I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
NYAWA DIBAYAR DENGAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Seberapa terkenalnya Kak Nicho di luaran sana aku tidak mau ambil pusing. Seperti kata Kak Nicho yang terpenting Kak Nicho mencintaiku. Dan aku percaya Kak Nicho.


Terkadang menutup telinga itu memang berat. Tapi untuk apa memusingkan cibiran orang yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang hidup yang aku alami.


Semua jalan Tuhan itu itu indah meskipun penuh misteri. Bayangkan saja jika hidup manusia lurus-lurus saja tanpa adanya hambatan. Tentunya manusia tidak akan tahu letak kesalahannya di mana? Tentunya manusia tidak bisa menjadi lebih dewasa ke depannya. Dan satu hal yang pasti tentunya manusia akan bosan.


Tapi hambatan terus tanpa adanya jalan terang akan membuat manusia patah semangat. Semua seimbang dengan ketentuan Takdir Tuhan.


"Hayoo lagi mikirin apa ?"


"Ihh Kak Nicho ngagetin Tiara deh! "


Aku bersyukur Kak Nicho cepat pulih. Karena urusan pembangunan Ritel di Semarang,Kak Nicho melanjutkan perawatan di sini. Ia tetap bekerja di dalam kamar perawatan.


Sudah seminggu Kak Nicho dirawat. Hingga aku lupa bahwa ada nyawa yang telah memberikan kehidupan untuk Kak Nicho yang kini masih terbaring belum sadarkan diri.


"Kak,bulan depan jadi akad kan?"


"In syaaAllah sayang. Semoga dipermudah jalannya"


Aku mengelus puncak kepala Kak Nicho.


"Ehmm... Apa masih sakit Kak? Ahh maksud Tiara Sakit sekali ya?!"


"Enggak sayang. Asal kamu di sampingku rasa sakit ini ga ada rasanya lagi"


"Tiara serius!"


"Kakak juga"


Kak Nicho mencium puncak kepalaku. Aku membalasnya dengan memeluknya erat.


"Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikum salam" Jawab kami berbarengan.


Mom dan Dad datang. Bapak dan Ibu juga. Tinggal 3 minggu lagi kami akan melaksanakan akad pernikahan. Aku merasa tidak ada acara pingit seperti ritual orang jawa. Karena sebelum kami resmi menikahpun sudah sering bersama.


"Gimana kabar kamu sayang?" Mom memeluk Kak Nicho. Aku senang sekali Kak Nicho benar-benar sudah memaafkan Mom dan Dad.


"Sudah baikan Mom. Jangan khawatir" Mata biru Kak Nicho berbinar-binar. Kebersamaan seperti ini sangat aku rindukan. Berkumpul seperti yang sudah-sudah.


"Sayang,hari ini Madam Chistin akan datang. Gaun pengantin nya sudah jadi"


"Mom,seadanya juga tidak apa-apa. Mom sudah bantu kami pesankan baju saja kami sudah sangat berterimakasih"


"Jangan begitu. Acara pernikahan kan seumur hidup sekali jadi harus berkesan. Kalian akan menjadi Ratu dan Raja meskipun hanya satu hari"


Kali ini Dad yang angkat bicara.


"Betul pernikahan adalah moment yang sangat penting. Harus diabadikan supaya nantinya kalian ingat sumpah dan janji untuk sehidup sehati"


Bapak mengelus puncak kepalaku.


Aku mencuri pandang ke arah Kak Nicho. Ia mengerlingkan matanya.

__ADS_1


Genit sekali calon suamiku ini,membuatku ingin memasukkanya ke dalam kantong.


Tok... Tok...


"Permisi"


Semua mata memandang ke arah pintu. Rasanya keluargaku sudah komplit di sini lalu siapakah gerangan ia?


Sesaat aku teringat suara berat seorang pria seumuran Bapak yang membuatku pingsan beberapa waktu lalu.


Jangan-jangan ia adalah ayah dari Putri. Seketika itu perasaan takut menghinggapi jiwaku. Aku takut Putri berniat memisahkan kami.


