
Aku membuka mata.
Astaga! Bagaimana bisa aku tertidur saat Kak Nicho bercerita. Bukankah sangat keterlaluan tertidur saat orang lain sedang bercerita serius.
Kak Nicho pasti sangat marah. Aduuhh bagaimana ini?
Aku mengambil handphone di nakas samping ranjang. Sudah jam 10 malam. Itu berarti aku sudah ketiduran sekitar 5 jam an.
Oh my god!!!
Tunggu dulu,bukankah seharusnya semakin malam,suasana rumah ini sepi tapi entah mengapa justru terdengar gelak tawa yang meriah dari ruang keluarga. Itu bukan acara televisi.
Aku menepuk jidatku sendiri.
"Astaga Tiara,bisa-bisanya kamu lupa! Bukankah Bapak Ibu dan Ayah Bunda tadi mengajak makan bersama"
Aku turun dari ranjang,bergegas menuju ruang keluarga tanpa memperhatikan penampilanku yang acak-acakan.
"Hahaa... Hahahaaa"
Gelak tawa masih terdengar bersautan,semakin dekat semakin nyata. Ternyata mereka sedang menonton youtuber terkocak yang lagi viral. Dengan mengusung aktris nenek-nenek gokil. Siapa lagi kalau bukan youtuber ucup klaten.
"Hay cantik" sapa seorang pria tampan bermata biru sedang mengerlingkan matanya,jahil. Seketika itu tawa mereka berhenti sesaat lalu kembali tertawa kembali.
"Haaahaaaaa.... Hahaha..."
"Aduh Nic,kamu lagi crita masa lalu apa lagi ndongengin istri? " Tanya Pak Adiputra yang disambut tawa seisi rumah.
"Nic,makanya kalau lagi cerita serius pasang wajah es mu" timpal Bapak yang masih tertawa sambil mengelap air mata kebahagiaan yang jatuh.
Tanpa sadar aku ditarik Kak Nicho dan duduk di sebelahnya.
"Udah dong Yah,nanti menantu kita ga nyaman. Ya kan sayang?" wanita bule cantik itu adalah calon mertuaku. Aku tersenyum ke arahnya.
"Gapapa mom,biarin aja. Bikin ngambek lagi seru tau mom" kali ini Kak Nicho yang meledekku. Aku mencubit perutnya,dia meringis kesakitan.
__ADS_1
"Gapapa sayang,lagipula masalah itu sudah menjadi masa lalu yang terpenting sekarang kamu fokus saja dengan tugasmu nanti yang akan menjadi seorang istri" Ibu berusaha menenangkanku.
Ibu memang selalu tahu dengan kegundahanku. Meskipun sudah sering aku menyakitinya tapi entah terbuat dari apa hatinya,beliau begitu tulus kepadaku.
Kedua pasangan orang tua dihadapanku ini sedang tertawa kembali dengan adegan Mbah Minto.
Tampak Ibu sudah agak mengantuk dan wajah lelah tergambar jelas,Bapak sangat pengertian. Keduanya pamit menuju kamar untuk istirahat. Disusul Ayah dan Bunda Kak Nicho juga pergi untuk beristirahat. Tinggallah kami berdua.
Dari lantai 2 Pak Adiputra berkata,"Boy buatin kami cucu ya!"
Tanpa ragu-ragu Kak Nicho menjawab seraya mengacungkan jempolnya tanda setuju,"Yes,Dad"
Pak Adiputra mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum bahagia. Beliau menuju kamar menyusul Bunda.
Kak Nicho merentangkan tangan kirinya di belakang soffa. Tangan kanannya merengkuh pingganggku. Jarak kami sangat dekat. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungku. Terlebih lagi tadi aku melakukan kesalahan di saat Kak Nicho serius bercerita. Tatap matanya sangat nakal. Aku berusaha untuk bangkit tapi tertahan. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Ka-akk" Panggilku terbata-bata. Tanpa sepatah kata jawaban keluar dari mulutnya.
"Nic,kalau mau nyicil jangan berisik ya!" terdengar suara dari lantai 2.
