
"Ra,kan sebelumnya aku udah bilang hati-hati. Kamu nglakuin kesalahan apa?! Tiara kenapa Kak?" Sela bertanya.
Kak Nicho menghela nafas panjang.
Laporan dana yang beberapa hari kemarin aku kerjakan dengan Kak Nicho ternyata jebakan yang sengaja Mba Dellis buat untukku. Mba Dellis berniat menjauhkan kami dengan tuduhan itu dengan begitu aku bisa ditendang keluar dari kantor.
File yang aku kirim sengaja diubah Mba Dellis. Padahal sebelumnya sudah kami teliti dengan cermat dan tidak ada satupun kekeliruan. Aku tidak punya bukti tapi Kak Nicho mempunyai file duplikat yang asli.
Untuk mengatasi kekacuan ini,aku dituntut untuk membuktikan kebenarannya. Tentu saja Kak Nicho marah saat aku harus tetap bekerja dalam kondisi yang masih lemah.
"Gue ga habis pikir,Dellis tega banget fitnah temen gue!" gerutu Nina.
"Yaa... namanya juga cemburu Nin. Siapa sih yang rela Kak Nicho yang selaku Manager kantor berpacaran dengan office girl? Mereka yang satu tingkat diatas kami,merasa lebih pantas ndapetin Kak Nicho" jawab Sela.
"Ya ga gitu juga. Aku yang ngefans sama Kak Nicho rela-rela aja kok Kak Nicho pacaran sama Tiara. Bagiku status pekerjaan itu ga penting!" jawab Nina tidak mau kalah.
"Ya itukan elo. Bukan Dellis. Lo cuman ngefans kalau Dellis cinta mati" jawab Sela tidak mau kalah.
Kak Nicho hanya terdiam mendengar Nina dan Sela membicarakannya. Sudah menjadi rahasia umum jika Mba Dellis menyukai Kak Nicho dan beberapa karyawan kantor yang lain. Mereka jelas-jelas menunjukkan perhatiannya.
"Udah ihhh.... gapapa kok" aku berusaha menengahi mereka berdua.
"Kak,bukannya tadi kata Kakak,Kakak punya file asli. Apa itu ga bisa untuk jadi bukti" tanya Mas Seto.
"Bisa. Sebenarnya juga bukti file asli yang aku punyai sudah cukup untuk jadi bukti tapi Daniel sebagai CEO harus mengambil jalan tengah tanpa harus memihak di kedua pihak. Harusnya Dellis ga nekat sampai mengajukan tuntutan. Sebab bukti sudah ada sama aku. Kita lihat saja nanti sampai dimana keberanian Dellis? Daniel ga bisa juga memihak Dellis hanya karena dia ponakannya. Apalagi aku di sini bisa dibilang sebagai orang luar" Kak Nicho menjelaskan.
"Orang luar gimana Kak? Lah bukannya kalian berdua yang ngerjain kok orang luar sih?" Mas Seto kebingungan.
"Ya kan yang disuruh itu Tiara dodol! Kak Nicho hanya bantu. Untung saja Kak Nicho copy file aslinya kalau ga Tiara benar-benar ditendang keluar dari kantor kita" jawab Sela.
"Bener juga sih. Setau aku Pak Daniel itu hanya keponakan dari Presdir Adiputra. Kalau anak kandungnya ga tahu kemana?"
Mas Seto menopangkan tangan kirinya di dagu sambil berpikir keras.
Aku yang baru mendengar fakta bahwa Pak Daniel bukan putra Presdir terlonjak kaget.
"Kok lo tau sih fakta perusahaan sampai segitunya?" tanya Sela keheranan.
"Ya gituloh gue" jawab Mas Seto bangga.
__ADS_1
Kami berlima sedang berbincang di ruang keluarga sambil menonton televisi. Nina mengganti chanel tv tampak bosan.
Dalam liputan berita yang tanpa sengaja Nina temukan.
Office girl PT ADIPUTRA JAYA PERKASA memalsukan dana perusahaan sebesar 5 M. Di duga tersangka kabur dari perusahaan 3 hari yang lalu. Sekertaris Manager sebagai saksi mengatakan bahwa dirinya sudah menemukan kejanggalan deng-
Nina mematikan chanel tv.
"Sial!!!" Kak Nicho menggebrak meja.
Aku mengusap-usap punggung Kak Nicho berusaha menenangkannya. Kak Nicho menoleh ke arahku. Aku menggeleng memberi isyarat untuk tidak marah-marah kemudian tersenyum.
"Dellis!!! Awas lo besok!" ucap Nina dengan Nada mengancam.
"Sialan tu cewe!" Mas Seto dan Sela berseru kompak sembari mengepalkan tangan.
Jika bukan dalam kondisi begini aku dan Nina sudah meledek mereka berdua. Aku hanya tersenyum kecut. Mungkin ini sudah menjadi hukumanku karena 5 tahun aku pergi meninggalkan kedua orangtuaku. Anggap saja ini karma.
