I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
PERNYATAAN KE-3


__ADS_3

Pak Nicho bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam. Aku menangis. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku sangat malu kepada diriku sendiri yang bisa berkata begitu sedang aku tak sanggup untuk menolak ciumannya.


Beberapa menit kemudian Pak Nicho datang sambil membawa Kartu Tanda Penduduk.


Di situ tertulis jelas :


Nama : Nicho Ramadhan Adiputra


Tempat tanggal lahir : Yogjakarta, 24 Februari 1992


Status perkawinan : Belum Kawin


Tapi alamat rumahnya???


"Bohong" tatapku nanar.


"Ini KTP aku Ra. Aku masih single dan aku ini benar kakakmu. Kak Nicho yang katanya harus menikahi Mutiara Sari. Aku datang mencarimu. Aku ingin menikahimu tapi mengapa kamu menghilang selama ini. Aku tahu kamu meragukan alamatku. Iya,saat aku tahu kenyataan hidup kita,aku mencari tahu siapa orang tuaku. Dan aku menemukan kembali dimana mereka berada"


Jawabnya panjang lebar sambil menatapku penuh kerinduan...


"Its me. Ini aku,Ra. Aku men--"


"Bohong!!!" jawabku.


"Buat apa aku bohong? Lihat aku,Ra. Apa ada kebohongan di mataku? Mata biru yang selalu kamu kagumi ini?"


Pak Nicho mengguncangkan bahuku lalu memelukku kembali.


"Hiks... Kak Nichoku kan sudah menikah sama Putri hiks.... Pak Nicho bohong... Hiks... hanya mengaku-ngaku saja hiks...." aku berusaha mengurai pelukannya namun tertahan oleh tubuhnya yang kekar.


Kak Nicho mengusap-usap punggungku menenangkan.


"Kamu ga capek nangis terus,hemm?"


Kak Nicho tersenyum.


"Kamu bukan anak kecil lagi Ra. Lihat umurku sudah 28 tahun,itu berarti kamu sudah 25 tahun. Kamu sudah cukup dewasa,Ra. Sudah pantas jadi seorang ibu. Gimana ntar kalau ibunya dan baby lomba nangis?!" Kak Nicho mengerlingkan matanya menggodaku.


Kak Nicho menatapku dalam. Tatapan matanya terasa menyisir dari ujung rambutku hingga ujung kaki. Lalu tersenyum. Aku menunduk malu. Jangka 5 tahun ini membuatku merasa canggung. Terlebih lagi Pak Nicho ehmm maksudku Kak Nicho menganggapku bukan sebagai adiknya.


"Ehmmm... style rambutmu boleh juga. Terkesan imut-imut sih mirip barbie tapi sayang masih cengeng dan oougghhhtt......" Kak Nicho tersentak kaget karena aku mencubit pinggangnya.


Sekilas aku melemparkan senyum. Dan kembali membuang pandanganku ke samping. Aku ingin tertawa tapi aku tahan. Mimik wajah Kak Nicho yang tersentak kaget karena cubitanku sungguh lucu.


Ga bisa gini dong,masa aku udah luluh dengan rayuannya. Aku kan masih ngambek. Bisik hatiku.


Kak Nicho memegang wajahku dengan kedua tangannya dan menghadapkanku ke arahnya.

__ADS_1


"Ha... haaa... haa.... kalau mau ketawa jangan ditahan dek. Tar jadi kentut loh" ledeknya sambil menjepit hidungnya seolah ada bau kentut.


Dia masih tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucuku menahan tawa.


Aku tersenyum.


"Nah gitu dong. Kan cantik Barbie Ara-ku. Aku laper. Kakak masak nasi goreng dulu ya. Kamu makan tuh brownies coklat kesukaanmu"


Kak Nicho mengusap puncak kepalaku lalu berlalu pergi ke belakang.


Aku terkikik mengingat kejadian barusan. Yaahh... dia memang sangat hafal tingkah lakuku. Dia memang Kak Nichoku,sang cinta sejatiku. Ada sedikit kegundahan di hatiku tentang siapa orang tua itu dan bagaimana dengan Putri tapi untuk saat ini aku ingin egois.


Aku berjalan ke arah rak buku. Melihat-lihat tumpukan buku di rak samping soffa. Ada judul buku yang menarik perhatianku. Novel "Hujan" karya Tere Liye. Aku mengambilnya dan kembali duduk di soffaa.


"Nah... sudah matang nasi gorengnya" Kak Nicho datang menghampiriku.


"Kamu baca buku apasih dek?" Tanyanya sambil membalikkan sampul buku yang aku pegang lalu membacanya.


"Ah... pas banget. Novel ini ceritanya bagus dek. Berkisah tentang seseorang yang ingin menghapus memori cintanya hanya karena sebuah kesalahpahaman. Dia ke sebuah rumah sakit yang berteknologi tinggi untuk menghapus kenangan menyakitkan terutama tentang kenangannya bersama kekasihnya itu. Coba tebak bagaimana,endingnya?" tanya Kak Nicho.


