
Kami tiba di depan sebuah rumah modern split level. Kami keluar dari mobil. Kak Nicho menggandeng tanganku. Terdapat tujuh anak tangga untuk masuk ke dalam rumah. Tiba di anak tangga teratas terdapat 2 buah kursi teras rotan coklat beserta meja bulat. Warnanya senada dengan dekorasi dinding kayu di belakangnya. Saat memasuki ruang tamu terdapat sofa leter L berwarna abu tua. Ukuran ruangnya sekitar 3x3.5 m. Terdapat coffee table berwarna kayu. Di belakang tembok tergantung beberapa pigura cantik.
Aku terpaku di pintu masuk rumah ini.
"Ayo masuk. Kamu mau berdiri di situ terus?" Kak Nicho mengulurkan tangannya.
"Ahhh... ini rumah siapa Kak?"
"Tadi yang minta punya rumah siapa ya?" tanyanya balik.
Aku mengerjapkan mataku. Jangan bilang kalau Kak Nicho membeli rumah ini karena tadi aku bilang tidak mau tinggal di apartemen Kak Nicho yang sempit.
Ohh... My... Ini benar-benar di luar dugaan!
"Ya udah yuk masuk. Aku laper nih!" Kak Nicho menarik tanganku.
Dia berjalan masuk menuju dapur yang bersebelahan dengan ruang keluarga tanpa sekat. Di samping luar terdapat ruang makan outdoor dengan view langsung ke arah kolam renang lengkap dengan gemercik air dari suara air terjun.
Aku terpaku dengan pemandangan indah rumah ini. Sepertinya Kak Nicho semakin tidak waras memberiku segalanya hanya dengan sepatah kata yang tanpa sadar aku ucapkan. Giillaa....
Aku memang memimpikan rumah dengan kolam renang dan air terjunnya. Tapi haruskah Kak Nicho menuruti mimpiku sedang kami belum mempunyai ikatan resmi?
Aku berjalan menuju kolam renang. Suara gemercik air terjun buatannya menambah suasana romantis. Di tambah lagi kerlap kerlip bintang di langit yang syahdu.
"Ra... Ehmm... sayang!" Kak Nicho memanggilku. Aku menoleh.
"Aku laper! Masakin dong!" Kak Nicho mengelus perutnya.
Bibirnya mengerucut. Wajahnya sangat menggemaskan. Ingin sekali aku mencubit pipinya itu.
Aku menghampirinya yang sedang berdiri di depan meja bar. Aku langsung membuka kulkas yang menjadi satu dengan kitchen set.
Waahhh..... isi kulkasnya penuh sekali. Ahhh... benar-benar harga dirinya tinggi. Mentang-mentang kemarin aku meledek kulkasnya yang kosong,kini kulkas barunya terisi penuh.
Aku menoleh ke arahnya.
"Kakak ga sedang sakitkan?" Aku menempelkan telapak tanganku di keningnya.
Tangannya menepisnya. Dia membuang muka ke arah yang lain. Sepertinya Kak Nicho sedang sakit. Aku menatap dalam ke arahnya.
__ADS_1
"Apa???" tanyanya,dia salah tingkah sendiri.
"Kakak mau aku masakin bubur? Sepertinya Kak Nicho sedang sakit?!"
"ENGGAK!" jawabnya pendek. Kak Nicho duduk di kursi makan depan meja bar yang menyambung dengan kitchen set.
"Yaudah nasi goreng aja ya. Tiara ga bisa masak nih"
Wooww... yang benar saja di magiccom sudah tersedia nasi putih. Entah siapa ya masak? Lupakan itu tidak penting. Aku harus segera memasak. Kak Nicho pasti sudah sangat lapar.
Sepiring nasi goreng seafood telah tersaji. Kak Nicho menatap lapar nasi goreng buatanku. Senyumnya merekah. Diambilnya satu sendok makan lalu mencicipinya.
Ibu jari tangan kirinya mengacung. Mantap begitu maksudnya. Dia memakan lahap nasi goreng seafoodnya tanpa tersisa sedikitpun.
Kami menghabiskan malam di rumah baru Kak Nicho. Sebenarnya ada beberapa kamar di rumah ini tapi Kak Nicho ngotot mengajakku sekamar dengannya. Kamar dengan view langsung ke arah kolam renang dan air terjun.