Aku berjalan duduk di samping Kak Nicho. Saat ini kami duduk satu ranjang.


Karena permintaan Dad,ruang rawat Kak Nicho bukan lagi seperti ruang rawat pada umumnya. Bahkan bisa di bilang ini semacam apartemen di dalam rumah sakit.


Bukan blankar sempit seperti sebelumnya kini sudah tersedia ranjang springbed. Terdapat TV LED ukuran 24 inci yang menempel di dinding. Terdapat dapur lengkap dengan kompor tanam dan kulkas. Wahh baru kali ini aku melihat fasilitas ruang inap yang sangat fantastik.


Terlebih lagi di samping ranjang tidur terdapat satu set meja kerja lengkap dengan rak buku di sampingnya.


Jangan lupakan ruang tunggu pasien yang bisa dibilang ini adalah ruang tamu. Satu set soffa letter L terpampang indah di samping kanan ranjang.


Entahlah berapa biaya rawat inapnya,aku tidak ingin menanyakannya. Aku takut syok melihat tagihan untuk perawatan Kak Nicho. Jika kami masih hidup di jaman sederhana saat itu mungkin kami bisa kehilangan tempat tinggal hanya untuk membayarnya.


"Iya Silahkan masuk"


Ibu membukakan pintu.


Aku sangat terkejut. Benar pria dewasa itu adalah Ayah Putri. Aku genggam erat tangan Kak Nicho.


Kak Nicho melirikku.


"Maaf mengganggu acara kalian. Saya adalah Ayah Putri yang telah mendonorkan darah untuk Putra Anda. Langsung saja. Saya berniat untuk meminta pertanggungjawaban kepada Anda"


Ayah Putri menatap kami satu persatu.


"Saya rasa ucapan terimakasih tidak akan mampu untuk membalasnya tapi saya sebagai Ayah Nicho tetap mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Putri Anda"


Dad membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Seperti yang saya katakan tadi bahwa saya meminta pertanggungjawaban. Sebab anak saya dalam keadaan kritis. Dan saya baru mengetahui bahwa pria yang telah ia selamatkan ini adalah pria yang sangat berarti untuk anak saya. Oleh sebab itu,saya meminta untuk menikahi Putri saya setelah ia siuman"


Dadaku teramat sakit mendengarnya. Aku rasa Kak Nicho merasakan hal yang sama.


Tidak cukupkah ujian ini datang untuk menguji cinta kami? Mungkinkah kami akan berpisah kembali setelah kami mengetahui perasaan kami masing-masing. Oh Tuhan tolonglah hambaMu ini. Tiara mohon kepadaMu!


"Saya sangat berterimakasih kepada Putri,Pak. Apalagi dia adalah teman kuliah saya. Akan tetapi permintaan untuk menikahi Putri,saya tidak bisa sebab. Saya telah memiliki calon pengantin" Kak Nicho berusaha membela.


"Aku sudah mendengarnya tadi. Tapi apakah itu balasanmu untuk jiwa yang telah memberimu kehidupan? Ia mengorbankan dirinya tanpa peduli nyawanya diambang kematian"


"Hiks,Beliau benar Kak. Putri telah mengorbankan jiwanya untuk Kakak hiks"


Aku tak mampu membendung air mata yang jatuh di pipiku. Seandainya aku ada di sana saat itu dan darahku sama dengan Kak Nicho,aku pasti mengorbankan diriku demi dirinya. Tanpa peduli nyawaku akan diambil oleh Tuhan. Semua akan ku lakukan demi keselamatan Kak Nicho.


Tapi bagi diriku yang tidak membantu sama sekali haruskah aku melepas Kak Nicho untuk Putri ?!

__ADS_1


"Maaf Pak. Bulan depan kami akan menikah. Undanganpun sudah kami sebar. Mana mungkin saya akan membatalkan pernukahan ini. Apalagi dia adalah satu-satunya wanita yang saya cintai"


Kak Nicho memberi penjelasan walau semua itu sia-sia. Ku lihat Ayah Putri bersikeras.


