I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
KENYATAAN


__ADS_3

Aku beranjak dari sofa di ruang tv. Tangan kananku ditahannya.


"Mau kemana?"


"Kepo" jawabku dengan nada sinis.


Semakin keras Kak Nicho menarik tangan kananku sehingga aku terjatuh tepat diatasnya.


Jantungku kembali berdetak tidak karuan.


Deg...deg....deg....deg....


Dag... dig... dug... der... ketipak... ketipung ... dung... dung... dung...dor... dor.... dor...


Busyeet... Ini jantung apa ketipung? Bunyinya meriah sangat. Seperti kembang api di tahun baru.


"Tiara mau bikin susu Kak. Airnya udah panas. Kakak rese amat sih dari tadi. Kalau kangen mah ngomong aja orangnya juga di sini pakai acara tarik-tarikan mulu. Emang Tiara pancing ditarik-tarik!" aku menekan dada Kak Nicho agar aku bisa bangun dari pelukannya. Sayangnya tangannya yang kokoh memelukku erat.


"Begini sebentar saja" bisiknya tepat ditelingaku. Aku terdiam. Semakin lama aku semakin kesulitan bernafas. Aku menggigit bahu Kak Nicho.


"Aarrggghhhhhhhh" suaranya melengking memenuhi seluruh ruangan.


Kesempatan untukku bangun.


Dasar mesum!!!


Kulihat Kak nicho mengusap-usap bahunya bekas gigitanku. Dia meringis kesakitan. Lengan bajunya ditarik ke atas. Bahunya berwarna ke biru-biruan kontras dengan warna tubuhnya yang putih. Aku terkikik geli.


Beberapa menit kemudian aku menyodorkan segelas susu untuknya. Dia meraihnya. Lalu meminumnya sekali tenguk.


"Jadi kapan kakak mau cerita tentang anak Presdir Adiputra yang hilang!"


Uhuk...uhukk.... Kak Nicho tersedak. Sontak aku menepuk-nepuk pundaknya. Aku berlari mengambil air mineral di dalam kulkas. Secepat kilat aku memberikannya.


"Gak ada yang hilang. Ada kok" jawabnya santai. Pandangannya lurus ke tv. Chanel Tom and Jerry favoritku.


"Kakak mau main rahasia sama aku. OK. Jangan cariin Tiara lagi kl gitu. Tiara mo pamit pulang ke kost" ucapku ketus ke arahnya. Aku beranjak bangun. Lagi-lagi tanganku ditahannya.


"Saat kamu ulang tahun ke 20... di saat itu..."


Kak Nicho mulai bercerita. Aku duduk mendekatinya. Aku matikan tv agar aku bisa mendengarkannya baik-baik tanpa ada cerita yang terlewatkan.


Malam sebelum Tiara pulang ke rumah. Aku merenung di depan halaman. Gemercik air kolam ikan depan rumah melantunkan melody kerinduan. Aku teringat saat pertama kali Tiara mencium keningku.

__ADS_1


Tiara kelas 6 SD. Dia akan study tour untuk merayakan kelulusannya ke Bandung. Aku mengantarnya ke sekolah. Jam 6 pagi semua siswa harus sudah berkumpul di halaman sekolah untuk absen. Saat semua siswa diminta masuk ke dalam bus,Tiara mendekatiku.


"Kak coba nunduk sedikit" pintanya. Aku menundukkan badanku mengimbangi tinggi badannya. Saat itu Tiara memegang kedua telingaku dan mengecup pipiku,lama.


Dia melepasnya kemudian tersenyum.


"Jaga diri Kakak baik-baik. Tiara pergi dulu. Kakak jangan nakal. Jangan lirik-lirik wanita lain! Hanya aku yang boleh memiliki Kak Nicho!"


Jantungku berdebar hebat. Tiara menatap mataku tulus. Tersirat cinta yang besar untukku. Matanya begitu indah.


Dia pergi dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku yang kaget setengah mati hanya diam mematung. Saat aku tersadar Tiara telah menghilang diantara kerumunan siswa yang berebut masuk ke dalam bus.


"Kok Kakak masih ingat sih. Tiara aja lupa"


"Ssstttt.... Jangan dipotong ceritanya!"


Aku pulang ke rumah. Selama 5 hari aku mengurung di kamar. Bapak dan Ibu sempat panik,karena aku hanya keluar kamar saat waktu sholat tiba. Aku sama sekali tidak berselera makan. Aku merasa sepi tanpa kehadirannya. Hatiku terasa kosong.


Jaga diri Kakak baik-baik. Tiara pergi dulu. Kakak jangan nakal. Jangan lirik-lirik wanita lain! Hanya aku yang boleh memiliki Kak Nicho!


Suara Tiara terus bergema di telingaku. Setiap aku melangkah. Suara itu terus-terusan datang. Aku benar-benar seperti orang gila. Saat itu aku menyadari bahwa aku telah jatuhcinta untuk pertama kalinya.


Rasa cinta yang kumiliki bukan hanya sebatas kakak dan adik semata melainkan hasrat untuk memilikinya seutuhnya.


Hingga sampai aku berumur 23 tahun,aku menemukan jalan buntu. Aku menyerah. Aku memutuskan untuk melupakan Tiara. Sebab semakin aku berusaha untuk mengungkap kebenaran tentang orangtuaku hanya kebuntuan yang aku dapatkan. Aku sama sekali tidak mempunyai petunjuk.