Aku tidak mau terlalu memusingkan nasibku. Setidaknya Kak Nicho mempunyai cukup bukti. Seharusnya Mba Dellis adalah pihak yang rugi jika berita ini sampai ke publik. Bukankah dia yang berusaha menjebakku. Tunggu dulu.... apakah ini suatu pertolongan? Bukankah dengan begini aku akan terbebas dari tuduhan.
Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Kami masih di ruang tv. Raut wajah Kak Nicho sejak mendapat telepon dari Pak Daniel muram durja. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menenangkannya. Tulang pipiku pegal sedari tadi tersenyum terus. Aku pikir dengan aku banyak tersenyum,kekhawatiran Kak Nicho akan sirna tenyata tidak.
Lama-lama aku gemas. Tidak ada cara lain selain merayunya. Aku duduk di pangkuan Kak Nicho. Aku letakkan kedua tanganku di bahu Kak Nicho,aku memeluknya. Kak Nicho hendak berbicara tapi aku lebih dulu menciumnya.
"Aku baik-baik saja Kak. Tiara udah kuat. Siap terima hukuman besok di kantor" bisikku lirih.
Kak Nicho melepas pelukanku lalu menatapku.
"Enggak! Besok kamu belum boleh ke kantor!" Kak Nicho menatapku tajam.
"Tiara udah sehat Kak. Tiara kuat kok. Kan yang ngrasain sakit bukan Kakak tapi Tiara!" jawabku setengah berteriak.
"Aku ga kasih ijin Tiara!" jawabnya tak mau kalah.
"Kamu ga tau gimana frustasinya aku lihat kamu sakit kemarin!" mata Kak Nicho bersemu merah hendak meneteskan air mata. Dengan keadaan setengah menangis Kak Nicho menceritakan kejadian saat aku pingsan.
Saat rapat dengan dewan direksi handphoneku bergetar. Terdengar nada panggilan khusus dari Tiara. Segera aku mengecek handphoneku dan benar saja.
__ADS_1
Tiara sayang calling.....
"Ya sayang kenapa?"
/Tiara sayang
"Maaf Kak Nicho ini Sela,Tiara pingsan di pantry Kak,tadi-"
Aku mematikan panggilan telpon. Seketika itu aku langsung keluar ruangan rapat. Aku tidak peduli dewan direksi menghujatku karena ketidaksopananku bagiku nyawa Tiara lebih penting. Lagipula ini perusahaanku. Siapa yang berani pecat aku.
Aku tidak memperdulikan panggilan Daniel dan Dellis. Aku segera lari menuju lantai 3. 5 menit kemudian aku sampai di pantry kebetulan lift terbuka saat aku tiba di depan lift.
Saat tiba di pantry,aku dapati Sela telah merebahkan Tiara dipangkuannya. Aku segera menggendongnya. Aku harus segera membawa ke rumah sakit.
Seperti bocah dikejar anjing,aku mengendarai mobil secepat aku bisa. Aku membawanya ke Mayapada Hospital. Begitu sampai di lobby IGD,petugas kesehatan segera membawanya ke brankar pasien untuk segera mendapatkan perawatan.
Aku memarkirkan mobilku dan segera berlari menuju IGD.
Sepanjang waktu aku menunggunya,aku hanya bisa terus berdoa. Tanganku menggenggam erat jemari tangan Tiara. Jantungku bergetar hebat,aku sangat takut kehilangan.
"Bagaimana Dok,Tiara sakit apa?" Dokter yang melihat kekhawatiranku tersenyum kemudian menjawab.
"Asam lambungnya sedang naik Pak. Sakit magh nya juga akut. Sepertinya Nona Tiara terlambat makan. Aktivitas dengan asupan gizinya kurang seimbang. Selain itu tekanan darahnya sangat rendah yaitu 80/60. Kondisi pasien akan pulih setelah beristirahat"
"Jika nanti Nona Tiara sudah siuman,segera beritahu kami agar kami periksa lebih lanjut" ucapnya seraya menepuk-nepuk pundakku,kemudian berlalu pergi dari ruangan.
"Please Ra bangun. Aku ga mau kamu kayak gini Ra" aku menciumi jemari tangan Tiara. Aku tidak bisa membendung air mata yang jatuh.
Aku menghapus air mata Kak Nicho. Aku mengerti seberapa khawatirnya dia kepadaku.
Dengan lembut aku berbisik,"Kak itu tidak akan pernah terjadi lagi. Tiara ga akan ninggalin Kakak jadi Kakak ga boleh sedih begini. Tiara sudah sehat Kak".
"Gak Ra,aku ga akan biarkan secuilpun orang lain sakiti kamu. Dia pikir dia itu siapa? Dellis,Daniel siapa mereka? Mereka ga punya hak sedikitpun untuk melukaimu!" Kak Nicho menatapku dalam.
Aku berusaha bangkit dari pangkuannya namun Kak Nicho menahannya.
"Wajar Kak,Tiara hanya bawahan. Kalau Tiara dapat hukuman sedikitkan ga masalah" aku tersenyum berusaha membuatnya tenang.
Kak Nicho berdiri. Dengan lantang Kak Nicho mengucap kata-kata yang membuat aku kaget.
__ADS_1