"Bukan maksud saya untuk ikut campur. Nicho sudah melamar anak saya. Dan keduanya juga telah bertunangan. Pernikahan ini bukan hanya main-main Pak. Jadi tolong kami meminta balasan yang lain. Maaf jika saya kurang sopan. Mungkin Anda bisa meminta balasan berupa materi" Bapak ikut andil membela kami.


Mungkin benar bahwa cinta tak harus memiliki. Saat manusia melepaskan seseorang yang sangat ia cintai untuk oranglain,bukankah ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Tapi sanggupkah aku untuk bertahan tanpa cinta Kak Nicho?!


Aku sangat khawatir nyawa Putri. "Putri ku mohon bangunlah. Aku rela memberimu segalanya asalkan jangan cinta Kak Nicho yang kamu minta" Rintihku dalam hati.


"Jadi Anda sekalian berpikir bahwa nyawa anak saya senilai uang,rumah atau yang lainnya? Nyawa anak saya lebih berharga dari apapun! Tolong jangan buat saya murka!"


Wajah Ayah Putri merah padam.


Aku tahu ia sebagai Ayah pasti sangat marah. Nyawa manusia tidak bisa ditukar dengan apapun.


Haruskah aku mengikhlaskan Kak Nicho?!


"Bukan maksud saya begitu Pak. Tapi tolong mengertilah posisi kami!"


Kulihat Dad menyugar rambutnya. Beliau pasti sangat frustasi di kondisi ini.


Kak Nicho bahkan tidak bisa berucap apa-apa. Mom dan Ibu hanya diam. Jawabannya hanya ada di aku. Jika aku melepaskan Kak Nicho,aku yakin Kak Nicho tidak akan berbuat apa-apa kecuali mengiyakan.


Tapi apakah aku akan menjadi wanita bodoh yang membiarkan calon suamiku direbut dengan jalan paksa meskipun aku tahu pengorbanan Putri begitu luar biasa.


"Pak maaf sebelumnya. Tapi saya mohon untuk menanyakan ini kepada Putri nantinya jika ia telah siuman!"


"Kamu pikir aku tidak berpikiran begitu haaah?! Aku sudah menunggu anak itu sadar tapi ia sadar hanya sesaat. Ia selalu saja menanyakan Nicho saat terbangun. Kamu anak ingusan yang tidak tahu seperti apa sedihnya aku sebagai orangtua?!"


Nyaliku sungguh menciut saat Ayah Putri membentakku.


"Baiklah. Aku minta kamu untuk berpura-pura menjadi kekasih Putri agar ia terbangun dari tidurnya. Bagaimanapun kamu mempunyai hutang nyawa dengan anak saya!"


Braakk


Pintu dibanting keras oleh Ayah Putri. Ia keluar dalam keadaan sangat marah.


Kami semua hanya bisa saling pandang dalam keadaan ini.


Hatiku hancur. Aku tak bisa membayangkan akan bagaimana jadinya jika hidupku tanpa Kak Nicho.


"Kenapa Engkau tega berbuat ini kepada Tiara,Tuhan?!" Aku berteriak di dalam isak tangis.


Kak Nicho memelukku erat.


"Aku enggak mau berpisah dengan Kak Nicho lagi,ku mohon jangan ambil dia hu... huhu..." Tangisku kian kencang.


"Kakak kenapa begitu ceroboh hingga bisa kecelakaan begini? Harusnya Kakak tolak kerjasama dari Putri!" Aku bahkan kesulitan untuk bernafas karena tangisku.


"Sstttt.... Aku di sini sayang. Aku mencintaimu. Tidak ada yang akan pisahkan kita. Percayalah!"


Kak Nicho membiarkanku menangis dalam pelukannya. Aku bisa pastikan baju kakak basah oleh air mataku. Tidak hanya air mata saja bahkan ingusku telah membasahi bajunya.


Kedua orang tua kami sibuk dengan pikirannya masing-masing. Duduk di soffa tanpa bicara apapun.

__ADS_1


Ku lihat Bapak keluar ruangan. Entah apa yang akan Bapak lakukan?!


__ADS_2