngomong dong kalau mau beliin baju" jawabku sewot.


Aku bergidik ngeri melihatnya. Spontan aku menjauhinya. Kak Nicho menggeser tubuhnya untuk mendekatiku.


"Dasar mesum!!" Aku mengerucutkan bibirku. Kak Nicho sudah berhenti di tempat duduknya. Dia terlihat senang sekali sebab berhasil menggodaku.


"Buruan sana beliin Tiara baju dalam dulu. Dasar Boss miskin beliin baju pacarnya aja cuman 1 stel" umpatku. Aku melipatkan kedua tanganku di dada. Aku membuka mulutku untuk kembali berkata tapi siaalll!


Kak Nicho malah mencium bibirku. Mataku terbelalak. Aku mendorong badannya tapi sayaannggg..... aku kalah tenaga.


Kak Nicho melepaskan tautan bibir kami. Dia tersenyum bangga. Aku mengacungkan kepalan tanganku untuk memukul badannya. Lagi-lagi aku terlambat,dia sudah berjalan ke arah pintu. Di depan pintu dia menjulurkan lidahnya ke arahku,langsung saja aku lempar dengan bantalan sofa.


Bruukk...


Suara pintu tertutup beriring dengan jatuhnya bantalan sofa di lantai.


"Awaaassss ya. Aku balas nanti" aku kesal. Aku selalu kalah. Saat kecil,Kak Nicho tidak menyebalkan begini. Dia kakak yang baik dan penuh kasih sayang. Kak Nicho selalu mengalah. Baginya aku selalu nomor satu. Dia tidak pernah sekalipun membuat Tiara jengkel maupun menangis. Sosok seorang kakak yang sempurna. Tapi lihat sekarang setelah dewasa dia begitu menyebalkan.


30 menit kemudian pintu terbuka Kak Nicho datang. Aku tersadar Kak Nichokan tidak tahu ukuran pakaian dalamku. Ahhh.... gimana ini?


"Nih... buruan ganti. Aku tunggu di sini ya" Kak Nicho menyodorkan tas belanjanya kepadaku. Lalu duduk di sofa. Dia melonggarkan dasinya dan melepas jas nya.


Aku berjalan menuju kamar. Aku langsung melepas kaos yang tadi aku pakai. Aku terkejut. Ukurannya pas sekali. Tidak hanya itu saja Kak Nicho juga membelikanku 5 lingerie babydoll.

__ADS_1


"Duhh... udah kek mau honeymoon aja sih. Mentang-mentang tadi aku bilang boss miskin" gumamku.


Dia luar sana Kak Nicho memanggilku berkali-kali. Ingin sekali aku menyumpal mulutnya itu. Baru 5 menit aku berganti pakaian,Kak Nicho berteriak memintaku untuk segera. Aku memoles make up tipis di wajahku. Tidak mungkinkan aku pergi tanpa riasan sedang pasanganku berpakaian rapi.


"Yaaa....yaaa dasar bawel" umpatku. Aku tergopoh-gopoh mendatanginya. Ini sudah 10 x Kak Nicho memanggilku. Dasaarr!!!


Dari kejauhan ku lihat Kak Nicho tersenyum. Bukan karena aku terlihat cantik. Jangan keGRan. Dia tersenyum karena berhasil mengerjaiku. Bagaimana tidak setiap 5 menit Kak Nicho memanggilku untuk segera...segera...dan segera.


Saking gemasnya aku cubit perutnya. Senyumnya yang merekah hilang,dia meringis kesakitan.


"Yuk ahh... Kakak rese banget deh" kataku. Aku berjalan menuju pintu keluar. Aku merasa seolah aku sedang jalan sendirian dan benar saja Kak Nicho masih duduk di sofa. Bayi tua menyebalkan.


Aku memutar haluan kembali lagi ke sofa ruang tengah.


"Kak,katanya tadi buru-buru. Kenapa sih hobi banget bikin aku kesel" ucapku. Aku menarik tangan Kak Nicho. Dia tak bergeming dari tempat duduknya.


"Aku ga berani ya buat kamu kesel. Aku ga kuat berdiri ini,tadi kamu nyubitnya sakit banget" dia mengelus perutnya bekas cubitanku.


"Kakak ihhh.... buruan atuh!" aku melotot ke arahnya.


"Haahaaa.... ya udah iya. Tapi cium dulu dong. Kan udah aku beliin pakaian dalam. Emang kamu pikir aku ga malu. Ini pertama kalinya aku begini. Jadi,hadiahnya mana?" ucapnya sambil menunjuk pipinya untuk dicium.


Dasaaarrr... pria mesum! Menyebalkan!


Kami berangkat menuju kantor pengacara.


Sekitar 1 jam kami membahas masalah pelik ini. Kronologi kejadian sudah kami jelaskan. Kak Nicho juga membawa file copy dokumen asli sebagai bukti. Rekaman cctv saat kami mengerjakan tugas juga sudah kami berikan.


Sidang akan diadakan Senin minggu depan. Semakin cepat semakin baik. Kak Nicho menggenggam erat tanganku. Dia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku mengangguk.


Kami pamit pulang. Sesuai janji Kak Nicho tadi,dia mengajakku untuk berbelanja kebutuhan makanan. Dia juga membelikanku beberapa stel baju untuk kerja.


Woowww... Kak Nicho mengeluarkan black card nya untuk melakukan transaksi pembayaran. Aku tersenyum kecut.


Ehemm... sepertinya harga dirinya tinggi.


Aku berbisik lirih ke telinga Kak Nicho.


"Aku akan bantu kakak buat habisin saldo black cardnya" aku tersenyum puas.


Dengan ekspresi datar,Kak Nicho menjawab,"Dengan senang hati"


Lalu dia mencuri ciuman di pipiku.


"Waahhh.... so sweet!!"


Beberapa orang yang melihatnya bersorak gembira. Petugas kasir yang melayani kami belanja terpana dengan kelakuan Kak Nicho. Aku mencubit tangannya. Wajahku memerah karena malu. Kak Nicho terlalu cuek. Dia tidak menghiraukan semua tatapan mata pengunjung mall yang menatap jengah ke arah kami.

__ADS_1


__ADS_2