Saat itu ada beberapa teman kuliahku yang menyatakan cinta kepadaku. Tepat 1 hari sebelum Tiara pulang ke rumah. Salah satu diantara mereka adalah Azizah Putri Wulandari. Gadis cantik,anak Sastra. Sifatnya hampir mirip Tiara. Dia pendiam tapi manja saat sudah merasa nyaman. Dia terlalu jujur bahkan kejujurannya membuatnya terlihat bodoh. Aku sedikit tertarik. Mungkin belajar membuka hati untuknya bisa menghapus rasa cintaku untuk Tiara.


Aku berniat untuk menerima cintanya. Saat acara syukuran ulang tahun Tiara sore hari aku akan menjemputnya.


Aku tahu sejak awal MOS dia sudah menaruh hati kepadaku. Aku ingin menghargai cintanya dengan mengajaknya bertunangan sebagai bukti keseriusanku.


Hari Senin yang aku tunggu tiba.


Aku baru saja pulang dari pasar. Ibu menyuruhku untuk belanja bahan-bahan syukuran. Sore itu jam 3 sore. Aku sampai rumah. Aku melihat sosok wanita yang aku rindukan sedang tersenyum-senyum sendiri.


Aku mendekatinya.


"Aduuhh... Tuan Putri Ara sedang apa nih kok senyum sendiri?" aku menowel pipinya lalu duduk di sampingnya.


"Ihhhh.... Kak Nicho ngagetin tauuu....." dia memonyongkan bibirnya. Aku semakin gemas ingin mencium bibirnya yang kecil nan tebal itu. Tapi aku urungkan. Aku sadar diri cinta ini adalah kesalahan.


"Kak Nicho kado apa untuk calon istri Kakak? Kan hari ini calon istri Kakak ulang tahun?" tanya Tiara dengan wajah berbinar-binar.

__ADS_1


Dia tersenyum manis kepadaku.


Aku sangat malu. Kata-katanya tepat menusuk di jantung hati.


Aku... akuu... sangat mencintaimu,Tiara.


Akuuu... ingin memilikimu sepenuhnya.


Aku tidak bisa menggantikan posisimu dihatiku dengan yang lainnya.


Aku sangat malu kepada diriku sendiri. Wajahku kaku. Sepertinya wajahku sudah semerah tomat. Aku harus kuat. Dengan getaran jiwa yang tertahan,aku memberanikan diri untuk menepis rasa ini.


"Aa...apaan sih Dek? Calon istri mana?" ucapku gugup.


"Iyakan Mutiara Sari calon istri Kakak. Kan adek udah bilang dari dulu kalau nanti adek gedhe mau nikah sama kakak. Kan kakak juga janji,iya. Gimana sih Kak. Janjikan kan harus ditepati" dia merajuk.


Dengan berat hati aku harus membuang jauh-jauh rasa cinta ini. Aku harus mengatakannya. Harus!


"Nihh Kak Nicho kasih tau ya. Kakak emang sayang adek tapi hanya sebatas kakak dan adek. Kan ga boleh kalau kakak dan adek itu menikah. Masa Ara ga tau. Kan Ara udah gede,sekarang aja udah 20tahun umurnya"


Ku lihat raut wajah Tiara yang sejak tadi berbinar-binar berubah menjadi awan mendung yang siap turun hujan saat hempasan angin datang.


Dengan amarah yang tertahan Tiara berteriak ," Kak Nicho jahat!!!"


Tiara lari menuju kamarnya. Saat itu aku langsung mengejarnya. Sial!! Pintu kamarnya terkunci. Aku menggendor-gedor pintu kamarnya. Berharap Tiara mau membuka pintunya.


"Tiara,ijinkan Kakak masuk. Kakak ingin bicara sama kamu" aku sudah tidak sanggup untuk menahan air mata di pelupuk mataku.


Tiara tidak bergeming. Tanpa jawaban dan hanya isak suara yang terdengar dari luar kamar.


Aku berusaha tegar,aku kembali berkata,"Tiara dengarkan Kakak. Kakak akan tunangan dengan kating kamu. Azizah Putri Wulandari. Kamu kenalkan?!"


Air mataku tumpah tak terbendungkan. Maaf dengan berat hati aku harus membohongimu. Aku sangat mencintaimu Tiara. Sangat. Tapi kebenaran yang aku cari selama ini hanya berbuah sia-sia. Aku sama sekali tidak ingin memberimu harapan palsu. Aku ingin kamu berbahagia dengan yang lain. Meski hati kita saling mencintai tapi cukup sebagai saudara saja.


"Maafkan aku Tiara" ucapku lirih namun masih bisa terdengar jelas ke dalam kamar. Aku mengetuk pintu Tiara berkali-kali. Rasa sakit yang teramat dalam membuat tubuhku seperti kehilangan tulang untuk berdiri tegak. Aku terduduk di depan pintu kamar Tiara. Aku menangis tergugu.


Aku sama sekali tidak menyadari jika Bapak dan Ibu mendengarkan kami bertengkar.


Isak tangis yang sejak tadi terdengar dari dalam kamar mendadak senyap. Aku sangat khawatir. Aku mengetuk pintu kamar Tiara berkali-kali. Aku memohon untuk dibukakan pintunya. Aku takut jika Tiara mengambil jalan pintas.


Saat itu tangan hangat menepuk pundakku. Memintaku berdiri.


Dengan lembut Ibu berkata,"Biar Ibu yang bicara ya. Kamu tenangkan dirimu!"

__ADS_1


Aku mengangguk. Dengan langkah gontai,aku menuju kamarku yang terletak bersebelahan dengan kamar Tiara. Air mataku telah habis. Rasa sakit di dadaku semakin mencengkeram kuat di sana.


__ADS_2