Aku menyukai air. Sebanyak apapun masalah hidup ini dengan suara gemercik air yang mengalir,membuatku tenang.
*****
Pagi harinya.
Aku mandi. Lalu membuat sarapan untuk kami berdua. Masih ada nasi sisa kemarin. Sayang jika harus dibuang. Aku membuatnya nasi goreng lagi. Kali ini aku menambahkan beberapa beberapa sendok daging sapi kalengan. sarapan pagi sudah tersedia kini saatnya aku membangunkan Kak Nicho.
"Kak bangun!" aku mengguncangkan pundaknya beberapa kali.
"Ehmm..."
"Kak,Tiara tinggal nih kalau ga mau bangun!"
"Bentar sayang. Masih ngantuk" suaranya serak khas orang bangun tidur. Kak Nicho menarik selimutnya ke atas menutupi badannya.
Tidak ada pilihan lain.
Aku mencium pipi Kak Nicho . Kak Nicho membelalakkan matanya. Dia menarik tanganku. Aku terjatuh di atas tubuhnya.
Sial! Aku sudah membangunkan singa mesum !
"Kak,udah siang nih nanti Tiara terlambat. Nasi gorengnya juga keburu dingin ga enak!" aku meronta-ronta hendak bangun dari dekapan tubuhnya.
__ADS_1
Dia berbisik lirih.
"Sebentar saja seperti ini" Detak jantungku berdebar sangat kencang.
Aku mencubit perut Kak Nicho. Kak Nicho meringis kesakitan. Aku segera bangun dan pergi dari hadapannya.
"Kakak buruan mandi. Mesum di pagi hari itu bikin rejeki seret!" ucapku saat aku sudah sampai di pintu kamar.
Sesaat setelah itu Kak Nicho sudah rapi lengkap dengan setelan jas yang berwarna tosca. Warnanya sepaket dengan setelan blus yang aku kenakan hari ini. Aku menggelengkan kepala tidak percaya dengan kelakuan kekanak-kanakannya. Mungkinkah selama lima tahun perpisahan kami membuatnya menjadi begitu posesif. Sehingga sedikitpun tidak ingin berpisah denganku.
Bukankah kami sudah layak untuk mengikat hubungan ini ke dalam hubungan yang lebih serius?
Pernikahan.
Bukankah kami saling mencintai. Bukankah kami saling membutuhkan.
Dan saat kemarin aku bertemu dengan Presdir,beliau tidak menunjukkan keberatan dengan hubungan kami? Mungkinkah aku akan merasakan kebahagiaan seperti yang oranglain rasakan dengan adanya ikatan pernikahan itu?
Apakah cukup pernikahan hanya berlandaskan cinta saja? Pengorbanan selama ini akankah cukup untuk membuat kami bahagia bersama?
Kehilangan Kak Nicho adalah alasanku melupakan sebuah kata yang bernama "Pernikahan". Kini saat kami bersama kembali,akankah aku siap dengan pernikahan?
Adakah keinginanan di hatinya untuk mengajakku menikah?
Beribu-ibu pertanyaan menari-nari di pikiranku. Bisakah aku melewati setiap badai yang menempa hubungan ini?
Bisakah kami bertahan jika Tuhan menghadirkan orang ketiga dalam hubungan kami? Sanggupkah aku bertahan dan percaya sepenuhnya kepadanya?
Umurku sudah 25 tahun. Umur yang sangat cukup untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. Bisakah aku merasakan kebahagian ini selamanya? Bisakah aku merasakan kesempatan memiliki keluarga kecil seutuhnya?
Ibu... Bapak....Tiara sangat merindukan kalian. Sanggupkah Tiara membentuk keluarga hangat seperti kalian?
Tanpa sengaja aku meneteskan air mata. Aku yakin Kak Nicho mencintaiku tapi aku tidak yakin Kak Nicho akan menikahiku. Dia begitu jauh dan sulit untuk kurengkuh. Dinding pembatas berdiri kokoh di sana.
Kak Nicho mengusap air mata yang jatuh di pipiku. Wajahnya terlihat khawatir.
"Kamu kenapa sayang?"
"Aku kangen Bapak dan Ibu,Kak!" air mataku mengalir deras tanpa permisi.
__ADS_1
"Aku tau" Kak Nicho kembali memfokuskan pandangannyan ke arah jalan.