Aku menggeleng. Tidak tahu.


"Mereka berdua balikan. Saat detik terakhir,dia mengubah kenangan menyakitkan menjadi rasa syukur sehingga kenangan yang seharusnya terhapus dari memori ingatannya tetap utuh. Kesalahpahamannya terluruskan dan mereka hidup bahagia"


Kak Nicho masih menatapku.


" Begitu juga dengan hubungan kita. Jangan sampai kesalahpahaman ini membuat hubungan kita retak tanpa kamu tahu kenyataanya. Apa kamu mau,aku juga menghapus semua kenangan kita hanya karena kamu tidak sepenuhnya mempercayaiku?" tanyanya dengan menatapku tajam.


Aku menggelengkan kepala. Dia tersenyum.


"Semua keraguan yang ada di pikiranmu akan terjawab,Ra. Aku tidak mungkin mempermainkanmu"


Kak Nicho berbicara lewat tatapan matanya yang dalam.


Gurat harapan dan cinta tergambar jelas di mata birunya.


Kak Nicho menyodorkan sesuap nasi goreng ke mulutku. Aku menurut. Kami makan bersama malam ini. Aku senang,rasanya sudah lama sekali Kak Nicho tidak menyuapiku. Kak Nicho masih terus melanjutkan cerita novel karya Tere Liye yang lain. Penulis favoritnya.


Kak Nicho tahu cita-citaku menjadi seorang penulis. Dia mendukungku. Tak pernah sekalipun Kak Nicho menolak keinginanku. Dia sangat memanjakanku.


Yaah... aku suka caranya memperlakukanku. Aku berharap kenangan indah akan terus ada untuk kami.


Setelah kami makan. Kami bergantian untuk mandi. Dan beranjak tidur. Malam ini Kak Nicho memintaku untuk menginap. Dan aku mengiyakan. Tidak lupa aku memberi kabar kepada sahabat baikku,Nina. Aku meminjam kaos oblong Kak Nicho yang kedodoran aku pakai. Aku tertawa melihat bajuku seperti orang-orangan sawah.


"Kak"


"Hemm..."

__ADS_1


"Aku mau tanya"


"Hemm..."


"Ehm..." aku menggigit bibir bawahku. Aku takut Kak Nicho marah.


"Kenapa dek?"


"Kak bisa gak sih manggilnya jangan adek? Kan Tiara sudah gedhe sekarang. Ga pantas dipanggil adek" kataku sambil melototkan mataku.


"Udah gedhe? Tapi kok masih cengeng?" Kak Nicho kembali meledekku.


"Ouuggh....."


Aku mencubit tangan Kak Nicho gemas. Kak Nicho mengusap-usap bekas cubitanku. Sesekali melemparkan pandangannya kepadaku. Aku balas melotot.


"Ya sayang,mau tanya apa?" ucapnya lembut. Mengalah.


"Kak gimana dengan Putri. Azizah Putri Wulandari tunangan Kakak?"


"Aku gak punya tunangan sayang" jawabnya pendek dan kembali terbenam dalam novel yang sedang dibacanya.


"Tapikan kakak dulu pas aku ulangtahunkan bilang mau tunangan sama Putri" tanyaku lagi.


"Gak jadi" jawabnya.


"Kak yang bener dong jawabnya. Putri tunangan Kakak bagaimana? Apa Kakak menikah lalu cerai dan sekarang Kakak jadi seorang duda? Dan kakak nembak KTP buat ngejar Tiara? Iyakan. Benarkan Kak?!" tanyaku menuntut.


Kak Nicho terdiam. Dia mendekatiku dan menunggkungku dibawah badannya. Dia menciumku lagi.


Aku butuh jawaban Kak,bukan ciuman. Batinku frustasi.


Debar jantungku semakin tak menentu. Entah setan mana yang datang menghampirinya membuat Kak Nicho lepas kendali. Begitupun aku juga terbuai olehnya.


Ohh God,ampunilah hamba.


Ini merupakan pengalaman pertamaku bersama seorang pria. Bagiku dia yang pertama dan takkan ku biarkan ada yang menyentuhku kecuali dia. Tapi bagi Kak Nicho,akankah aku ini yang pertama?! Aku iri dengan wanita yang pernah Kak Nicho kencani. Harusnya aku satu-satunya untuk Kak Nicho.


Tapi aku takut. Aku takut Tuhan marah kepadaku. Aku tak boleh melakukan hal yang lebih lagi. Dengan nafas yang tersengal,aku berbicara.


"Kak jangan begini" pintaku memelas.


"Kakak belum jelasin gimana tunangan Kakak yang bernama Putri itu. Aku ga mau hadir diantara kalian. Aku memang cinta kakak tapi cukup bagiku untuk memendamnya jika sudah ada dia dalam hati kakak"


Tanganku mendorong tubuhnya untuk menjauh.


Kak Nicho diam. Bangun lalu beranjak pergi.

__ADS_1


__ADS_2