"Geh Pak!" Jawabnya sambil menahan rasa sakit di dagunya.
"Ish... Bapak kie pripun? Orang belum halal yo!" jawab Ibu yang ternyata sedang mengambil minum dari dapur.
Bukannya menjawab,Bapak justru tersenyum jahil kearah kami.
Aku hendak berlari mendekati Ibu tapi tanganku sudah dicekal olehnya.
"Bu,Tiara boleh kan tidur sama Ibu malam ini? Tiara kangen!" pintaku penuh harap. Aku merinding ketakutan,mengingat Kak Nicho sudah dapat restu dari kedua orangtua kami.
"Bapak juga kangen sama Ibumu,Ra. Semalam saja tanpa Ibumu di sampingku rasanya hampa!"
Bagai petir di siang bolong,aku mendengar kata romantis dari Bapak. Sial,aku benar-benar tidak bisa kabur dari singa mesum malam ini.
"Bapak niku nopo kok ganjen tenan!" Jawab ibu sambil menaiki tangga.
__ADS_1
Bapak justru memberi kode kepada Kak Nicho. Aku mengerjapkan mata tidak percaya. Bagaimana Bapak yang dulu aku kenal sebagai sosok yang sangat menjaga martabat wanita bisa bersikap begitu di depan kami? Seolah aku ini sudah menjadi istri sah Kak Nicho.
Kak Nicho menarik tanganku sehingga aku terduduk di sofa.
"Kita udah dapat restu dari kedua orangtua kita. Gimana kalau kita mulai pemanasan di sini dulu"
Wajahku memerah,bisa-bisanya Kak Nicho mengucap kata porno begitu tanpa adanya rasa malu. Benarkah dia Kak Nicho yang aku kenal?
Detak jantungku semakin tak karuan terlebih lagi wajah tampannya yang dihadapanku ini terlihat semakin tampan dari hari ke hari. Di tambah lagi mata birunya yang menawan dan jangan lupakan bibir tipisnya itu. Siapapun pasti ingin diciumnya.
Badan Kak Nicho juga lebih sexy dengan sixpack di tubuhnya. Meskipun aku belum pernah melihatnya tapi sudah tergambar jelas dari otot lengan dan leher yang tampak menonjol dan kekar.
Ahhh... kali ini aku benar-benar gila. Tanpa sadar aku menggelengkan kepala berkali-kali. Aku berusaha menepis pikiran kotorku. Saat aku tersadar,Kak Nicho tersenyum licik ke arahku. Sepertinya dia tahu perang batin dalam jiwaku.
Deg...deg...deg...deg...
"Ehmm.... Kak,Tiara lagi datang bulan. Ehmm... Tiara gitu kalau kecapekan karena PMS suka ketiduran. Maaf ya!" Aku menunduk.
Tak sanggup aku melihat wajah tampannya. Sebab godaan ini semakin dahsyat meski hanya melihat tatapan matanya.
Suasanya sunyi hanya kemercik air dari air terjun kolam renang yang menimbulkan suara. Kak Nicho tampak berpikir. Lalu mendongakkan daguku ke atas. Dicermatinya mataku. Aku gemetar,gugup. Sepertinya kebohonganku akan terungkap.
"Ck,anak gadis pinter bohong ya sekarang!"
"Kakak apaan sih. Mana ada Tiara bohong. Kakak aja yang negatif thinking sama aku. Tiara ngantuk"
Aku meninggalkan Kak Nicho di soffa sendirian. Aku pikir dia tidak mengikutiku ternyata aku salah sangka. Saat aku hendak menutup pintu,tangannya menahan agar aku tidak bisa menutupnya.
"Kak,kumohon" pintaku memelas.
"Aku akan pelan-pelan sayang"
Saat Kak Nicho lengah,aku segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
Terdengar suara ketokan beberapa kali dan panggilan namaku. Bisa gawat jika kedua orangtua kami mendengar. Semoga saja keduanya sudah beristirahat,batinku berdoa. Lambat laun sepertinya Kak Nicho menyerah. Aku bisa beristirahat tenang malam ini.
__ADS_1